Jurnalis Radio Dua Tahun Nyaris Depresi Tanpa Tahu Kesalahan

Direktur Utama RS Direktur drg Vitria Dewi MSi sependapat bahwa stress karena pekerjaan dapat menimbulkan dampak buruk bagi pekerja, kesehatan mentalnya turun, menjadi rendah diri, merasa tidak kompeten, dan menyendiri.
“Untuk menjaga kesehaan mental diri, hendaknya punya orang dekat yang bisa memberi dukungan, hendaknya punya pola makan sehat, rutin berolah raga, tingkatkan kualitas tidur, hendaknya bisa membuat buat skala prioritas, dan supaya jangan menjadi insan yang perfek (sempurna),” pesan drg Vitria.
Selain gejala tersebut, gangguan kesehatan mental juga dapat timbulkan gangguan fisik, di antaranya rambut menipis hingga kebotakan; sariawan atau bibir kering; insomnia, sakit kepala, gangguan kepribadian, depresi; asma, sesak napas; jerawat, gatal gatal hipertensi, kardiovaskular; sakit perut, sembelit, diare, tukak lambung; dan disfungsi ereksi, kualitas sperma turun, nyeri haid, gairah seks turun.
Untuk mengatasi gangguan kesehatan mental, baik yang bersifat intervensi maupun prevensi, RSJ Menur mempunyai sejumlah program dan sarana yang lengkap dan juga paramedis yang sudah berpengalaman sejak 1977.
Bagai Audisi Pencarian Bakat
Berbeda lagi yang dialami jurnalis B, yang bekerja di sebuah harian cukup ternama yang bermarkas di Surabaya. 12 tahun lalu lelaki lajang ini diterima sebagai jurnalis, profesi yang memang diinginkannya.
Dalam dua tahun pertama, semasa menjalani status kontrak, ia harus siap dipindah-pindahkan dari satu desk ke desk lainnya. Di perusahaan itu punya konsern terhadap setidaknya 8 pos liputan seperti pos kriminalitas, olah raga, politik, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Pos-pos liputan itu diampu oleh 6 orang redaktur yang masing-masing memimpin sebuah desk (kompartemen). Setiap redaktur punya karakter yang berbeda dengan selera liputan berbeda pula, sehingga pria yang murah senyum itu harus bisa beradaptasi dengan cepat baik medan lapangan yang dihadapi dan pemimpin yang dianut.
Bersyukur masa ‘percobaan’ bisa dilalui dengan selamat dan berujung pada perubahan status menjadi jurnalis tetap. Namun, tidak semua rekan seangkatannya bisa bertahan dengan pressure yang dialami. Dari enam orang yang direkrut bersamanya, dua orang meninggalkan perusahaan (keluar) dengan sendirinya.
“Semasa percobaan, setiap hari kami ditarget untuk menulis 7 berita pendek ditambah foto sebagai pelengkap artikel atau berita. Pelaporan dibatasi oleh dead line setiap pukul 17.00 WIB, kecuali jika berita berpotensi untuk tayang sebagai head line, artikel bisa ditunggu hingga pukul 20.00 WIB. Awalnya sulit tapi setelah beberapa bulan, saya sudah bisa menulis dengan gaya seperti yang diinginkan perusahaan dan pembaca,” ungkapnya saat dihubungi Super Radio, Selasa (8/10/2024).
Bekerja di sebuah korporasi perusahaan media, kebijakan media tempat B bekerja juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan induk perusahaan yang ada di Jakarta. Persaingan industri media sangat ketat, target kerja bisa berubah dengan cepat mengikuti perkembangan global. Perusahaan media mulai mengincar pendapatan dari lebih dari satu platform, misalnya semula fokus pada pendapatan media cetak kemudian merambah ingin mengeruk pendapatan dari peluang berita online, bahkan masuk ke paltform video untuk mengejar pendapatan yang ditawarkan YouTube, TikTok, maupun facebook.
Tak lama berselang muncul kebijakan baru dari manajemen pusat. Kebijakan multiplatform mulai diberlakukan. Ini berimbas pada penambahan target terutama dalam pembuatan video pendek oleh setiap jurnalis. “Setiap wartawan setiap hari wajib membuat video dan melakukan live reporting . Aktivitas live reporting di depan kamera adalah hal baru bagi kami yang tadinya berkewajiban hanya liputan menulis artikel plus foto peristiwa,” kata jurnalis yang sarjana Bahasa Indonesia itu.
Kebijakan itu tidak hanya memicu perubahan dalam produksi berita, tapi juga memungkinkan adanya prubahan struktur organisasi dengan penambahan divisi baru yang membawa konsekuensi pergeseran personel. “Ada teman yang tadinya konten kreator pindah jadi angker berita pada tayangan YouTube, ada teman dari bagian pracetak digeser menjadi editing video, dan banyak lagi dampak ikutannya,”sebutnya.
Apakah perubahan itu nyaman? Tentu tidak nyaman. Apalagi perubahan itu diinisasi dari atas, tanpa ada sosialisasi dan assesmen pada bidang bidang baru. Meski tidak ada motif penghukuman dalam perubahan organisasi itu, namun jika tugas baru itu tidak cocok dengan passion pekerja, maka akan menjadi masalah selama menjalankan tugas baru itu.
Perubahan kembali dilakukan di masa pandemi Covid-19 hingga paska pandemi. Di saat media sosial semakin kencang, media massa secara perlahan mulai menghadapi disrupsi. Masyarakat saat pandemi kian banyak mengakses informasi melalui media sosial yang kian variatif bentuk platform medianya. “Di saat itu, perusahaan berambisi memperbanyak penayangan video. Berangsur-angsur target live report ditambah. Ada masa, sehari saya harus bikin 7 artikel plus 1 konten berita video. Beberapa tahun kemudian, ditambah lagi harus setor 2 konten berita video. Dan, hari ini target artikel dikurangi menjadi 5 sehari tetapi konten video ditambah 3 konten setiap hari. Satu lagi tugas tambahan, dalam seminggu ditarget menghadirkan 1 nara sumber terpilih untuk hadir dalam platform podcast,” ungkap jurnalis yang biasa liputan isu perkotaan itu.
Diakui beban kerja setelah menjadi jurnalis tetap, apalagi sudah berkeluarga, dirasa jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Semasa jadi karyawan percobaan tidak banyak kewajiban yang diminta perusahaan karena penilaian kinerja lebih subyektif oleh pimpinan redaksi. Berbeda cerita ketika menjadi karyawan tetap yang kemudian dihadapkan pada pasal-pasal peraturan perusahaan yang lebih kompleks. Juga semasa masih lajang, kebutuhan untuk diri sendiri. Setelah berkeluarga kewajiban terkait finansial maupun non finansial bertambah besar pula.
“Dengan kondisi riil itu, maka akhirnya saya harus menimbang-timbang antara kewajiban dan hak-hak karyawan,” terang ayah dari seorang putra yang masih balita ini,” Ini menyangkut kesejahteraan keluarga yang tidak bisa lepas dari soal pendapatan untuk mencukupi semua kebutuhan, primer, sekunder, dan tersier,” imbuhnya.
Pada saat perusahaan mengeluarkan kebijakan baru yang pada tujuan utamanya untuk menaikkan pendapatan perusahaan, pekerja juga berharap akan adanya peningkatan pendapatan, baik yang berbentuk kenaikan gaji atau bonus.
Kebijakan perusahaan itu diturunkan dalam bentuk target-target tertulis yang disepakati bersama dan dievaluasi setiap enam bulan sekali. Penilaian akan pemenuhan target itulah yang akan menentukan seorang karyawan akan mendapat bonus tambahan atau tidak, juga besaran bonus apakah full bonus atau separuh yang didapat. “Bagi yang tidak mencapai target sudah pasti tidak akan terima bonus. Bahkan jika tiga kali evaluasi tidak mencapai target, akan ada konsekuensi yang lebih keras,” paparnya.
Dalam prakteknya, banyak pekerja sangat sulit bisa mendapatkan nilai yang memungkinkan untuk mendapatkan bonus maksimal. Pasalnya, target yang diterapkan setiap tahunnya bertambah tinggi. “Terkadang muncul prasangka, target dibuat agar tidak bisa tercapai sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan bonus dan harus puas dengan gaji pokok yang diterima selama ini. Dugaan ini juga diungkapkan pekerja lain saat kita lagi nongkrong bareng,” duganya.
Dalam hal pendapatan yang relatif stagnan, tak ada penambahan, sementara tanggungan bertambah, pekerja harus bersiasat agar semua tugas terlaksana dengan baik meski dalam tekanan target, bagaimana agar keluarga tidak terbengkalai, relasi sosial tetap berjalan, dan kebutuhan dasar tercukupi. “Untuk menambah pendapatan keluarga, istri saya lantas ikut bekerja di sebuah rumah sakit di Surabaya. Jadi, saya harus mengatur jadwal antar-jemput istri dan waktu liputan saya. Untungnya saya tidak harus ke kantor karena bisa kirim berita via online. Untuk menemani putra kami yang masih balita, saya mengajak ibu mertua tinggal di rumah saya,” aku jurnalis yang berdomisili di Sidoarjo itu.
Tampilkan SemuaTags: Kesehatan mental, pekerja media, RSJ Menur, superradio, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





