Warisi Apinya, Bukan Abunya: Seno Bagaskoro Memantik Nalar Kritis Pemuda Surabaya

Rudy Hartono - 1 July 2026
Polisitisi muda dari PDI Perjuangan Seno Bagaskoro memaparkan pikirannya soal tanggungjawab anak muda bagi kedaulatan bangsa Indonesia, di Warkop Eden, Jalan Dukuh Kupang, Surabaya, Selasa (30/6/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Aroma kopi beradu dengan kepulan asap rokok di Warkop Eden (Taman Eden), Dukuh Kupang, Surabaya, pada Selasa (30/6/2026) malam. Suasana malam itu jauh dari sekadar nongkrong biasa, ratusan pasang mata anak muda dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari hukum, manajemen, hingga sastra Inggris berkumpul memenuhi kursi-kursi kayu yang sederhana.

Di tengah keriuhan suara pengunjung yang sesekali meneriakkan “Merdeka!” dengan lantang, muncul sosok Aryo Seno Bagaskoro, Juru Bicara PDI Perjuangan, yang tampil khas dengan sarung tangan di tangan kirinya.

Meski baru saja menempuh perjalanan jauh dari Jember dan tiba di lokasi tepat pukul 18.30 WIB, energi Seno seolah tak habis saat ia mulai memantik api dialektika di ruang rakyat tersebut.

Seno Bagaskoro bukanlah sekadar politikus yang turun ke lapangan demi seremoni; ia adalah representasi “Arek Suroboyo” asli yang lahir pada 8 April 2001 dan telah bergelut di dunia aktivisme sejak usia 15 tahun. Sebagai lulusan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Seno membangun branding dirinya sebagai jembatan antara sejarah besar bangsa dengan kegelisahan Generasi Z.

Di Warkop Eden, ia menegaskan bahwa warkop adalah tempat paling efektif untuk bicara soal Bung Karno karena di sanalah rakyat jelata bertemu tanpa sekat elite.

“Bukan karena saya ingin bercerita Bung Karno sebagai sosok simbol atau sekadar sosok masa lalu yang masuk museum,” tegas Seno di hadapan audiens yang mulai menghadap serius di forum diskusi.

Marhaenisme Modern di Era Ojek Online

Manifesto pertama yang ia sampaikan di bawah lampu warkop yang temaram adalah soal Kedaulatan Digital. Seno memperingatkan bahwa hari ini bangsa Indonesia sedang menghadapi kolonialisme data, di mana platform global menguasai informasi warga negara secara cuma-cuma. Ia menggambarkan betapa ngerinya AI dan algoritma bisa memprediksi pilihan politik hingga perasaan sedih seseorang.

“Dulu namanya dijajah pakai senjata terang-terangan, hari ini pakai data. Data itu mempengaruhi dalam bahasa kita, bahkan bisa memprediksi pilihan politik kita,” ungkapnya yang disambut anggukan serius dari para mahasiswa yang hadir.

Seno kemudian melakukan rekontekstualisasi terhadap ajaran Marhaenisme Modern. Ia mengajak audiens melihat fenomena ojek online (ojol) sebagai cerminan petani Marhaen di masa kini; mereka memiliki alat produksi sendiri seperti motor dan ponsel, namun keuntungannya tetap dihisap oleh platform global. Baginya, perjuangan politik hari ini harus memastikan bahwa ekonomi digital tidak hanya membuat orang “nyambung hidup”, tetapi juga memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagaimana cita-cita sila kelima Pancasila.

Suasana diskusi politik di Warkop Eden, Jalan Dukuh Kupang, Surabaya, Selasa (30/6/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Saatnya AI Promosikan Kesenian Tradisional

Antusiasme audiens memuncak saat Seno bicara soal strategi kebudayaan: “Mengglobalkan yang Lokal”. Ia mengkritik mentalitas yang hanya bangga menjadi konsumen produk asing seperti K-Pop tanpa berani memproduksi nilai serupa. Seno menantang anak muda Surabaya untuk menggunakan teknologi AI guna mengemas kembali kesenian tradisional seperti Ludruk atau Pewayangan agar bisa bersaing dengan produk global. Ia bermimpi melihat orang Amerika sekali-sekali menonton wayang versi kontemporer melalui platform digital mereka.

Di tengah diskusi yang mengalir egaliter, Seno juga menyoroti ironi rendahnya anggaran riset di Indonesia yang hanya mencapai 4,7 triliun rupiah. Ia membandingkannya dengan dana riset Tiongkok yang mencapai belasan ribu triliun, sebuah fakta yang membuat suasana diskusi sejenak hening merefleksikan ketertinggalan bangsa. Seno menegaskan bahwa menurutnya Trisakti itu adalah berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan yang hanya bisa dicapai jika Indonesia menghormati ilmu pengetahuan dan teknologi.

Membedah Makna Pancasila di Kota Lahir Bung Karno

Suasana di Warkop Eden semakin dinamis ketika Seno mengingatkan bahwa Surabaya adalah “kota dialektis” tempat Bung Karno dahulu menempa pemikiran di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Ia menyerukan agar pemuda Surabaya menjadi garda terdepan melawan upaya “de-Soekarnoization” atau upaya masif di media sosial untuk menjauhkan anak muda dari pemikiran asli Sang Proklamator. Baginya, riuhnya diskusi malam itu di Dukuh Kupang adalah bukti bahwa tradisi bertukar pikiran intelektual di Surabaya belum padam.

Seno juga membedah makna Pancasila secara utuh, bukan secara terfragmentasi. Ia menekankan bahwa kemanusiaan harus bertuhan dan persatuan harus berkeadilan sosial. Tanpa pemahaman yang utuh, ia memperingatkan bahwa agama bisa disalahgunakan untuk membubarkan ibadah orang lain, atau nasionalisme bisa berubah menjadi fasisme.

“Membaca Pancasila kalau versinya Bung Karno harus utuh. Kemanusiaan itu harus kemanusiaan yang bertuhan, berkeadilan, berdemokrasi, bersatu,” terangnya dengan suara yang menggema di seluruh sudut warkop.

Melihat banyaknya mahasiswa yang hadir, Seno mengajak mereka untuk tidak hanya bangga pada simbol-simbol visual, tetapi pada “api” produktivitas. Ia menceritakan betapa produktifnya Bung Karno yang mampu menulis 300 artikel dalam setahun untuk menyebarkan ide kemerdekaan. Seno ingin anak muda Surabaya meneladani etos kerja intelektual tersebut di era digital, di mana perhatian (attention economy) kini menjadi mata uang baru yang sangat berharga.

Peserta diskusi mengajukan pendapat atau pertanyaan kepada Seno Bagaskoro di Warkop Eden, Jalan Dukuh Kupang, Surabaya, Selasa (30/6/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Perubahan Besar Lahir dari Rasa Percaya Diri

Dalam sesi tanya jawab, audiens yang di dominasi oleh Gen Z tampak aktif menggali pandangan Seno tentang kedaulatan ekonomi. Seno menjawab dengan lugas bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar terbesar bagi komoditas asing. Ia mendorong agar bangsa ini punya kepercayaan diri untuk berdiri sejajar dan memimpin dalam isu-isu global seperti konservasi lingkungan dan rehabilitasi alam.

Manifesto “Warisi Apinya, Bukan Abunya” benar-benar terasa nyata saat Seno memberikan pesan penutup yang membakar semangat. Ia meyakini bahwa perubahan besar bangsa harus dimulai dari keberanian untuk percaya diri dan tidak merasa minder di hadapan bangsa asing.

“Bangun dulu rasa kepercayaan diri kita sebagai bangsa bahwa kita setara dengan siapapun. Sebagai bangsa, kita bisa berdialog dengan mereka,” ujarnya yang langsung disambut dengan tepuk tangan riuh dan sorakan dari para pengunjung.

Malam itu di Taman Eden, Aryo Seno Bagaskoro tidak hanya sedang berdiskusi; ia sedang merumuskan ulang identitas politik anak muda Surabaya. Dengan gaya komunikasinya yang tajam dan visi digital yang visioner, ia membuktikan bahwa politik bisa tetap keren dan relevan tanpa kehilangan akar sejarah. Warkop Eden menjadi saksi bahwa api pemikiran Bung Karno masih berkobar di tangan generasi yang tepat, siap menerangi jalan panjang kedaulatan bangsa di masa depan. (js/red)

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.