Jurnalis Radio Dua Tahun Nyaris Depresi Tanpa Tahu Kesalahan
SR, Surabaya – Mengenakan baju berwarna merah dengan tas ransel kecil di punggung, N (nama samaran) bergegas berjalan menuju ruang siaran. Senin (7/10/2024), ia mendapat jatah siaran pagi. Begitu sampai di ruang siaran, ia langsung mengecek komputer dan memonitor radio apakah siaran bisa terdengar dengan baik.
Setelah memastikan semuanya, ia bergegas duduk di kursi siaran dan memilih beberapa lagu dan materi lainnya yang akan diputar selama jam siaran. “Saya harus memastikan semuanya berjalan dengan baik,”ujarnya saat ditemui.
Saat bersiaran, N harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Meski pada hari itu, ia mengaku dalam kondisi yang tidak baik. Namun, saat di udara, semuanya tidak boleh terjadi. Baginya, dalam keadaan apapun, pendengar harus mendapatkan yang terbaik.
Selama 4 jam, N berhasil menghibur pendengar dengan suara khas yang dipadu lagu pop serta informasi terkini dari kota Pahlawan. Usai siaran, tentunya ia tidak langsung pulang, karena masih ada tugas lain, yakni bertugas menjadi tim redaksi maupun presenter bagi para tamu yang diundang di program Podcast tempatnya bekerja.
Total dalam sehari, ia bekerja selama 8 jam. Tugas utamanya adalah siaran dan tugas tambahannya adalah sebagai tim redaksi dan presenter. “Ini sudah berjalan sejak saya masuk pertama kali,” terangnya.
N yang telah bekerja selama 14 tahun ini, hanya bisa menikmati rutinitas kerjanya di luar apa yang menjadi tanggung jawab utamanya. Hal ini tidak hanya terjadi di dirinya saja. Untuk posisi reporter misalnya. Mereka tidak hanya bertugas untuk mencari data, mengolah, mengedit dan menyiarkan berita. Melainkan ada beban kerja mulai dari tugas redaksi dan presenter.
“Mekanisme kerja kami memang seperti itu, dalam sehari, semuanya harus kami lakukan,”terangnya.
Dengan sistem kerja seperti ini, maka pembagian waktu dan pemilihan kepentingan menjadi hal utama. Misalnya saja, akan susah ketika jadwal liputan bersamaan dengan jadwal tim redaksi. “Dalam kondisi yang demikian ini, maka kita yang harus memilih,” tandasnya.
Sistem yang selama ini diterapkan, membuat N sangat terbebani sekali. Ia harus pandai untuk manajemen waktu, apalagi jika kerjanya mulai pagi hingga malam hari. Jika target pekerjaan belum selesai, satu-satunya cara yang dilakukan adalah pulang terlambat.
Persoalan lain yang dialami N adalah saat mutasi atau perpindahan desk pekerjaan. Dalam kurun waktu 4 tahun belakangan ini, setidaknya N sudah mengalami tiga kali pemindahan. Dari yang semula menjadi reporter, dipindah ke bagian kehumasan dan sekarang ditempatkan di posisi penyiar.
Ia juga tidak mengetahui alasan pemindahan tersebut. Namun dari keterangan manajemen, dirinya dipindah karena kemampuan dan kebutuhan. Saat ditempatkan di bagian kehumasan, N mengaku harus beradaptasi dengan sistem yang baru. Jika di bagian reporter ataupun penyiar sistem kerjanya dinamis, di humas, ia bisa lebih santai, karena hanya bertugas mencari klien dan kerjasama, serta melakukan rekaman untuk keperluan tersebut.
Dan, selama bertugas di humas, ia bisa menikmati libur akhir pekan dan hari besar lainnya. Hal yang selama ini belum pernah didapatkan saat bertugas di posisi reporter maupun penyiar.
Periode terburuk yang pernah dialami selama 2 tahun, atau tepatnya tahun 2020 sampai 2022. Saat itu, ia mengalami tingkat stres paling tinggi dan hampir mengalami depresi. Dalam kurun waktu tersebut, ia menjadi pribadi yang tidak bisa konsentrasi dalam hal apapun, termasuk dalam hal komunikasi.
Dan, di era tersebut, ia pernah mendapat surat peringatan karena dianggap melawan pimpinan. “Ceritanya waktu itu saya apply program atas nama organisasi dan posisinya di luar kota. Pasca kembali di Surabaya, saya dipanggil, dibentak dan diberi surat peringatan tersebut,” tegasnya.
Selama di periode itu pula, semangat kerjanya kembali turun. Terlebih, karyawan tidak mendapat hak cuti, saat lembur juga tidak mendapatkan upah lembur. Tidak itu saja, N juga merasa jika pimpinan kala itu, seakan mengadu domba karyawan satu dengan lainnya. Bahkan untuk urusan anggota keluarga yang meninggal, hanya diperbolehkan ijin atau cuti saat yang meninggal adalah keluarga inti, bukan seperti mertua.
Dalam dua tahun tersebut, cara yang dilakukan N adalah memilih cuti dengan jumlah minimal 3 hari. Ia tidak peduli akan pengajuan cutinya mendapat ijin atau tidak. Hal lainnya adalah menyenangkan diri sendiri, dan lebih banyak kumpul bersama keluarga dan teman. Bahkan, setelah menunaikan tugas, ia langsung pulang dan memilih untuk sharing bersama dengan teman-temannya.
Saat ini, N merasa berada dalam posisi yang ideal. Nahkoda baru saat ini dinilainya mampu menciptakan iklim kerja yang sehat dan tidak menjadi ‘racun’ bagi karyawan. Pemimpin yang sekarang juga dinilainya mampu berpikir tentang hak dan kesejahteraan karyawan, serta memberikan peluang untuk upgrade secara individu.
“Bagi saya, passion tidak akan ada lagi di bawah pemimpin yang enggak banget,” ujarnya sembari tersenyum.
Menilik perjalanan N sebagai jurnalis di sebuah media penyiaran, dosen psikologi dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto, menyebut situasi yang dialami N cukup pelik, diliputi stress cukup tinggi sehingga rawan alami gangguan kesehatan mental. “Beberapa gejala seseorang alami gangguan mental di antaranya sebabkan kurang tidur, kurang makan, hubungan keluarga terganggu,” kata dosen yang akrab disapa Dananto ketika dihubungi Super Radio, Senin (7/10/2024).
Beruntungnya, sebelum gejala kesehatan mental berlanjut, N sudah bisa bangkit menghadapi stressor (faktor-faktor pemicu stres) dengan cara megalihkan stressor dengan aktivitas positif, seperti menjalin komunikasi aktif dengan teman sejawat dan juga keluarga.
Dananto menerangkan stres bisa terjadi kepada setiap orang dengan intensitas yang berbeda-beda. Stres dapat terjadi ketika tuntutan dari luar melebihi kapasitas tubuh. Stressor itu banyak macamnya, seperti masalah negara, kebijakan ekonomi, polusi udara, cuaca panas, itu semua akan ikut berkontribusi munculnya stres. Stres yang berakibat pada gangguan kesehatan mental jika berkombinasi dengan aktivitas yang menjadi konsern seseorang.
Untuk menerangkan itu, Dananto memberi ilustrasi kejadian pada seorang pelajar, gangguan kesehatan mental akan timbul jika stressor di atas akan berkombinasi dengan persoalan-persoalan mata pelajaran di sekolah, guru-guru, teman sekolah.
Ilustrasi lainnya, seorang ibu rumah tangga bisa saja mengalami gangguan mental ketika stressor berkombinasi dengan masalah harga-harga melambung tinggi, hubungan suami-istri tak harmonis, dan lain-lain.
Terkait kesehatan mental para pekerja media, tentunya bisa ditimbulkan jika stressor berkombinasi dengan tugas-tugas sebagai jurnalis. Dananto mengilustrasikan, bagaimana seorang jurnalis menjalankan pekerjaannya ketika cuaca yang saat ini terik, matahari panas-panasnya menyengat, ketambahan macet, tanggal tua belum waktunya terima gaji, istri mengeluh harga sembako melambung, tetapi pada saat yang sama Si Jurnalis itu harus liputan yang dia tidak tahu berapa lama di lapangan, belum lagi memikirkan dead line liputan yang ditentukan kapan tayangnya.
“Itu stressor semua. Itu akumulatif dan akan berpengaruh pada kejiwaan seseorang. Begitu juga seperti yang dialami jurnalis N yang anda ceritakan tadi,” terang alumnus Universitas Gajah Mada Yogyakarta itu.
Lebih lanjut Dananto menerangkan terhadap kesehatan mental ada dua hal yakni intervensi dan prevensi (preventif). Kalau intervensi jika sudah ada kasusnya, kalau prevensi itu pencegahannya. “Intervensi sebenarnya agak terlambat. Yang baik jika perusahaan itu sudah menyiapkan prevensi atau pencegahannya,” ujarnya.
Intervensi dilakukan jika sudah terjadi kasus. Itu bisa diketahui misalnya ada penurun produktivitas kerja, semangat kerja melemah, gampang tersinggung, atau lebih ekstrem melukai diri sendiri. “Atas fakta yang dialami pekerja seperti itu, maka perusahaan tidak boleh denial atau menyangkal bahwa itu akibat beban kerja. Artinya perusahaan tidak boleh sewenang-wenang mem-PHK tapi harus bertanggungjawab untuk proses penyembuhannya,”tegasnya.
Disadari Dananto, sedikit atau tidak pernah diketahuinya ada perusahaan media yang menyediakan psikolog yang memberi konseling secara tetap diminta/tidak diminta oleh pekerjanya. Perusahaan media belum menganggap penting kesehatan mental dalam lingkungan kerja . Perusahaan semacam itu jika ada mendapati karyawan alami gangguan mental maka akan memilih untuk di mengeluarkan pekerja sakit itu supaya berobat sendiri di luar tanggungan perusahaan. “Ini jelas pelanggaran UU ketenagakerjaan dan perusahaan semacam itu harus mendapat sanksi yang berat,” cetus Dananto.

Direktur Utama RS Direktur drg Vitria Dewi MSi sependapat bahwa stress karena pekerjaan dapat menimbulkan dampak buruk bagi pekerja, kesehatan mentalnya turun, menjadi rendah diri, merasa tidak kompeten, dan menyendiri.
“Untuk menjaga kesehaan mental diri, hendaknya punya orang dekat yang bisa memberi dukungan, hendaknya punya pola makan sehat, rutin berolah raga, tingkatkan kualitas tidur, hendaknya bisa membuat buat skala prioritas, dan supaya jangan menjadi insan yang perfek (sempurna),” pesan drg Vitria.
Selain gejala tersebut, gangguan kesehatan mental juga dapat timbulkan gangguan fisik, di antaranya rambut menipis hingga kebotakan; sariawan atau bibir kering; insomnia, sakit kepala, gangguan kepribadian, depresi; asma, sesak napas; jerawat, gatal gatal hipertensi, kardiovaskular; sakit perut, sembelit, diare, tukak lambung; dan disfungsi ereksi, kualitas sperma turun, nyeri haid, gairah seks turun.
Untuk mengatasi gangguan kesehatan mental, baik yang bersifat intervensi maupun prevensi, RSJ Menur mempunyai sejumlah program dan sarana yang lengkap dan juga paramedis yang sudah berpengalaman sejak 1977.
Bagai Audisi Pencarian Bakat
Berbeda lagi yang dialami jurnalis B, yang bekerja di sebuah harian cukup ternama yang bermarkas di Surabaya. 12 tahun lalu lelaki lajang ini diterima sebagai jurnalis, profesi yang memang diinginkannya.
Dalam dua tahun pertama, semasa menjalani status kontrak, ia harus siap dipindah-pindahkan dari satu desk ke desk lainnya. Di perusahaan itu punya konsern terhadap setidaknya 8 pos liputan seperti pos kriminalitas, olah raga, politik, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Pos-pos liputan itu diampu oleh 6 orang redaktur yang masing-masing memimpin sebuah desk (kompartemen). Setiap redaktur punya karakter yang berbeda dengan selera liputan berbeda pula, sehingga pria yang murah senyum itu harus bisa beradaptasi dengan cepat baik medan lapangan yang dihadapi dan pemimpin yang dianut.
Bersyukur masa ‘percobaan’ bisa dilalui dengan selamat dan berujung pada perubahan status menjadi jurnalis tetap. Namun, tidak semua rekan seangkatannya bisa bertahan dengan pressure yang dialami. Dari enam orang yang direkrut bersamanya, dua orang meninggalkan perusahaan (keluar) dengan sendirinya.
“Semasa percobaan, setiap hari kami ditarget untuk menulis 7 berita pendek ditambah foto sebagai pelengkap artikel atau berita. Pelaporan dibatasi oleh dead line setiap pukul 17.00 WIB, kecuali jika berita berpotensi untuk tayang sebagai head line, artikel bisa ditunggu hingga pukul 20.00 WIB. Awalnya sulit tapi setelah beberapa bulan, saya sudah bisa menulis dengan gaya seperti yang diinginkan perusahaan dan pembaca,” ungkapnya saat dihubungi Super Radio, Selasa (8/10/2024).
Bekerja di sebuah korporasi perusahaan media, kebijakan media tempat B bekerja juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan induk perusahaan yang ada di Jakarta. Persaingan industri media sangat ketat, target kerja bisa berubah dengan cepat mengikuti perkembangan global. Perusahaan media mulai mengincar pendapatan dari lebih dari satu platform, misalnya semula fokus pada pendapatan media cetak kemudian merambah ingin mengeruk pendapatan dari peluang berita online, bahkan masuk ke paltform video untuk mengejar pendapatan yang ditawarkan YouTube, TikTok, maupun facebook.
Tak lama berselang muncul kebijakan baru dari manajemen pusat. Kebijakan multiplatform mulai diberlakukan. Ini berimbas pada penambahan target terutama dalam pembuatan video pendek oleh setiap jurnalis. “Setiap wartawan setiap hari wajib membuat video dan melakukan live reporting . Aktivitas live reporting di depan kamera adalah hal baru bagi kami yang tadinya berkewajiban hanya liputan menulis artikel plus foto peristiwa,” kata jurnalis yang sarjana Bahasa Indonesia itu.
Kebijakan itu tidak hanya memicu perubahan dalam produksi berita, tapi juga memungkinkan adanya prubahan struktur organisasi dengan penambahan divisi baru yang membawa konsekuensi pergeseran personel. “Ada teman yang tadinya konten kreator pindah jadi angker berita pada tayangan YouTube, ada teman dari bagian pracetak digeser menjadi editing video, dan banyak lagi dampak ikutannya,”sebutnya.
Apakah perubahan itu nyaman? Tentu tidak nyaman. Apalagi perubahan itu diinisasi dari atas, tanpa ada sosialisasi dan assesmen pada bidang bidang baru. Meski tidak ada motif penghukuman dalam perubahan organisasi itu, namun jika tugas baru itu tidak cocok dengan passion pekerja, maka akan menjadi masalah selama menjalankan tugas baru itu.
Perubahan kembali dilakukan di masa pandemi Covid-19 hingga paska pandemi. Di saat media sosial semakin kencang, media massa secara perlahan mulai menghadapi disrupsi. Masyarakat saat pandemi kian banyak mengakses informasi melalui media sosial yang kian variatif bentuk platform medianya. “Di saat itu, perusahaan berambisi memperbanyak penayangan video. Berangsur-angsur target live report ditambah. Ada masa, sehari saya harus bikin 7 artikel plus 1 konten berita video. Beberapa tahun kemudian, ditambah lagi harus setor 2 konten berita video. Dan, hari ini target artikel dikurangi menjadi 5 sehari tetapi konten video ditambah 3 konten setiap hari. Satu lagi tugas tambahan, dalam seminggu ditarget menghadirkan 1 nara sumber terpilih untuk hadir dalam platform podcast,” ungkap jurnalis yang biasa liputan isu perkotaan itu.
Diakui beban kerja setelah menjadi jurnalis tetap, apalagi sudah berkeluarga, dirasa jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Semasa jadi karyawan percobaan tidak banyak kewajiban yang diminta perusahaan karena penilaian kinerja lebih subyektif oleh pimpinan redaksi. Berbeda cerita ketika menjadi karyawan tetap yang kemudian dihadapkan pada pasal-pasal peraturan perusahaan yang lebih kompleks. Juga semasa masih lajang, kebutuhan untuk diri sendiri. Setelah berkeluarga kewajiban terkait finansial maupun non finansial bertambah besar pula.
“Dengan kondisi riil itu, maka akhirnya saya harus menimbang-timbang antara kewajiban dan hak-hak karyawan,” terang ayah dari seorang putra yang masih balita ini,” Ini menyangkut kesejahteraan keluarga yang tidak bisa lepas dari soal pendapatan untuk mencukupi semua kebutuhan, primer, sekunder, dan tersier,” imbuhnya.
Pada saat perusahaan mengeluarkan kebijakan baru yang pada tujuan utamanya untuk menaikkan pendapatan perusahaan, pekerja juga berharap akan adanya peningkatan pendapatan, baik yang berbentuk kenaikan gaji atau bonus.
Kebijakan perusahaan itu diturunkan dalam bentuk target-target tertulis yang disepakati bersama dan dievaluasi setiap enam bulan sekali. Penilaian akan pemenuhan target itulah yang akan menentukan seorang karyawan akan mendapat bonus tambahan atau tidak, juga besaran bonus apakah full bonus atau separuh yang didapat. “Bagi yang tidak mencapai target sudah pasti tidak akan terima bonus. Bahkan jika tiga kali evaluasi tidak mencapai target, akan ada konsekuensi yang lebih keras,” paparnya.
Dalam prakteknya, banyak pekerja sangat sulit bisa mendapatkan nilai yang memungkinkan untuk mendapatkan bonus maksimal. Pasalnya, target yang diterapkan setiap tahunnya bertambah tinggi. “Terkadang muncul prasangka, target dibuat agar tidak bisa tercapai sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan bonus dan harus puas dengan gaji pokok yang diterima selama ini. Dugaan ini juga diungkapkan pekerja lain saat kita lagi nongkrong bareng,” duganya.
Dalam hal pendapatan yang relatif stagnan, tak ada penambahan, sementara tanggungan bertambah, pekerja harus bersiasat agar semua tugas terlaksana dengan baik meski dalam tekanan target, bagaimana agar keluarga tidak terbengkalai, relasi sosial tetap berjalan, dan kebutuhan dasar tercukupi. “Untuk menambah pendapatan keluarga, istri saya lantas ikut bekerja di sebuah rumah sakit di Surabaya. Jadi, saya harus mengatur jadwal antar-jemput istri dan waktu liputan saya. Untungnya saya tidak harus ke kantor karena bisa kirim berita via online. Untuk menemani putra kami yang masih balita, saya mengajak ibu mertua tinggal di rumah saya,” aku jurnalis yang berdomisili di Sidoarjo itu.
Selama menjadi jurnalis di media tersebut belum terpikir untuk pindah kerja ke media lain, mengingat volume pekerjaan dan gaji bulanan yang diterima tidak banyak berbeda. Ia lebih memilih untuk bekerja dengan media yang sekarang ini. Relatif masih bisa menjalani target yang diinginkan perusahaan, meski tidak bisa mendapatkan hasil yang excelent.
Untuk melampiaskan tekanan di lingkungan kerja, pria penyuka lagu-lagu pop Jawa itu, lebih memilih berinteraksi sesama teman sejawat atau jurnalis media lain. Sesekali kejenuhan bekerja ditumpahkan dengan tarik suara di ruang karaoke. Ia juga lebih memanfaatkan family time semaksimal mungkin. “Saya tidak punya hobi olah raga tertentu, gaya hidup biasa saja, tidak merokok, juga tidak ikut organisasi apa pun. Habis liputan sesuai target segera pulang bermain bersama anak dan kumpul keluarga,” kiatnya.
Pusing Target Iklan Setiap Akhir Bulan
Selain jurnalis, dalam industri media massa juga ada bagian pemasaran produk dan pemasaran iklan. Mereka juga masuk kategori dalam pekerja media. Kendati job disc berbeda, namun pemasaran iklan dan produk dituntut untuk mengetahui isi dapur dari media massa yang akan dijualnya kepada pelanggan. Bahkan saat ini, kelangsungan industri media massa sangat bergantung pada pendapatan media dari unit usaha bisnis miliknya.
Kalau jurnalis dituntut menghasilkan konten berita/tayangan yang menarik, maka unit iklan dan sirkulasi harus bisa menjual konten berita itu dibaca atau ditonton sebanyak-banyaknya orang. Setelah dapat banyak pembaca maka bagian iklan akan lebih mudah untuk menawarkan space iklannya kepada korporasi atau individu pengusaha untuk memasang iklan di media massa mereka.
Ditengah persaingan industri media massa ditambah maraknya kanal-kanal podcast yang populer, youtuber atau konten kreator dengan follower jutaan orang, maka mencari pendapatan dari iklan adalah kerja yang luar biasa beratnya.
“Satu per satu perusaaan yang dulu menjadi klien pemasang iklan kami tiba-tiba beralih dengan munculnya penjualan online melalui e-commerce seperti shopee, toko pedia dll. Selain itu perusaahaan swasta juga bisa bikin konten yang kemudian diiklankan sendiri melalu berbagai platform digital miliknya atau melalui media sosial seperti YouTube, facebook, podcast, TikTok, instagram, dan lain-lain,” kata seorang senior account executive (AE) divisi iklan di sebuah media massa, kepada Super Radio, Rabu (9/10/2024).
Dijelaskannya, pembaca media cetak saat ini sudah anjlok jika tidak boleh dibilang habis. Lantaran saat ini aneka berita bisa dihadirkan oleh berbagai portal berita online yang bisa dinikmati melalui telepon selular atau laptop melalui jaringan internet. Bahkan, saat ini dengan hadirnya internet setiap orang bisa dengan cepat mengakses informasi dari segala penjuru, kota, pulau, negara, bahkan dunia. “Saat ini yang saya jual kepada calon pemasang iklan adalah skema promosi melalui konvergensi media milik kami. Masalahnya, secanggih apapun saya presentasi tapi jika media tempat saya bekerja abai dengan tren pemberitaan multi platform, atau abai menggalang engagement (keterikatan) dengan audience, maka jangan harap bisa meraih iklan,” ungkapnya.
Situasi dan kondisi saat ini terkadang tidak terbaca dengan cermat, sementara perusahaan memasang target tinggi pendapatan iklan setiap tahun, sementara ekosistem internal tidak mendukung. “Setiap tahun target naik. Rata-rata sebulan saya harus bisa tarik iklan sebesar Rp350 juta, padahal persaingan media sangat ketat. Ini bikin stres setiap akhir bulan,” keluhnya.
Sebagai pekerja dibidang iklan senior yang sudah banyak relasi, ia cukup bisa bertahan dengan membuat daftar kunjungan ke klien yang pernah terhubung dengannya. Tapi bagi AE junior yang tidak cukup ulet, tidak akan bertahan lama di pekerjaan ini. “Saya pun juga pernah gagal mancapai target bulanan, bahkan akhir tahun, meski ada sanksi tidak dapat bonus tapi saya sikapi biasa saja, yang penting saya sudah tunjukkan kerja terbaik dan sepanjang karir di dunia periklanan tidak sampai melakukan kesalahan fatal, misalnya korupsi uang iklan dan semacam itu,” kiatnya.
Untuk mengatasi stres atas tekanan beban kerja, pekerja media yang punya wilayah kerja di Malang Raya dan sekitarnya itu lebih memilih rekreasi dengan main futsal, bulu tangkis, atau healing ke luar kota bersama keluarga.

Merespons meningkatnya tuntutan perusahaan dengan menaikkan target kinerja, Dananto menilai sudah jamak setiap perusahaan yang berorientasi profit menaikkan target kinerja secara periodik. Penaikkan target itu ujungnya untuk peningkatan hasil, baik berupa peningkatan rating, oplah atau revenue (cuan).
Sementara faktual kondisi perekonomian sedang tidak baik baik saja. Perusahaan yang menanggung biaya produksi dan karyawan dihadapkan persaingan yang superketat. Jelas kondisi ini menambah beban/stres perusahaan yang nantinya akan diturunkan kepada pekerjanya dalam bentuk target perusahaan.
Namun untuk memitigasi kemungkinan konflik terkait kenaika target, perusahaan harus ingat, manusia punya kebutuhan sehari hari. Perusahaan setidaknya bisa memberi empati jika belum bisa meningkatkan gaji atau kesejahteraan pekerjanya. Meski perusahaan tidak bisa menjamin keamanan atau keberlangsungan kerja pegawainya, minimal manajemen care peduli mendengarkan keluhan para pekerja, mau duduk bersama dengan mengatakan, we are in the same boat, perahu kita jalan sama-sama.
Hanya saja perlu dicermati, usaha mengajak bekerjakeras bersama harus ditunjukkan dengan sikap tidak bisa hanya retorika ucapan saja. Ini dimaksudkan meminimalisir kesenjangan antara manajemen pada level tertinggi terhadap level terendah sebuan perusahaan. “Pada saat ekonomi sulit, apakah orang level terendah melihat pimpinan tertinggi hanya duduk-duduk dengan fasilitas nyaman ber ac, life style kuliner sana sini, barang branded, gaji tinggi. itu situasi yang paling tidak ideal,” warning Dananto.
Berbeda jika manajemen terbuka, merangkul, duduk bersama maka bisa timbulkan kebersamaan. Ibarat perahu, mari dayung bersama karena jika bocor maka semua penumpang akan tenggelam bersama. Jika itu bisa dibangun akan menimbulkan semangat corsa. Solusi menciptakan kondisi setiap orang merupakan bagian penting dalam perusahaan itu bisa menjadi solusi mengatasi stressor yang datangnya dari luar (structural) yang tidak bisa dikontrol oleh manajemen .
“Model seperti ini sudah dicontohkan oleh Jac Welch, CEO General Electric saat baru ambil alih perusahaan yang bangkrut, yakni menerapkan model bonderyless, artinya kurang lebih, tidak ada sekat (antara manajemen dengan pekerja –red),” papar Dananto.
Mencontoh model bonderyless itu, maka ketika jumlah karyawan banyak, manajemen bisa mengajak perwakilan satu unit usaha untuk ikut duduk bersama berbicara alternatif inovasi yang bisa dikerjakan. Dengan cara lain misal memanfaatkan teknologi informasi, pimpinan perusahaan membuka google form , email, yang membuka dan menerima berbagai usulan (evaluasi) dari bawah. Ide yang baik diapresiasi dan dilaksanakan bahkan penggagasnya diberi reward. Ide yang kurang baik akan tetap direspons dengan sewajarnya dan jadi bahan diskusi. “Jadi membuat sistem agar karyawan di level paling bawah mendapat akses untuk berkomunikasi dengan para pimpinan tertinggi di perusahaan, ini efektif membangun hubungan harmonis manajemen dengan pekerja,” cetus Dananto.
Sedikit HRD Berlatar Psikologi
Praktisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Adi Sujatmika mengatakan, setiap perusahaan pasti memiliki perlakuan yang berbeda kepada karyawan, dan itu tidak bisa dilihat sebagai kebiasaan di sebuah perusahaan, karena melihat pada karakteristik saat ini.

Hal terpenting yang harus dilakukan manajemen adalah keterbukaan dengan karyawan. Hal itu menjadi harga mutlak, utamanya dalam hal upah yang didapat serta penilaian terhadap kinerja karyawan.
“Sebenarnya ada transparansi yang perlu disampaikan di awal. Utamanya soal status karyawan berserta hak dan kewajiban para pihak,” ujarnya kepada Super Radio, Selasa (8/10/2024).
Pria berkulit kuning langsat ini mengatakan, dengan penyampaian di awal secara jelas, karyawan bisa mempertimbangkan, apakah menerima tawaran tersebut atau tidak. Terlebih saat ini banyak perusahaan yang melakukan cara-cara tertentu dalam upaya “mengikat” karyawan. Misalnya dengan memberlakukan denda, menahan ijazah, pemotongan gaji dengan alasan tertentu dan beban kerja yang berlebih.
Menurutnya, jika manajemen bersikap terbuka, perusahaan akan bisa melihat tingkat kepatuhan karyawan dan bagaimana karyawan tersebut mampu memenuhi target yang sudah disepakati bersama.
Selain terbuka, Adi juga menilai perusahan harus mampu menciptakan sistem penilaian yang objektif dan tidak mengedepankan sistem suka atau tidak suka. “Jika hal tersebut tidak dilakukan perusahaan, tentu akan menganggu kesehatan mental. Ibaratnya seperti kita melakukan sesuatu dengan terpaksa, tentu akan tidak baik dalam hal apapun,” ujarnya.
Persoalan lain yang terjadi di perusahaan adalah pihak manajemen, lebih suka memilih orang yang duduk di bagian Human Resources Development (HRD), tidak memiliki background psikologi, melainkan mereka yang memiliki latar belakang ilmu hukum atau manajemen. Dengan cara ini, tentu perusahaan memilih tingkat kepatuhan karyawan yang diikat melalui peraturan perusahaan dan berorientasi pada target.
Hal ini berbeda jika mereka yang berada di HRD memiliki latar belakang psikologi. Pendekatan humanis lebih dikedepankan untuk mengetahui problem yang terjadi. Dengan latar belakang pendidikan psikologi, tentu mereka memiliki kemampuan untuk melakukan analisa lebih detil terhadap kinerja dan kondisi karyawan, termasuk dengan model solusi yang akan dilakukan.
“Biasanya perusahaan yang memilih HRD dengan latar belakang psikologi, biasanya berorientasi pada pengembangan SDM,”terangnya.
Ditambahkan Dananto, pakar psikologi, kalaupun perusahaan media belum bisa menyediakan psikolog dalam jajaran HRD yang ada, setidaknya HRD punya salah seorang staff pada level middle manajemen yang terlatih dalam berkomunikasi dan menerima berbagai keluhan pekerja. “Tidak harus orang itu seorang psikolog, intinya ada divisi yang dikhususkan untuk menjaga kesehatan mental,” tuturnya.
Hal lain yang juga bisa diberikan oleh manajemen adalah ruang rekreasi sebagai tempat karyawan melepas stres sejenak dengan mendengarkan musik atau sekedar berkumpul sambil bercanda. “Tidak perlu tempat besar, tapi ada aktivitas rileks bisa olah raga tenis meja, biliard, ruang karaoke, atau main musik dan semacamnya,” cetusnya,”atau boleh juga diperluas bukan ruang rekreasi tapi sungguh sungguh kegiatan rekreasi, outbound setahun dua kali, sebagai ungkapan syukur perusahaan dan apresiasi kerja para pekerja,” pungkasnya. (tim redaksi)
Tags: Kesehatan mental, pekerja media, RSJ Menur, superradio, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.






