Jurnalis Radio Dua Tahun Nyaris Depresi Tanpa Tahu Kesalahan
Sedikit HRD Berlatar Psikologi
Praktisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Adi Sujatmika mengatakan, setiap perusahaan pasti memiliki perlakuan yang berbeda kepada karyawan, dan itu tidak bisa dilihat sebagai kebiasaan di sebuah perusahaan, karena melihat pada karakteristik saat ini.

Hal terpenting yang harus dilakukan manajemen adalah keterbukaan dengan karyawan. Hal itu menjadi harga mutlak, utamanya dalam hal upah yang didapat serta penilaian terhadap kinerja karyawan.
“Sebenarnya ada transparansi yang perlu disampaikan di awal. Utamanya soal status karyawan berserta hak dan kewajiban para pihak,” ujarnya kepada Super Radio, Selasa (8/10/2024).
Pria berkulit kuning langsat ini mengatakan, dengan penyampaian di awal secara jelas, karyawan bisa mempertimbangkan, apakah menerima tawaran tersebut atau tidak. Terlebih saat ini banyak perusahaan yang melakukan cara-cara tertentu dalam upaya “mengikat” karyawan. Misalnya dengan memberlakukan denda, menahan ijazah, pemotongan gaji dengan alasan tertentu dan beban kerja yang berlebih.
Menurutnya, jika manajemen bersikap terbuka, perusahaan akan bisa melihat tingkat kepatuhan karyawan dan bagaimana karyawan tersebut mampu memenuhi target yang sudah disepakati bersama.
Selain terbuka, Adi juga menilai perusahan harus mampu menciptakan sistem penilaian yang objektif dan tidak mengedepankan sistem suka atau tidak suka. “Jika hal tersebut tidak dilakukan perusahaan, tentu akan menganggu kesehatan mental. Ibaratnya seperti kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, tentu akan tidak baik dalam hal apapun,” ujarnya.
Persoalan lain yang terjadi di perusahaan adalah pihak manajemen, lebih suka memilih orang yang duduk di bagian Human Resources Development (HRD), tidak memiliki background psikologi, melainkan mereka yang memiliki latar belakang ilmu hukum atau manajemen. Dengan cara ini, tentu perusahaan memilih tingkat kepatuhan karyawan yang diikat melalui peraturan perusahaan dan berorientasi pada target.
Hal ini berbeda jika mereka yang berada di HRD memiliki latar belakang psikologi. Pendekatan humanis lebih dikedepankan untuk mengetahui problem yang terjadi. Dengan latar belakang pendidikan psikologi, tentu mereka memiliki kemampuan untuk melakukan analisa lebih detil terhadap kinerja dan kondisi karyawan, termasuk dengan model solusi yang akan dilakukan.
“Biasanya perusahaan yang memilih HRD dengan latar belakang psikologi, biasanya berorientasi pada pengembangan SDM,”terangnya.
Ditambahkan Dananto, pakar psikologi, kalaupun perusahaan media belum bisa menyediakan psikolog dalam jajaran HRD yang ada, setidaknya HRD punya salah seorang staff pada level middle manajemen yang terlatih dalam berkomunikasi dan menerima berbagai keluhan pekerja. “Tidak harus orang itu seorang psikolog, intinya ada divisi yang dikhususkan untuk menjaga kesehatan mental,” tuturnya.
Hal lain yang juga bisa diberikan oleh manajemen adalah ruang rekreasi sebagai tempat karyawan melepas stres sejenak dengan mendengarkan musik atau sekedar berkumpul sambil bercanda. “Tidak perlu tempat besar, tapi ada aktivitas rileks bisa olah raga tenis meja, biliard, ruang karaoke, atau main musik dan semacamnya,” cetusnya,”atau boleh juga diperluas bukan ruang rekreasi tapi sungguh sungguh kegiatan rekreasi, outbound setahun dua kali, sebagai ungkapan syukur perusahaan dan apresiasi kerja para pekerja,” pungkasnya. (tim redaksi)
Tampilkan Semua
Tags: Kesehatan mental, pekerja media, RSJ Menur, superradio, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





