Syahdu, Seribu Lilin dan Wahyu Kolosebo di Sendang Agung Sidoarjo

Yovie Wicaksono - 16 June 2026
Ratusan warga menyalakan lilin diiring kidung Wahyu Kolosebo melakukan kontemplasi di area Situs Sendang Agung, Desa Urang Agung, Sidoarjo, saat malam 1 Suro, Senin (15/6/2026). (foto: anton/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Suasana khidmat dan syahdu menyelimuti kawasan Sendang Agung, Desa Urang Agung, Sidoarjo, Senin (15/6/2026) malam. Ratusan warga secara serentak menyalakan “seribu” lilin di tengah keheningan malam untuk memperingati pergantian tahun baru Jawa, 1 Suro.

Temaram cahaya lilin yang menerangi petilasan berpadu dengan lantunan Kidung Wahyu Kolosebo yang dibawakan secara lembut perlahan. Kidung spiritual ini sengaja dipilih karena makna mendalamnya tentang perjalanan batin, pengendalian hawa nafsu, serta penyerahan diri secara total kepada Sang Pencipta.

Ketua Paguyuban Sendang Agung, Siswa Adi Cahyono menjelaskan bahwa momen keheningan ini menjadi sarana introspeksi bersama di tengah situasi bangsa yang sedang tidak menentu.

“Kidung Wahyu Kolosebo berisi tentang spiritual manusia dengan Tuhan dengan lingkungan sekitar. Kami nilai kidung ini pas banget dengan situasi kita bangsa Indonesia saat secara umum kurang bagus. Di tengah keheningan, kami semua bisa introspeksi apa yang sudah lalu dan merefleksi apa yang harus diperbaiki di tahun mendatang,” kata pria yang akrab disapa Siswo, Senin malam.

Warga Urang Agung laki perempuan spontan tandak (joget) diiringi belasan lagu Campur Sari di halaman luar Situs Sendang Agung, Desa Urang Agung, Sidoarjo, saat malam 1 Suro, Senin (15/6/2026). (foto: anton/superradio.id)

Ragam Seni Tradisi Lintas Generasi

Sebelum keheningan lilin dinyalakan, peringatan malam 1 Suro tahun ini dibuka dengan kemeriahan penampilan seni religi berupa terbang jidor Ishari dan kesenian rakyat campursari. Acara tahun ini dinilai lebih beragam dibanding tahun lalu yang hanya menggelar macapat.

Suasana akrab terlihat saat musik campursari dimainkan. Sejumlah warga senior, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu, secara spontan maju ke area panggung untuk tandak (berjoget) dan bernyanyi bersama lintas generasi.

“Tahun lalu gelar macapat, sedangkan malam ini acara dibuka dengan seni Ishari dan selanjutnya menampilkan campursari sehingga banyak warga senior yang hadir dan ikut tandak mengiringi belasan lagu-lagu campursari,” ujar Siswo.

Perayaan 1 Suro itu dihadiri ratusan warga urang Agung dari tujuh pedukuhan. Ada dari kelompok tani, para juru kunci makam, karang taruna, tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, anak-anak, dan  semua kelompok dan golongan di Desa Urang Agung.

Begitu pun dengan pengisi acara seni maupun hidangan makan-minum, nasi tumpeng, seluruhnya merupakan partisipasi warga asli dari tujuh pedukuhan di Urang Agung. “Acara ini keseluruhan partisipasi warga dan juga ada bantuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo dan juga dari Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia),” imbuh Siswo.

Ketua Paguyuban Sendang Agung Siswa Adi Cahyono (2 dari kanan) dan Ketua Dekesda Sidoarjo Ribut Wijoto (kiri) menerima penghargaan “Sertifikat Apresiasi” dari Pimpinan Lesbumi NU Sidoarjo Fahmi di halaman luar Situs Sendang Agung, Desa Urang Agung, Sidoarjo, saat malam 1 Suro, Senin (15/6/2026). (foto: anton/superradio.id)

Apresiasi dari Lesbumi NU

Momentum perayaan ini juga diwarnai dengan penyerahan “Sertifikat Apresiasi” dari Lesbumi kepada Paguyuban Sendang Agung. Penghargaan tertulis tersebut diberikan atas komitmen dan dedikasi luar biasa warga dalam merawat situs sejarah secara swadaya, serta konsistensi mereka menghidupkan kawasan tersebut melalui berbagai kegiatan seni budaya.

“Kami memberikan apresiasi berupa sertifikat bahwa Paguyuban Sendang Agung sebagai kelompok masyarakat pelestari dan penjaga warisan leluhur berupa Cagar Budaya dan kelompok pegiat/penggali seni budaya lokal,” ungkap Ahmad Anies Fahmi sebagai Perwakilan Lesbumi NU Sidoarjo.

Dikatakan  bahwa proses pemberian penghargaan ini tidak dilakukan sembarangan. Pihak Lesbumi NU terlebih dahulu melakukan kajian internal bersama para kiai NU, melakukan konfirmasi ke masyarakat sekitar, hingga berkoordinasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sidoarjo.

“Kami intens berkomunikasi dengan teman-teman di TACB terkait situs-situs dan temuan-temuan sejarah tradisi,” kata pria yang akrab disapa Fahmi tersebut.

Fahmi menambahkan, sebagai bagian dari organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU), Lesbumi mengemban tugas untuk merawat nilai-nilai luhur dan peradaban Nusantara tanpa memandang sekat agama.

“Meski Lesbumi merupakan bagian dari NU, namun yang kami apresiasi dan rawat tidak hanya peradaban Islam saja,” tegas Fahmi. Sebelum Sendang Agung, penghargaan serupa juga pernah diberikan kepada kelompok macapat Sekar Kawedar dan Wahyu Larasati yang aktif melakukan syiar melalui selawat serta puji-pujian Jawa.

Kelompok Seni Terbang Jidor Ishari Urang Agung saat bersholawat sebagai pembuka acara Malam Suroan di halaman luar Situs Sendang Agung, Desa Urang Agung, Sidoarjo, saat malam 1 Suro, Senin (15/6/2026). (foto: anton/superradio.id)

Dikawal Menjadi Cagar Budaya Nasional

Komitmen warga dalam menjaga tradisi ini sejalan dengan nilai sejarah yang melekat pada situs tersebut. Sendang Agung yang berlokasi di Dusun Jaretan ini dikeramatkan oleh warga sekitar karena dipercaya kuat sebagai salah satu situs peninggalan kemaharajaan Majapahit.

Nilai historis yang tinggi membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat untuk mengawal pengajuan Sendang Agung agar resmi diakui sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo Dr Tirto Adi MPd (foto: anton/superradio.id)

Kepala Dispendikbud Sidoarjo, Tirto Adi, beberapa waktu lalu telah mengonfirmasi bahwa proses pendaftaran situs ini telah bergulir ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) guna diteliti dan dikaji lebih dalam secara arkeologis sebelum diserahkan ke tingkat kementerian.

“Situs Sendang Agung sudah kita ajukan ke kementerian kebudayaan. Kalau saya gali informasi, situs ini itu merupakan sendangnya bagian dari Majapahit, ini akan kita gali terus,” tutur Tirto Adi.

Rangkaian perayaan berlanjut tepat pada hari H 1 Suro, Selasa (16/6/2026). Warga Urang Agung menggelar tradisi tahunan berupa kirab tujuh tumpeng yang melambangkan kerukunan tujuh pedukuhan.

Prosesi kirab budaya tersebut nantinya akan diiringi oleh kesenian barongan dan musik patrol keliling desa. Melalui rangkaian acara yang panjang ini, pihak penyelenggara berharap esensi dari perayaan 1 Suro dapat menyatukan seluruh elemen masyarakat.

“Kami menjadikan peringatan 1 suro itu sebagai ajang merawat kerukunan seluruh warga di 7 pedukuhan agar selalu damai, tentram dan sejahtera,” pungkas Siswo. (ton/red)

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.