Kantin Kejujuran Sekolah Merugi, Bangun Karakter Siswa Tak Sia-sia

Rudy Hartono - 7 June 2024
Siswa SDN Kendangsari IV Surabaya mencatat aneka jajanan, makanan dan minuman yang ditawarkan di Kantin Kejujuran. Jajanan itu bikinan orang tua siswa. (foto: istimewa)

SR, Surabaya – Pendidikan anak merupakan aspek penting dalam pembentukan generasi mendatang. Diharapkan saat memasuki Indonesia Emas 2045, bangsa Indonesia akan dipenuhi generasi penerus yang berkarakter tangguh.

Kemendikbud memasukkan karakter-karakter positif siswa didik itu ke dalam Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di dalam Sistem Merdeka Belajar. Adapun profil pelajar Pancasila yang hendak diwujudkan yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, serta kreatif.

Berpegangan pada misi itu, SDN Kendangsari IV Surabaya mencoba menanamkan karakter siswa yang berintegritas dan berakhlak mulia dengan menyelenggarakan “Kantin Kejujuran” yang dijadwalkan setiap hari senin hingga jumat.

Wakil Kepala Kurikulum SDN Kendangsari IV, Titik Supriati, menjelaskan “Kantin Kejujuran” itu dimaksudkan melatih siswa-siswi menjunjung tinggi nilai kejujuran seperti profil pelajar Pancasila yang diinginkan yakni siswa yang berakhlak mulia.

Di “Kantin Kejujuran” yang diperjual belikan aneka makanan dan minuman. Siswa tidak hanya sebagai pembeli tapi juga ada siswa yang berlaku sebagai penjual. Aktivitas ini sejatinya juga melatih siswa untuk berwirausaha.

“Setiap kelas akan diberi giliran untuk menjual makanan atau minuman di kantin. Ada yang bawa sate puyuh, gorengan, makanan, itu semua buatan orang tua siswa. Jumlah makanan yang akan dijual tidak banyak, ditaruh sendiri di meja dan mereka bukukan,” kata Titik.

Setelah itu makanan atau minuman tersaji di kantin itu mereka tinggalkan tanpa ada petugas jaga. Pada saat jam istirahat tiba, siswa-siswi yang ingin membeli bisa mendapatkan makanan secara self service.

Pembeli bisa melihat harga makanan yang sudah tertera, kemudian membayar dengan memasukkan uang ke dalam keranjang uang. Pun jika uang yang dibayarkan lebih besar dari harga makanan, pembeli bisa ambil kembalian dari dalam keranjang uang itu.

Meski siswa dibebaskan membayar dan mengambil kembalian secara mandiri, namun pihak sekolah tak lepas tangan. Ketika ada siswa pembeli yang kesulitan menghitung nominal yang akan dibelanjakan, guru yang memantau dari jauh akan memberi bantuan.

“Untuk siswa kelas 1 dan 2, saat membayar makanan yang dibeli sering dibantu kakak kelasnya. Jadi dibantu untuk menentukan harus ambil kembalian berapa. Terkadang siswa kelas 1 dan 2 bertanya kepada guru yang memang selalu memantau aktivitas Kantin Kejujuran itu dari jauh. Tentu, kami akan bantu siswa bertransaksi sembari megajarkan berhitung uang,” terang Titik.

Aktivitas “Kantin Kejujuran” itu masih berlangsung hingga saat ini, namun pihak sekolah mengakui kalau masih sering mendapat laporan bahwa uang hasil penjualan yang terkumpul ada selisih kurang bayar. “Artinya ada siswa yang tidak membayar saat mengambil makanan atau minuman di Kantin Kejujuran,” ungkap Titik.

Apakah dengan kejadian itu membuat jera para siswa untuk berjualan lagi? Faktanya, hingga kini Kantin Kejujuran Sekolah SDN Kendangsari IV masih berlangsung. “Kami paham meskipun banyak kecolongan, tapi paling tidak kami terus menanamkan jiwa enterpreneur yang pantang menyerah. Kepada siswa kami terus ingatkan berlaku jujur di Kantin Kejujuran karena uang hasil jualan makanan itu sangat berarti bagi ekonomi teman yang berjualan,” terang Titik.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari Bisowarno. Foto : (Istimewa)

Membangun Karakter Bangsa

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jatim Sri Untari Bisowarno setuju bahwa penanaman nilai kejujuran dan integritas merupakan hal yang penting dalam usaha mencetak generasi yang berkualitas.

Ia juga setuju ketika mengetahui Kemendikbud saat ini menerapkan program P5 kepada siswa didik. Pasalnya, falsafah Pancasila berisi nilai-nilai luhur yang membangun karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.

“Sejatinya pendidikan Pancasila, sudah cukup menjadi pondasi, melingkupi seluruh pilar dasar pola asuh, membentuk generasi emas 2045. Sayangnya (selama ini -Red) hal tersebut belum maksimal diterapkan,” cetus Sri Untari.

“Selama ini sistem pendidikan nasional mengekor sistem negara lain, gaya barat atau gaya timur, yang materi dan nilai-nilainya belum tentu cocok dengan budaya bangsa,” imbuh politisi dari PDI Perjuangan.

Sementara itu Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo menerangkan saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan Kurikulum Merdeka kepada siswa didik SD, SMP dan SMA.

Untuk mencetak siswa unggul dan berkompeten, Kurikulum Merdeka mendorong sekolah menerapkan program tambahan yang tidak wajib, yakni Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Program bersifat kokurikuler itu diharapkan bisa memperkuat pencapaian kompetensi siswa.

P5, lanjut Juli, memuat enam tema umum: Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Rekayasa dan Teknologi, sampai dengan Kewirausahaan.

Kemendikbud meyakini nilai-nilai Pancasila dapat memberi pondasi dalam pembentukan karakter siswa yang tangguh di tengah pergaulan masyarakat domestik maupun dalam pergaulan global.

Menanggapi Kantin Kejujuran SDN Kendangsari IV Surabaya, Juli memastikan aktivitas itu masuk dalam P5. “Itu masuk tema Kewirausahaan dan Bangunlah Jiwa dan Raga sekaligus. Semakin kompleks impact projek semakin banyak tema yang berhasil dikembangkan,” puji Juli.


Bangunlah Jiwa dan Raganya Menuju Bangsa yang Besar

Apel pagi SDN Baratajaya menyanyikan lagu kebangsaan sebelum mulai pembelajaran. (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Lebih jauh Juli mengatakan bahwa pelaksanaan P5 itu berbasis projek yang dilakukan secara fleksibel dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Terdapat enam tema umum yang diusulkan dalam P5. Mulai dari Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Rekayasa dan Teknologi, sampai dengan Kewirausahaan.

“Tapi khusus untuk Sekolah Dasar (SD), hanya bisa menerapkan 2 hingga 3 proyek profil dengan tema yang berbeda. Penerapannya pun disesuaikan dengan kemampuan sekolah,” terang Juli.

Ditambahkannya, karena bersifat projek maka Program P5 disarankan memanfaatkan metode pembelajaran yang interaktif yang memberi kesempatan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan juga pengembangan potensi diri

Dari enam tema yang diusung P5,yang paling banyak diterapkan di sekolah adalah tema Bangunlah Jiwa dan Raganya. Modul tema ini hakikatnya membangun jiwa dan mental peserta didik yang sehat, menjadi, dan memiliki sikap religius. Sedangkan membangun raga agar siswa didik memiliki tubuh yang sehat dan aktif.

Beberapa karakter jiwa dan mental yang sehat seperti kedisiplinan, kejujuran, kegotongroyongan, berketuhanan, dermawan, toleransi antarumat beragama, dll. Sedangkan usaha membangun raga seperti baris berbaris, senam pagi, membiasakan sarapan, turnamen olah raga, dan lain-lain.

Nilai karakter positif di banner diatas selasar antar kelas di SDN Baratajaya (foto :istimewa)

Nilai Positif di Seluruh Penjuru Sekolah

Seperti yang dilakukan SDN Baratajaya Surabaya, aktivitas untuk membentuk jiwa dan mental sehat dengan cara menanamkan karakter tata krama yang baik. Sekolah membiasakan siswa menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam. 3S ini wajib dipatuhi selama di lingkungan sekolah.

Dalam menanamkan watak yang berketuhanan, maka kelas 6 ada kegiatan salat sunnah dhuha. Sedangkan siangnya juga ada salat zuhur untuk siswa kelas 4-6 SD.

Tak hanya lewat pembiasaan, sekolah juga menanamkan ide perilaku luhur melalui pesan-pesan yang tertulis di berbagai sudut sekolah. Tujuannya agar siswa dimanapun berada di lingkungan sekolah akan membaca dan mengingat pesan pesan positif.

Misalnya pada anak tangga penghubung lantai 1 dan lantai 2, setiap anak tangga diberi pesan di antaranya: “Kritis”, “Hormat”, “Toleran”, “Sopan”, “Kreatif”, terus hingga ujung anak tangga.

Selain itu banner berisi pesan tulisan dipasang di bagian atas selasar antar kelas, bertuliskan “Ayo Belajar Meraih Cita-cita” dan masih banyak lagi tulisan positif yang memotivasi siswa.

“Apa yang kami lakukan ini seiring untuk penerapan karakter dan Kurikulum Merdeka,” kata Sjam Lahardo, Kepala Sekolah SDN Baratajaya kepada superradio.id.

Sedangkan penerapan sikap disiplin dan jiwa patriotik, sekolah mewajibkan siswa apel pagi yang pelaksanaannya dilakukan bergiliran. Dalam apel pagi ada aktivitas baris berbaris, pengibaran bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan membaca teks Pancasila.

“Kami memang berusaha menanamkan berbagai karakter positif dari P5 kepada siswa terkait Kurikulum Merdeka, tapi yang paling ingin kami kuatkan di sini (SDN Baratajaya Surabaya -Red) adalah karakter kerjasama, dan keyakinan pada Tuhan Yang Mahaesa,” ungkap Sjam. Karakter kerjasama dikuatkan lantaran dalam keseharian sekolah SDN Baratajaya sering melihat realitas hubungan antarsiswa yang berselisih paham.

“Untuk menilai apakah indikator pendidikan karakter itu berhasil, kami melihat dari kesehariannya. Jadi semisal ada anak jatuh lalu ditolong, itu saya kira sudah berhasil pembelajaran karakternya,” tuturnya.

Suasana penyuluhan anti bullying oleh Mahasiswa Unair di ruang kelas diikuti siswa-siswi SD Dumas (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Saling Bantu Hal Kecil

Seperti halnya SDN Baratajaya, penguatan karakter gotong royong dan kerja sama juga ditekankan di SD Dumas, sekolah swasta yang berlokasi di pinggiran Surabaya yakni Jl Dupak Masigit III nomor 1, Jepara, Kecamatan Bubutan Surabaya.

“Kami memberikan pengertian ke anak-anak untuk saling membantu jika ada teman tiba-tiba pensilnya patah tapi tidak punya pensil Cadangan. Bapak atau ibu guru akan langsung tanya ke murid, siapa yang punya pensil Cadangan dan siapa yang mau berbagi,” kata Siti Jaenah, Kepala SD Dumas.

Selain itu penanaman watak gotong royong dan menjaga lingkungan ditetapkan di hari tertentu saat kerja bakti. Aktivitas menjaga lingkungan itu masuk penguatan modul Gaya Hidup Berkelanjutan.

“Kami punya acara yang kami sebut ‘Operasi Semut’. Ketika guru memberi instruksi ayo ‘Operasi Semut’, murid langsung bergegas untuk mencari sampah di sekitarnya dan membuangnya ke tempat sampah,” tukas Siti Jaenah sambil tersenyum.

Berbeda dengan SDN Kendangsari IV Surabaya, mereka memberi nama hari sesuai acara yang akan dimainkan bersama antara guru dan siswa. Misalnya, untuk penanaman disiplin dan kebangsaan dilakukan di hari senin, kemudian peningkatan keimanan kepada Tuhan Yang Mahaesa dilakukan di hari kamis, lalu penguatan fisik dan menjaga kelestarian lingkungan pada hari jumat.

“Kami memberi nama kegiatan kami, seperti ‘Senin Nasionalis’ karena hari itu dilaksanakan apel/upacara pagi, lalu ‘Kamis Religi’ acaranya salat dhuha atau istighotsah, ada lagi ‘Jumat Sehat Bersih’ berarti senam pagi, kerja bakti membawa bekal air minum tapi harus bawa tumbler, tidak boleh membawa botol plastik,” tutur Titik.


Kebudayaan Warisan Leluhur Jadi Produk Unggul Bangsa

Aktivitas tari remo siswa-siswi SDN Kendangsari IV Surabaya. (foto:istimewa)

Tema lain yang juga kerap dipraktekkan sekolah melaksanakan P5 adalah Kearifan Lokal. Bentuk aktivitasnya lebih bersifat seni dan budaya. Seni yang dimaksud bisa berupa seni tari tradisional, seni lukis atau seni musik termasuk tembang tembang kuno. Sedangkan budaya mencakup budaya tutur, tata krama, tata busana dan sebagainya.

SDN Kendangsari IV Surabaya memiliki setidaknya dua variasi aktivitas yang bertemakan Kearifan Lokal. Ada acara spontanitas seni dan tradisi berbahasa Jawa halus.

Seperti ditulis di atas, SDN Kendangsari IV punya sebutan spesial setiap harinya, salah satunya “Rabu Kreasi”.

Pada hari itu, merupakan ajang unjuk aksi kreativitas siswa. “Rabu Kreasi” merupakan hari yang paling dinanti siswa. Hari itu siswa bisa menampilkan kebolehan mereka seperti menyanyi, menari, boleh tampil tunggal maupun dalam kelompok.

“Rabu kreasi selalu dinanti murid karena kami bebaskan mereka untuk tampil berekspresi tapi tidak semua kelas, kami batasi beberapa tampilan saja,” kata Titik.

Masih di SDN Kendangsari IV, Sekolah yang berlokasi di Jalan Rungkut Mejoyo Selatan IX Surabaya itu punya hari “Selasa Budaya”. Bentuk aktivitasnya pembelajaran bahasa Jawa halus.

Titik pun menyebut, munculnya progam itu berawal dari keresahan sekolah yang melihat beberapa siswa bertutur kata kasar dan sikap kurang baik. Pihak sekolah memaklumi kodisi siswa lantaran mereka terpengaruh lingkungan sekitarnya.

“Tantangan sekolah kami, anak-anak kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke bawah dan pendatang yang tinggal di kos-kosan. Otomatis lingkungannya bercampur. Jadi kami berusaha untuk menata itu, supaya tutur kata siswa bisa halus,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya berupaya mengubah pola komunikasi. Anak diajarkan berbahasa jawa halus, bertutur kata baik, dan mengulik makna yang terkandung di tembang-tembang jawa.

“Kalau ada yang berkata kasar, kami tegur dengan kata-kata halus dan meluruskan kalau kata yang digunakan masih kasar, kami arahkan saja,” ucap Titik dan menurutnya program itu terbukti cukup efektif, perilaku anak-anak mulai membaik dan menunjukan perubahan positif.

Sementara itu kreasi seni siswa-siswi SDN Barata Jaya diwujudkan dalam bentuk pentas seni yang dilabeli Gebyar P5. Acara unjuk kreasi seni itu digelar sebelum penerimaan rapor siswa. Bahkan, Kepala SD Baratajaya, Sjam mengatakan gebyar P5 itu sebagai indikator keberhasilan pendidikan karakter.

“Khusus P5 akan kami selenggarakan sebelum penerimaan rapor yang akan kami buat gebyar. Akan ada penampilan hasil karya anak-anak, tari, nyanyi, dan sebagainya. Kami buat istilahnya kayak pentas,” sebut Sjam, Kepala SD Baratajaya.

Dosen Universitas Negeri Surabaya Ari Khusumadewi SPd MPd

Satu Projek Cakup Banyak Profil

Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ari Khusumadewi SPd MPd, menilai Kurikulum Merdeka dengan Progam P5 memang baik dalam mencetak siswa yang berkarakter dan mempunyai kompetensi tertentu.

P5 merupakan pendekatan proyek yang dirancang dengan cermat untuk memperkuat profil pelajar Pancasila, dengan fokus pada pengembangan karakter dan kreativitas siswa. Implementasinya memberikan keleluasaan kepada siswa untuk belajar dalam lingkungan formal yang lebih fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Manfaatnya bagi siswa meliputi peningkatan percaya diri, penyaluran hobi, pengembangan minat, keterlibatan aktif antar sesama, dan sebagai wadah untuk perkembangan karakter.

“Dalam program P5 outputnya berbentuk proyek. Mengapa berbentuk projek, karena fokus Kurikulum Merdeka ini pada diferensiasi siswa dimana setiap siswa itu punya karakter dasar berbeda-beda serta minat dan bakat berbeda pula,” papar Ari.

Untuk memudahkan guru mengarahkan projek yang boleh atau tidak, maka dibuatkan panduannya yakni P5. Dalam pelaksanannya, sangat dimungkinkan satu projek mencakup lebih dari satu profil P5.

Program kurikulum Merdeka belajar ini ingin menunjukkan bahwa setiap anak itu punya interes, punya kelebihan berbeda satu dengan lain. Perbedaan individu benar benar diperhatikan lalu dikembangkan lebih lanjut oleh sekolah. Jadi sekolah mestinya menghargai setiap perbedaan sifat, karakter, minat, kecerdasan masing masing anak didik. Perbedaan itu dihargai dalam rangka mengembangkan potensi anak itu.

“Menurut saya kurikukum Merdeka ini tidak seketat kurikulum sebelumnya. Itu dikarenakan kondisi anak di setiap sekolah itu berbeda sehingga yang akan dikembangkan berbeda.


Miskin Dana Tidak Miskin Upaya dan Rencana

Suasana penyuluhan anti bullying oleh Mahasiswa Unair di ruang kelas diikuti siswa-siswi SD Dumas (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Disebutkan out put dari Kurikulum Merdeka adalah projek, sehingga untuk mewujudkannya diperlukan perencanaan, persiapan hingga pelaksanaan. Pada proses itu diperlukan biaya tambahan.

Selain itu, penerapan P5 membutuhkan perubahan sistem dan metode pembelajaran yang berbeda dari kurikulum tradisional, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan dan mengimplementasikannya.

Kendala lainnya adalah kurangnya ketersediaan tenaga pengajar yang kompeten dalam mengajar P5. Hal ini dikarenakan P5 memerlukan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi dan keterampilan yang cukup dalam perencanaan, pemilihan, penganggaran, pengelolaan, dan penjaminan mutu pendidikan.

Atas permasalahan itu menurut dosen Universitas Negeri Surabaya itu, bisa dicarikan solusinya. Terkait biaya, maka projek dibuat sesuai kemampuan siswa yang bila dipandang perlu dapat melibatkan orang tua. Diakui ada sekolah yang orang tua siswa berlatar belakang ekonomi menegah atas dan sebaliknya ada sekolah dengan ekonomi orang tua siswa dominan menengah bawah.

“Karena Kurikulum Merdeka dibuat begitu fleksibel maka projek yang diusulkan juga menyesuaikan kemampuan siswa. Jadi, tidak mungkin sekolah menengah ke bawah bikin proyek yang mahal,” kata Ari.

Ditambahkannya, bahwa kurikulum Merdeka ini lebih menuntut effort yang lebih besar kepada guru tenaga pendidik. Disamping guru harus mengembangkan karakter dan bakat siswa-siswinya, guru juga dituntut menjadi fasilitator dan inspirator dalam membuat terobosan projek yang efisien dan juga efektif bagi siswa.

Kolaborasi Pihak Ketiga

Keterbatasan dana dan minimnya jumlah tenaga pendidik dialami SD Dumas. Sekolah swasta yang berlokasi di pinggiran Surabaya di Jalan Dupak Masigit III nomor 1, Jepara, Kecamatan Bubutan Surabaya hanya memiliki dua ruang kelas untuk proses belajar dan mengajar dan satu ruang guru.

Kendati begitu tidak membuat SD Dumas kecil hati. Kepala Sekolah SD Dumas Siti Jaenah lebih mengoptimalkan sumberdaya dari pihak ketiga yang peduli dengan pendidikan siswa. Karena untuk membebani orang tua siswa yang rata-rata ekonomi lemah sudah pasti tidak mungkin dilakukan.

Siswa di SD Dumas semuanya bersekolah gratis. Biaya operasional SD Dumas termasuk gaji guru, sepenuhnya didanai BOS (Bantuan Operasional Sekolah) nasional dan BOS Daerah. Untuk perbaikan sekolah, jika ada kerusakan, SD Dumas dapat bantuan dari Dinas Pendidikan.

Penanaman karakter sebagaimana diinginkan P5, SD Dumas lebih banyak membekali siswa dengan aktivitas keagamaan seperti pembiasaan salat dhuha dan mengaji tilawah. Sekolah dengan jumlah 139 siswa itu hanya memiliki empat guru pengajar dan dua guru ekstrakurikuler.

“Untuk mengetahui progres pendidikan karakter, kami dorong siswa mengikuti ajang lomba baca Al-Quran atau dakwah Pildacil di tingkat kampung,” ungkap Siti Jaenah.

Aktivitas lainnya melibat orangtua dalam kegiatan parenting pada moment Hari Ibu dimana siswa dibimbing untuk bisa mengucap terima kasih kepada orang tua. Selain itu juga pernah kegiatan orang tua dan siswa memilih tokoh idola. “Jadi yang kami pilih adalah kegiatan-kegiatan di dalam gedung kelas,” kata Siti Jaenah.

Penguatan karakter siswa terkait tema Bangunlah Jiwa dan Raganya diisi kegiatan ekstrakurikuler silat, tapak suci, tari, hadrah yang diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6.

Kendati SD Dumas minim pembiayaan, namun pendidikan karakter siswa bisa dibantu oleh pihak ketiga yang peduli dengan pendidikan, antara lain: Komnas Perlindungan Anak, ‘kakak asuh’ dari Universitas di Surabaya, dam perkumpulan mahasiswa Wipos. “Kami menerima dengan terbuka jika ada mahasiswa yang ingin memberikan pembelajaran terkait karakter,” ujarnya.

Beberapa materi yang diberikan ‘kakak asuh’, di antaranya tentang penyuluhan terkait bullying. Menurutnya ini sangat membantu penanaman karakter positif.

Dinas Pendidikan Siapkan Model Rapor P5

Karakter-karakter positif disematkan di anak tangga di SDN Baratajaya Surabaya agar selalu terbaca saat siswa melintas. (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Bagaimana menilai perkembangan karakter siswa SD berdasarkan P5 Kurikulum Merdeka? Ari menerangkan bahwa penilaian profile Pancasila p5 seharusnya tertuang dalam rapor tersendiri yang terpisah dari rapor akademik. “Setahu saya, setiap satu tema itu satu profil ada rapor sendiri-sendiri berdasarkan projek yang dikerjakan siswa. Soal pelaksanannya sangat tergantung pada kreativitas masing masing guru,” kata Ari.

Adapun cara penilaian dengan memasukkan parameter kemampuan dan kompetensi saat mengerjakan projek. “Jadi yang dimasukkan nilai misalnya bagaimana jiwa sosial, kerja sama, spiritual, dan seterusnya,” imbuhnya.

Merujuk sejumlah sumber, laman Rapor P5 berbeda dengan rapot kurikulum biasa karena dalam rapor P5 bukan berupa angka tetapi nilai BB (Belum Berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan), SB (Sudah Berkembang).

Penilaian tersebut juga disesuaikan dengan dimensi pada saat P5 seperti beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotongroyong, dan kreatif.  Mengenai penilaian P5, SDN Kendangsari V dan SD Dumas, belum dilakukan sebagaimana idealnya.

Waka SDN Kendangsari IV Titik Supriati mengaku bahwa Kurikulum Merdeka baru diberlakukan kepada kelas 1 dan kelas 4. Sedangkan siswa kelas 2, 3, 5,dan 6 nilai karakter siswa masih menggunakan Kurikulum 2013.

“Ini tahun pertama kami terdaftar kurikulum merdeka, jadi kelas lainnya masih memakai Kurikulum 2013. Tapi tetap kami sisipi pembelajaran tentang Kurikulum Merdeka, baik berupa karakter, disiplin positif, pembelajaran berdiferensiasi, juga karya anak-anak,” kata Titik.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa penilaian karakter siswa ada penilaian sikap oleh para guru ke murid-murid mulai dari sikap sosial ke teman lain, cara berteman dengan siswa lain, sikap terhadap guru. “Kalau dirasa murid masih kurang dalam karakter maka akan ada bimbingan hingga komunikasi dengan wali murid via whatsapp atau juga datang ke rumah siswa,” sebutnya.

Hingga kini, pihaknya juga terus melakukan evaluasi guna perbaikan dalam penerapan sistem dan juga monitoring perkembangan karakter siswa. “Kami masih perlu bertukar pikiran dengan rekan sejawat, hingga mebangun sinergi dengan pihak luar, baik untuk siswa maupun program parenting wali murid,” tegasnya.

Berbeda dengan SDN Kendangsari 4, penerapan Kurikulum Merdeka lebih merata diberlakukan di SDN Baratajaya Surabaya. Sabagai salah satu sekolah terbaik di Surabaya menurut penilaian Kementerian pendidikan, membuat pihaknya menyiapkan berbagai program pengembangan karakter.

Kepala Sekolah SDN Baratajaya Sjam Lahardo menyebutkan, pengembangan karakter dimulai dari jenjang kelas 1 SD. Di fase itu murid akan diberi pengarahan terkait karakter dasar. Selanjutnya di pertengahan semester dilakukan evaluasi terkait akademis dan karakter siswa.

“Kami ada Penilaian di rapor, dan penilaian P5. Ada penilaiannya di semester dua. Kegiatan khusus untuk P5 itu saya serahkan ke guru-gurunya. Pengarahan ke murid soal penilaian P5 itu sudah disosialisasikan mulai kelas satu,” ujarnya.

Khusus pendidikan karakter juga terdapat poin khusus lewat perkembangan sikap siswa. Poin-poin itu nantinya diakumulasikan dan di evaluasi bersama wali murid saat pengambilan rapor. “Indikator pendidikan karakter itu berhasil, kami lihat dari kesehariannya, kalau ada anak jatuh lalu ditolong, itu saya kira sudah berhasil pembelajaran karakternya,” tuturnya.

SDN Baratajaya mengaku penerapan pendidikan karakter belum sepenuhnya berhasil. Salah satunya karena faktor kesiapan guru. Karena itu pihaknya akan terus meningkatkan kapasitas lewat kerjasama dengan pihak luar, menggelar pelatihan-pelatihan tenaga pendidik, hingga tukar pendapat dengan rekan sejawat.

“Kendala pasti ada karena guru-guru juga baru mendapatkan pelatihan karena kurikulum merdeka itu juga baru, jadi kami masih tahap belajar. Kalau pelatihan guru kami dapat dari Dinas tentang kurikulum merdeka dan ini sudah tahun kedua, untuk guru kelas 1,2,4,5, masih belum 100 persen tapi kami mengarah ke yang lebih baik,” jelasnya.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo

Orang Tua Puas P5

Merespons pelaksanaan Kurikulum Merdeka, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo  mengatakan sesungguhnya pendidikan karakter siswa SD di lingkup pendidikan di Surabaya sudah berjalan baik.

Memang belum semua sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka secara menyeluruh. Namun, sekolah di Surabaya sudah menerapkan pendidikan karekter mengikuti Kurikulum 2013.

“Kurikulum Merdeka ini sejatinya lanjutan dari Kurikulum 2013 dengan penambahan penyampaian yang lebih menyenangkan berupa projek yang di dalamnya akan diisi atau diselipi dengan nilai-nilai Pancasila seperti kerjasama, gotongroyong, menghargai teman dan sebagainya,” kata Juli.

Menurut Juli, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyadari bahwa lembaga pendidikan adalah salah satu lembaga yang akan membekali dan penanaman karakter kepada siswa didik seperti bagaimana menghargai orang tua, sopan santun, dan tingkah laku baik.

Pendapat Juli terkait penerapan karakter Pancasila dalam Kurikulum 2013 terkonfirmasi oleh observasi yang dilakukan Tim Super Radio yang mewawancarai orang tua siswa yang anaknya sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Menggunakan daftar pertanyaan yang disebar, didapatkan hasil bahwa 70-90 persen orang tua yang ditemui menyatakan anaknya telah mendapatkan materi penguatan karakter di sekolah.

Adapun karakter yang diberikan sekolah berupa: penguatan keimanan kepada Tuhan Yang Mahaesa, penanaman nasionalisme kebangsaan, dan jiwa kemandirian tak bergantung teman. Selain itu, sekolah juga telah menanamkan sikap suka gotong royong, kerjasama dalam menjalankan tugas kelompok, serta penanaman integritas berupa kejujuran dan menjunjung tinggi etika dan moral.


Mental Toleran Mencegah Bibit Radikalisme

Siswa SDN Kendangsari IV Surabaya rutin melaksanakan upacara bendera untuk meningkatkan kedisiplinan dan nilai kebangsaan.

SDN Kendangsari IV menyatakan ingin terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan penerapan P5. Melalui Waka Kurikulum Titik, mengatakan penguatan karakter anak didik sangat penting di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman makin pesat.

Ditambah lagi, kemudahan akses informasi melalui internet membuat anak rawan terpengaruh hal-hal negatif yang dikemas dalam bentuk tontonan film atau game.

Titik pun mengaku, tak mudah mencapai progress pengembangan karakter seperti yang diinginkan. Bahkan pernah kejadian, beberapa orang seorang siswa diam-diam menjadi member suatu komunitas kelompok pengajian tertentu. Kelompok itu jumlahnya ribuan bahkan jutaan, yang kerap membuat acara doa dengan berpindah-pindah tempat.

“Mereka ketahuan ikut kelompok itu karena tidak pulang ke rumah tiba-tiba anak-anak kami itu diajak berkeliling dengan grup itu. Khawatir terpapar radikalisme maka kami lalu ambil tindakan, kerjasama dengan kepolisian, Koramil, Kecamatan,” ungkap Titik.

Siswa Terus Mencari Idola

Menanggapi kekhawatiran anak terpapar bibit radikal atau pengaruh negatif lainnya, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Ermida Simanjuntak menjelaskan, fenomena tersebut merupakan ekses dari kebingungan anak mencari role model dalam hidup.

Seperti diketahui, dalam masa pertumbuhan, ada fase dimana anak meniru perilaku orang dewasa terdekatnya. Ketika orang terdekat, utamanya orang tua dan keluarga tidak memberikan perhatian pada anak, maka anak akan mencari role model pada orang lain.

Apalagi, lanjutnya, generasi saat ini dimudahkan dengan teknologi. Menurut laporan We Are Social, pada Januari 2024 ada 185 juta individu pengguna internet di Indonesia, setara 66,5% dari total populasi nasional yang berjumlah 278,7 juta orang. Dengan data ini, sudah tampak kerawanan informasi yang diakses anak jika tanpa pengawasan.

“Yang menjadi acuan bagi generasi muda adalah yang ada di media sosial, sehingga kalau orang tua belum menjadi role model yang baik, mereka akan mencari role model lain yang terlihat bagus dan megah,” jelasnya.

Kurangnya komunikasi di dunia nyata membuat anak cenderung tak peka lingkungan sekitar. Kebiasan menggunakan gawai membuat cara berelasinya seperti dengan mesin yang tanpa batasan dan sopan santun.

“Kami lihat sekarang juga banyak anak yang akhirnya cara berelasi dengan orang sama seperti dengan mesin. Tidak mengucapkan salam, kurang sopan, karena yang jadi acuan adalah media sosial,” imbuhnya.

Ermida juga banyak menemui satu keluarga duduk satu meja di sebuah kedai makan, anggota keluarga itu bukannya ngobrol tapi malah sibuk dengan ponsel masing-masing. “Saya juga banyak melihat orang tua yang ketika punya anak balita yang rewel atau menangis malah diputarkan youtube atau media sosial lain. Ini bisa mencetak generasi yang tidak menjadikan orang tua sebagai role model,” duganya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Ermida Simanjuntak

Sosialisasi P5 ke Orang  Tua

Ibarat penyakit akan lebih baik mencegah dibanding mengobati. Untuk itu perlu perhatian semua pihak. Di lingkup inti yakni keluarga dapat memberikan parenting yang sesuai usia anak dan mencontohkan hal-hal baik yang akan berguna di kehidupan nanti.

Di sisi sekolah, dapat memberi penguatan pendidikan karakter dan bersinergi dengan wali murid secara konsisten, memantau dan mengembangkan karakter anak ke arah positif. Dan dari pemerintah dapat melakukan pemerataan kebijakan yang berfokus pada pendidikan karakter hingga ke pelosok, utamanya terkait literasi digital.

“Media sosial ini bukan sesuatu yang bisa kita cegah, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana menyikapi itu, bagaimana literasi digitalnya. Apakah literasi digital ini ada di kurikulum sekolah,” harapnya.

Namun, jika anak terlanjur terpapar paham negatif hingga bersikap buruk, sampai di tahap kriminalitas, maka anak perlu dibantu dengan konsultasi ke profesionalitas, seperti psikolog maupun profesi lain yang mumpuni.

“Cara menyikapi anak yang terlanjur perilakunya menyimpang itu memang butuh proses, butuh kesabaran, kalau sudah timbul masalah misal kriminal maka butuh penanganan yang spesifik dan khusus. Ada baiknya bisa dikonsultasikan dengan profesional,” jelasnya.

“Kasus yang dengan karakter kebanyakan itu kecanduan gadget, dan kalau sudah seperti itu efeknya itu anak jadi gak sopan, minim relasi dengan orang lain. Rata-rata pasiennya itu usia sekolah dari SD-SMA, perguruan tinggi, pendekatannya juga disesuaikan usia mereka,” pungkasnya.  (tim/red)

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.