Gunakan AI, YPAB Surabaya Gelar Pelatihan Digital Marketing Tunanetra

Rudy Hartono - 8 July 2026
Siswa-siswi tunanetra dari berbagai kota serius mengikuti pelatihan digital marketing oleh  Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya Jl. Gebang Keputih No. 5, Senin (6/7/2026). (foto: vico wildan/superradio.id).

SR, Surabaya – Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya secara resmi membuka pelatihan digital marketing khusus bagi siswa tunanetra guna membekali mereka dengan keterampilan vokasional di era ekonomi digital.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung YPAB, Jl. Gebang Keputih No. 5, Surabaya ini dijadwalkan berjalan selama satu pekan, mulai dari tanggal 6 hingga 11 Juli 2026. Program ini menjadi langkah nyata dalam membuka peluang karier baru bagi komunitas tunanetra agar dapat bersaing di sektor formal maupun mandiri.

Pelatihan ini menghadirkan sosok inspiratif, Muhammad Ikhwan Tariqo atau yang akrab disapa Rico seorang praktisi digital marketing tunanetra profesional asal Jakarta sebagai pemateri utama.

Simulasi Penggunaan Teknologi Asitif

Kehadiran Rico bertujuan untuk memberikan simulasi langsung dan transfer pengetahuan mengenai bagaimana teknologi asistif dapat membantu tunanetra mengelola kampanye digital secara efektif. Menurutnya, hambatan fisik bukan lagi menjadi penghalang besar dengan adanya kemajuan teknologi saat ini.

Muhammad Ikhwan Tariqo menekankan bahwa dunia digital telah menciptakan kesetaraan bagi penyandang disabilitas melalui alat bantu seperti screen reader dan kecerdasan buatan (AI).

Suana belajar-mengajar pelatihan digital marketing oleh  Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya Jl. Gebang Keputih No. 5, Senin (6/7/2026). (foto: vico wildan/superradio.id).

“Dengan digital marketing dibantu dengan teknologi aksesibilitas dan AI atau artificial intelligence, kita punya start yang setara dengan teman-teman yang memiliki penglihatan dalam melakukan kampanye,” ujar Rico saat ditemui di lokasi pelatihan, Senin (6/7/2026).

Siswa Luar Kota Antusias Belajar

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, salah satunya ditunjukkan oleh Dani Riski Ramadhani, peserta asal Jombang. Ia  rela menginap selama satu minggu di Surabaya demi mengikuti pelatihan ini secara penuh.

Dani, yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman dasar berjualan di marketplace Shopee, mengaku ingin memperdalam strategi teknis yang lebih profesional. Baginya, pelatihan ini adalah jembatan untuk membuktikan kemampuan para tunanetra kepada masyarakat luas.

Dani mengungkapkan bahwa meskipun ada tantangan teknis dalam penggunaan aplikasi, hal itu bisa diatasi dengan pembelajaran yang konsisten dan bantuan visual di tahap awal.

“Tunanetra itu hanya perlu diberi kesempatan saja, karena kalau kesempatannya enggak ada, mereka enggak bisa mencoba,” tegas Dani mengenai harapannya terhadap dunia kerja profesional ke depan. Ia berkomitmen untuk terus mengembangkan bisnisnya di Shopee setelah menyelesaikan program ini.

Tutus Setiawan selaku Koordinator Prakerja YPAB Surabaya. (foto: vico wildan/superradio.id).

Dari sisi penyelenggara, Tutus Setiawan selaku Koordinator Prakerja YPAB Surabaya menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas rendahnya serapan tenaga kerja tunanetra di sektor formal. Padahal, berdasarkan Undang-Undang Disabilitas Nomor 8 Tahun 2016, terdapat kuota 1% untuk perusahaan swasta dan 2% untuk pemerintah bagi penyandang disabilitas.

Perusahaan Swasta dan Pemerintah Langgar UU Disabilitas

Namun, realitanya banyak perusahaan yang masih ragu karena menganggap tunanetra tidak memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.

Melalui program ini, YPAB ingin memastikan bahwa alumni mereka tidak hanya menuntut hak kuota, tetapi juga memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan orang berpenglihatan dalam kerja industri.

“Ketika kita ingin mempekerjakan mereka di sektor formal, ya mereka harus punya kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Jangan sampai kita hanya meminta, tapi dari diri teman-teman tunanetra juga enggak punya skill untuk dijual, itu kan sama dengan hanya mengharapkan belas kasihan,” kata Tutus menjelaskan visi jangka panjang program tersebut.

Siapkan Program Magang bagi Tunanetra

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan intensif ini, YPAB Surabaya berencana melakukan seleksi ketat untuk memilih empat peserta terbaik. Para peserta terpilih nantinya akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program magang di perusahaan-perusahaan formal yang telah menjadi mitra yayasan. Langkah ini diharapkan dapat menjadi pilot project bagi kemandirian ekonomi penyandang disabilitas di Surabaya dan sekitarnya.(js/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.