Kantin Kejujuran Sekolah Merugi, Bangun Karakter Siswa Tak Sia-sia
Mental Toleran Mencegah Bibit Radikalisme

SDN Kendangsari IV menyatakan ingin terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan penerapan P5. Melalui Waka Kurikulum Titik, mengatakan penguatan karakter anak didik sangat penting di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan zaman makin pesat.
Ditambah lagi, kemudahan akses informasi melalui internet membuat anak rawan terpengaruh hal-hal negatif yang dikemas dalam bentuk tontonan film atau game.
Titik pun mengaku, tak mudah mencapai progress pengembangan karakter seperti yang diinginkan. Bahkan pernah kejadian, beberapa orang seorang siswa diam-diam menjadi member suatu komunitas kelompok pengajian tertentu. Kelompok itu jumlahnya ribuan bahkan jutaan, yang kerap membuat acara doa dengan berpindah-pindah tempat.
“Mereka ketahuan ikut kelompok itu karena tidak pulang ke rumah tiba-tiba anak-anak kami itu diajak berkeliling dengan grup itu. Khawatir terpapar radikalisme maka kami lalu ambil tindakan, kerjasama dengan kepolisian, Koramil, Kecamatan,” ungkap Titik.
Siswa Terus Mencari Idola
Menanggapi kekhawatiran anak terpapar bibit radikal atau pengaruh negatif lainnya, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Ermida Simanjuntak menjelaskan, fenomena tersebut merupakan ekses dari kebingungan anak mencari role model dalam hidup.
Seperti diketahui, dalam masa pertumbuhan, ada fase dimana anak meniru perilaku orang dewasa terdekatnya. Ketika orang terdekat, utamanya orang tua dan keluarga tidak memberikan perhatian pada anak, maka anak akan mencari role model pada orang lain.
Apalagi, lanjutnya, generasi saat ini dimudahkan dengan teknologi. Menurut laporan We Are Social, pada Januari 2024 ada 185 juta individu pengguna internet di Indonesia, setara 66,5% dari total populasi nasional yang berjumlah 278,7 juta orang. Dengan data ini, sudah tampak kerawanan informasi yang diakses anak jika tanpa pengawasan.
“Yang menjadi acuan bagi generasi muda adalah yang ada di media sosial, sehingga kalau orang tua belum menjadi role model yang baik, mereka akan mencari role model lain yang terlihat bagus dan megah,” jelasnya.
Kurangnya komunikasi di dunia nyata membuat anak cenderung tak peka lingkungan sekitar. Kebiasan menggunakan gawai membuat cara berelasinya seperti dengan mesin yang tanpa batasan dan sopan santun.
“Kami lihat sekarang juga banyak anak yang akhirnya cara berelasi dengan orang sama seperti dengan mesin. Tidak mengucapkan salam, kurang sopan, karena yang jadi acuan adalah media sosial,” imbuhnya.
Ermida juga banyak menemui satu keluarga duduk satu meja di sebuah kedai makan, anggota keluarga itu bukannya ngobrol tapi malah sibuk dengan ponsel masing-masing. “Saya juga banyak melihat orang tua yang ketika punya anak balita yang rewel atau menangis malah diputarkan youtube atau media sosial lain. Ini bisa mencetak generasi yang tidak menjadikan orang tua sebagai role model,” duganya.

Sosialisasi P5 ke Orang Tua
Ibarat penyakit akan lebih baik mencegah dibanding mengobati. Untuk itu perlu perhatian semua pihak. Di lingkup inti yakni keluarga dapat memberikan parenting yang sesuai usia anak dan mencontohkan hal-hal baik yang akan berguna di kehidupan nanti.
Di sisi sekolah, dapat memberi penguatan pendidikan karakter dan bersinergi dengan wali murid secara konsisten, memantau dan mengembangkan karakter anak ke arah positif. Dan dari pemerintah dapat melakukan pemerataan kebijakan yang berfokus pada pendidikan karakter hingga ke pelosok, utamanya terkait literasi digital.
“Media sosial ini bukan sesuatu yang bisa kita cegah, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana menyikapi itu, bagaimana literasi digitalnya. Apakah literasi digital ini ada di kurikulum sekolah,” harapnya.
Namun, jika anak terlanjur terpapar paham negatif hingga bersikap buruk, sampai di tahap kriminalitas, maka anak perlu dibantu dengan konsultasi ke profesionalitas, seperti psikolog maupun profesi lain yang mumpuni.
“Cara menyikapi anak yang terlanjur perilakunya menyimpang itu memang butuh proses, butuh kesabaran, kalau sudah timbul masalah misal kriminal maka butuh penanganan yang spesifik dan khusus. Ada baiknya bisa dikonsultasikan dengan profesional,” jelasnya.
“Kasus yang dengan karakter kebanyakan itu kecanduan gadget, dan kalau sudah seperti itu efeknya itu anak jadi gak sopan, minim relasi dengan orang lain. Rata-rata pasiennya itu usia sekolah dari SD-SMA, perguruan tinggi, pendekatannya juga disesuaikan usia mereka,” pungkasnya. (tim/red)
Tampilkan SemuaTags: anggota komisi E DPRD Jatim Sri Untari, erminda simanjuntak universitas widya mandala, Indonesia Emas 2045, kantin kejujuran SDN Kendangsari IV, Program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sistem merdeka belajar, Super radio
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





