Kantin Kejujuran Sekolah Merugi, Bangun Karakter Siswa Tak Sia-sia
Bangunlah Jiwa dan Raganya Menuju Bangsa yang Besar

Lebih jauh Juli mengatakan bahwa pelaksanaan P5 itu berbasis projek yang dilakukan secara fleksibel dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan. Terdapat enam tema umum yang diusulkan dalam P5. Mulai dari Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Rekayasa dan Teknologi, sampai dengan Kewirausahaan.
“Tapi khusus untuk Sekolah Dasar (SD), hanya bisa menerapkan 2 hingga 3 proyek profil dengan tema yang berbeda. Penerapannya pun disesuaikan dengan kemampuan sekolah,” terang Juli.
Ditambahkannya, karena bersifat projek maka Program P5 disarankan memanfaatkan metode pembelajaran yang interaktif yang memberi kesempatan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan juga pengembangan potensi diri
Dari enam tema yang diusung P5,yang paling banyak diterapkan di sekolah adalah tema Bangunlah Jiwa dan Raganya. Modul tema ini hakikatnya membangun jiwa dan mental peserta didik yang sehat, menjadi, dan memiliki sikap religius. Sedangkan membangun raga agar siswa didik memiliki tubuh yang sehat dan aktif.
Beberapa karakter jiwa dan mental yang sehat seperti kedisiplinan, kejujuran, kegotongroyongan, berketuhanan, dermawan, toleransi antarumat beragama, dll. Sedangkan usaha membangun raga seperti baris berbaris, senam pagi, membiasakan sarapan, turnamen olah raga, dan lain-lain.

Nilai Positif di Seluruh Penjuru Sekolah
Seperti yang dilakukan SDN Baratajaya Surabaya, aktivitas untuk membentuk jiwa dan mental sehat dengan cara menanamkan karakter tata krama yang baik. Sekolah membiasakan siswa menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam. 3S ini wajib dipatuhi selama di lingkungan sekolah.
Dalam menanamkan watak yang berketuhanan, maka kelas 6 ada kegiatan salat sunnah dhuha. Sedangkan siangnya juga ada salat zuhur untuk siswa kelas 4-6 SD.
Tak hanya lewat pembiasaan, sekolah juga menanamkan ide perilaku luhur melalui pesan-pesan yang tertulis di berbagai sudut sekolah. Tujuannya agar siswa dimanapun berada di lingkungan sekolah akan membaca dan mengingat pesan pesan positif.
Misalnya pada anak tangga penghubung lantai 1 dan lantai 2, setiap anak tangga diberi pesan di antaranya: “Kritis”, “Hormat”, “Toleran”, “Sopan”, “Kreatif”, terus hingga ujung anak tangga.
Selain itu banner berisi pesan tulisan dipasang di bagian atas selasar antar kelas, bertuliskan “Ayo Belajar Meraih Cita-cita” dan masih banyak lagi tulisan positif yang memotivasi siswa.
“Apa yang kami lakukan ini seiring untuk penerapan karakter dan Kurikulum Merdeka,” kata Sjam Lahardo, Kepala Sekolah SDN Baratajaya kepada superradio.id.
Sedangkan penerapan sikap disiplin dan jiwa patriotik, sekolah mewajibkan siswa apel pagi yang pelaksanaannya dilakukan bergiliran. Dalam apel pagi ada aktivitas baris berbaris, pengibaran bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan membaca teks Pancasila.
“Kami memang berusaha menanamkan berbagai karakter positif dari P5 kepada siswa terkait Kurikulum Merdeka, tapi yang paling ingin kami kuatkan di sini (SDN Baratajaya Surabaya -Red) adalah karakter kerjasama, dan keyakinan pada Tuhan Yang Mahaesa,” ungkap Sjam. Karakter kerjasama dikuatkan lantaran dalam keseharian sekolah SDN Baratajaya sering melihat realitas hubungan antarsiswa yang berselisih paham.
“Untuk menilai apakah indikator pendidikan karakter itu berhasil, kami melihat dari kesehariannya. Jadi semisal ada anak jatuh lalu ditolong, itu saya kira sudah berhasil pembelajaran karakternya,” tuturnya.

Saling Bantu Hal Kecil
Seperti halnya SDN Baratajaya, penguatan karakter gotong royong dan kerja sama juga ditekankan di SD Dumas, sekolah swasta yang berlokasi di pinggiran Surabaya yakni Jl Dupak Masigit III nomor 1, Jepara, Kecamatan Bubutan Surabaya.
“Kami memberikan pengertian ke anak-anak untuk saling membantu jika ada teman tiba-tiba pensilnya patah tapi tidak punya pensil Cadangan. Bapak atau ibu guru akan langsung tanya ke murid, siapa yang punya pensil Cadangan dan siapa yang mau berbagi,” kata Siti Jaenah, Kepala SD Dumas.
Selain itu penanaman watak gotong royong dan menjaga lingkungan ditetapkan di hari tertentu saat kerja bakti. Aktivitas menjaga lingkungan itu masuk penguatan modul Gaya Hidup Berkelanjutan.
“Kami punya acara yang kami sebut ‘Operasi Semut’. Ketika guru memberi instruksi ayo ‘Operasi Semut’, murid langsung bergegas untuk mencari sampah di sekitarnya dan membuangnya ke tempat sampah,” tukas Siti Jaenah sambil tersenyum.
Berbeda dengan SDN Kendangsari IV Surabaya, mereka memberi nama hari sesuai acara yang akan dimainkan bersama antara guru dan siswa. Misalnya, untuk penanaman disiplin dan kebangsaan dilakukan di hari senin, kemudian peningkatan keimanan kepada Tuhan Yang Mahaesa dilakukan di hari kamis, lalu penguatan fisik dan menjaga kelestarian lingkungan pada hari jumat.
“Kami memberi nama kegiatan kami, seperti ‘Senin Nasionalis’ karena hari itu dilaksanakan apel/upacara pagi, lalu ‘Kamis Religi’ acaranya salat dhuha atau istighotsah, ada lagi ‘Jumat Sehat Bersih’ berarti senam pagi, kerja bakti membawa bekal air minum tapi harus bawa tumbler, tidak boleh membawa botol plastik,” tutur Titik.
Tampilkan SemuaTags: anggota komisi E DPRD Jatim Sri Untari, erminda simanjuntak universitas widya mandala, Indonesia Emas 2045, kantin kejujuran SDN Kendangsari IV, Program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sistem merdeka belajar, Super radio
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





