Kantin Kejujuran Sekolah Merugi, Bangun Karakter Siswa Tak Sia-sia

Rudy Hartono - 7 June 2024
Siswa SDN Kendangsari IV Surabaya mencatat aneka jajanan, makanan dan minuman yang ditawarkan di Kantin Kejujuran. Jajanan itu bikinan orang tua siswa. (foto: istimewa)

SR, Surabaya – Pendidikan anak merupakan aspek penting dalam pembentukan generasi mendatang. Diharapkan saat memasuki Indonesia Emas 2045, bangsa Indonesia akan dipenuhi generasi penerus yang berkarakter tangguh.

Kemendikbud memasukkan karakter-karakter positif siswa didik itu ke dalam Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di dalam Sistem Merdeka Belajar. Adapun profil pelajar Pancasila yang hendak diwujudkan yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, serta kreatif.

Berpegangan pada misi itu, SDN Kendangsari IV Surabaya mencoba menanamkan karakter siswa yang berintegritas dan berakhlak mulia dengan menyelenggarakan “Kantin Kejujuran” yang dijadwalkan setiap hari senin hingga jumat.

Wakil Kepala Kurikulum SDN Kendangsari IV, Titik Supriati, menjelaskan “Kantin Kejujuran” itu dimaksudkan melatih siswa-siswi menjunjung tinggi nilai kejujuran seperti profil pelajar Pancasila yang diinginkan yakni siswa yang berakhlak mulia.

Di “Kantin Kejujuran” yang diperjual belikan aneka makanan dan minuman. Siswa tidak hanya sebagai pembeli tapi juga ada siswa yang berlaku sebagai penjual. Aktivitas ini sejatinya juga melatih siswa untuk berwirausaha.

“Setiap kelas akan diberi giliran untuk menjual makanan atau minuman di kantin. Ada yang bawa sate puyuh, gorengan, makanan, itu semua buatan orang tua siswa. Jumlah makanan yang akan dijual tidak banyak, ditaruh sendiri di meja dan mereka bukukan,” kata Titik.

Setelah itu makanan atau minuman tersaji di kantin itu mereka tinggalkan tanpa ada petugas jaga. Pada saat jam istirahat tiba, siswa-siswi yang ingin membeli bisa mendapatkan makanan secara self service.

Pembeli bisa melihat harga makanan yang sudah tertera, kemudian membayar dengan memasukkan uang ke dalam keranjang uang. Pun jika uang yang dibayarkan lebih besar dari harga makanan, pembeli bisa ambil kembalian dari dalam keranjang uang itu.

Meski siswa dibebaskan membayar dan mengambil kembalian secara mandiri, namun pihak sekolah tak lepas tangan. Ketika ada siswa pembeli yang kesulitan menghitung nominal yang akan dibelanjakan, guru yang memantau dari jauh akan memberi bantuan.

“Untuk siswa kelas 1 dan 2, saat membayar makanan yang dibeli sering dibantu kakak kelasnya. Jadi dibantu untuk menentukan harus ambil kembalian berapa. Terkadang siswa kelas 1 dan 2 bertanya kepada guru yang memang selalu memantau aktivitas Kantin Kejujuran itu dari jauh. Tentu, kami akan bantu siswa bertransaksi sembari megajarkan berhitung uang,” terang Titik.

Aktivitas “Kantin Kejujuran” itu masih berlangsung hingga saat ini, namun pihak sekolah mengakui kalau masih sering mendapat laporan bahwa uang hasil penjualan yang terkumpul ada selisih kurang bayar. “Artinya ada siswa yang tidak membayar saat mengambil makanan atau minuman di Kantin Kejujuran,” ungkap Titik.

Apakah dengan kejadian itu membuat jera para siswa untuk berjualan lagi? Faktanya, hingga kini Kantin Kejujuran Sekolah SDN Kendangsari IV masih berlangsung. “Kami paham meskipun banyak kecolongan, tapi paling tidak kami terus menanamkan jiwa enterpreneur yang pantang menyerah. Kepada siswa kami terus ingatkan berlaku jujur di Kantin Kejujuran karena uang hasil jualan makanan itu sangat berarti bagi ekonomi teman yang berjualan,” terang Titik.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari Bisowarno. Foto : (Istimewa)

Membangun Karakter Bangsa

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jatim Sri Untari Bisowarno setuju bahwa penanaman nilai kejujuran dan integritas merupakan hal yang penting dalam usaha mencetak generasi yang berkualitas.

Ia juga setuju ketika mengetahui Kemendikbud saat ini menerapkan program P5 kepada siswa didik. Pasalnya, falsafah Pancasila berisi nilai-nilai luhur yang membangun karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.

“Sejatinya pendidikan Pancasila, sudah cukup menjadi pondasi, melingkupi seluruh pilar dasar pola asuh, membentuk generasi emas 2045. Sayangnya (selama ini -Red) hal tersebut belum maksimal diterapkan,” cetus Sri Untari.

“Selama ini sistem pendidikan nasional mengekor sistem negara lain, gaya barat atau gaya timur, yang materi dan nilai-nilainya belum tentu cocok dengan budaya bangsa,” imbuh politisi dari PDI Perjuangan.

Sementara itu Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo menerangkan saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan Kurikulum Merdeka kepada siswa didik SD, SMP dan SMA.

Untuk mencetak siswa unggul dan berkompeten, Kurikulum Merdeka mendorong sekolah menerapkan program tambahan yang tidak wajib, yakni Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Program bersifat kokurikuler itu diharapkan bisa memperkuat pencapaian kompetensi siswa.

P5, lanjut Juli, memuat enam tema umum: Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Rekayasa dan Teknologi, sampai dengan Kewirausahaan.

Kemendikbud meyakini nilai-nilai Pancasila dapat memberi pondasi dalam pembentukan karakter siswa yang tangguh di tengah pergaulan masyarakat domestik maupun dalam pergaulan global.

Menanggapi Kantin Kejujuran SDN Kendangsari IV Surabaya, Juli memastikan aktivitas itu masuk dalam P5. “Itu masuk tema Kewirausahaan dan Bangunlah Jiwa dan Raga sekaligus. Semakin kompleks impact projek semakin banyak tema yang berhasil dikembangkan,” puji Juli.

Tampilkan Semua

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.