Jurnalis Radio Dua Tahun Nyaris Depresi Tanpa Tahu Kesalahan
Selama menjadi jurnalis di media tersebut belum terpikir untuk pindah kerja ke media lain, mengingat volume pekerjaan dan gaji bulanan yang diterima tidak banyak berbeda. Ia lebih memilih untuk bekerja dengan media yang sekarang ini. Relatif masih bisa menjalani target yang diinginkan perusahaan, meski tidak bisa mendapatkan hasil yang excelent.
Untuk melampiaskan tekanan di lingkungan kerja, pria penyuka lagu-lagu pop Jawa itu, lebih memilih berinteraksi sesama teman sejawat atau jurnalis media lain. Sesekali kejenuhan bekerja ditumpahkan dengan tarik suara di ruang karaoke. Ia juga lebih memanfaatkan family time semaksimal mungkin. “Saya tidak punya hobi olah raga tertentu, gaya hidup biasa saja, tidak merokok, juga tidak ikut organisasi apa pun. Habis liputan sesuai target segera pulang bermain bersama anak dan kumpul keluarga,” kiatnya.
Pusing Target Iklan Setiap Akhir Bulan
Selain jurnalis, dalam industri media massa juga ada bagian pemasaran produk dan pemasaran iklan. Mereka juga masuk kategori dalam pekerja media. Kendati job disc berbeda, namun pemasaran iklan dan produk dituntut untuk mengetahui isi dapur dari media massa yang akan dijualnya kepada pelanggan. Bahkan saat ini, kelangsungan industri media massa sangat bergantung pada pendapatan media dari unit usaha bisnis miliknya.
Kalau jurnalis dituntut menghasilkan konten berita/tayangan yang menarik, maka unit iklan dan sirkulasi harus bisa menjual konten berita itu dibaca atau ditonton sebanyak-banyaknya orang. Setelah dapat banyak pembaca maka bagian iklan akan lebih mudah untuk menawarkan space iklannya kepada korporasi atau individu pengusaha untuk memasang iklan di media massa mereka.
Ditengah persaingan industri media massa ditambah maraknya kanal-kanal podcast yang populer, youtuber atau konten kreator dengan follower jutaan orang, maka mencari pendapatan dari iklan adalah kerja yang luar biasa beratnya.
“Satu per satu perusaaan yang dulu menjadi klien pemasang iklan kami tiba-tiba beralih dengan munculnya penjualan online melalui e-commerce seperti shopee, toko pedia dll. Selain itu perusaahaan swasta juga bisa bikin konten yang kemudian diiklankan sendiri melalu berbagai platform digital miliknya atau melalui media sosial seperti YouTube, facebook, podcast, TikTok, instagram, dan lain-lain,” kata seorang senior account executive (AE) divisi iklan di sebuah media massa, kepada Super Radio, Rabu (9/10/2024).
Dijelaskannya, pembaca media cetak saat ini sudah anjlok jika tidak boleh dibilang habis. Lantaran saat ini aneka berita bisa dihadirkan oleh berbagai portal berita online yang bisa dinikmati melalui telepon selular atau laptop melalui jaringan internet. Bahkan, saat ini dengan hadirnya internet setiap orang bisa dengan cepat mengakses informasi dari segala penjuru, kota, pulau, negara, bahkan dunia. “Saat ini yang saya jual kepada calon pemasang iklan adalah skema promosi melalui konvergensi media milik kami. Masalahnya, secanggih apapun saya presentasi tapi jika media tempat saya bekerja abai dengan tren pemberitaan multi platform, atau abai menggalang engagement (keterikatan) dengan audience, maka jangan harap bisa meraih iklan,” ungkapnya.
Situasi dan kondisi saat ini terkadang tidak terbaca dengan cermat, sementara perusahaan memasang target tinggi pendapatan iklan setiap tahun, sementara ekosistem internal tidak mendukung. “Setiap tahun target naik. Rata-rata sebulan saya harus bisa tarik iklan sebesar Rp350 juta, padahal persaingan media sangat ketat. Ini bikin stres setiap akhir bulan,” keluhnya.
Sebagai pekerja dibidang iklan senior yang sudah banyak relasi, ia cukup bisa bertahan dengan membuat daftar kunjungan ke klien yang pernah terhubung dengannya. Tapi bagi AE junior yang tidak cukup ulet, tidak akan bertahan lama di pekerjaan ini. “Saya pun juga pernah gagal mancapai target bulanan, bahkan akhir tahun, meski ada sanksi tidak dapat bonus tapi saya sikapi biasa saja, yang penting saya sudah tunjukkan kerja terbaik dan sepanjang karir di dunia periklanan tidak sampai melakukan kesalahan fatal, misalnya korupsi uang iklan dan semacam itu,” kiatnya.
Untuk mengatasi stres atas tekanan beban kerja, pekerja media yang punya wilayah kerja di Malang Raya dan sekitarnya itu lebih memilih rekreasi dengan main futsal, bulu tangkis, atau healing ke luar kota bersama keluarga.

Merespons meningkatnya tuntutan perusahaan dengan menaikkan target kinerja, Dananto menilai sudah jamak setiap perusahaan yang berorientasi profit menaikkan target kinerja secara periodik. Penaikkan target itu ujungnya untuk peningkatan hasil, baik berupa peningkatan rating, oplah atau revenue (cuan).
Sementara faktual kondisi perekonomian sedang tidak baik baik saja. Perusahaan yang menanggung biaya produksi dan karyawan dihadapkan persaingan yang superketat. Jelas kondisi ini menambah beban/stres perusahaan yang nantinya akan diturunkan kepada pekerjanya dalam bentuk target perusahaan.
Namun untuk memitigasi kemungkinan konflik terkait kenaika target, perusahaan harus ingat, manusia punya kebutuhan sehari hari. Perusahaan setidaknya bisa memberi empati jika belum bisa meningkatkan gaji atau kesejahteraan pekerjanya. Meski perusahaan tidak bisa menjamin keamanan atau keberlangsungan kerja pegawainya, minimal manajemen care peduli mendengarkan keluhan para pekerja, mau duduk bersama dengan mengatakan, we are in the same boat, perahu kita jalan sama-sama.
Hanya saja perlu dicermati, usaha mengajak bekerjakeras bersama harus ditunjukkan dengan sikap tidak bisa hanya retorika ucapan saja. Ini dimaksudkan meminimalisir kesenjangan antara manajemen pada level tertinggi terhadap level terendah sebuan perusahaan. “Pada saat ekonomi sulit, apakah orang level terendah melihat pimpinan tertinggi hanya duduk-duduk dengan fasilitas nyaman ber ac, life style kuliner sana sini, barang branded, gaji tinggi. itu situasi yang paling tidak ideal,” warning Dananto.
Berbeda jika manajemen terbuka, merangkul, duduk bersama maka bisa timbulkan kebersamaan. Ibarat perahu, mari dayung bersama karena jika bocor maka semua penumpang akan tenggelam bersama. Jika itu bisa dibangun akan menimbulkan semangat corsa. Solusi menciptakan kondisi setiap orang merupakan bagian penting dalam perusahaan itu bisa menjadi solusi mengatasi stressor yang datangnya dari luar (structural) yang tidak bisa dikontrol oleh manajemen .
“Model seperti ini sudah dicontohkan oleh Jac Welch, CEO General Electric saat baru ambil alih perusahaan yang bangkrut, yakni menerapkan model bonderyless, artinya kurang lebih, tidak ada sekat (antara manajemen dengan pekerja –red),” papar Dananto.
Mencontoh model bonderyless itu, maka ketika jumlah karyawan banyak, manajemen bisa mengajak perwakilan satu unit usaha untuk ikut duduk bersama berbicara alternatif inovasi yang bisa dikerjakan. Dengan cara lain misal memanfaatkan teknologi informasi, pimpinan perusahaan membuka google form , email, yang membuka dan menerima berbagai usulan (evaluasi) dari bawah. Ide yang baik diapresiasi dan dilaksanakan bahkan penggagasnya diberi reward. Ide yang kurang baik akan tetap direspons dengan sewajarnya dan jadi bahan diskusi. “Jadi membuat sistem agar karyawan di level paling bawah mendapat akses untuk berkomunikasi dengan para pimpinan tertinggi di perusahaan, ini efektif membangun hubungan harmonis manajemen dengan pekerja,” cetus Dananto.
Tampilkan SemuaTags: Kesehatan mental, pekerja media, RSJ Menur, superradio, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





