Anolux Suarakan Stop Narkoba di Surabaya Grunge Community
SR, Surabaya – Surabaya Grunge Community kembali memanaskan skena musik Kota Pahlawan lewat gelaran “Boiler Room Chapter #7” yang berlangsung di Kedai Cak Son (Lego Cafe), Jalan Ketintang Selatan, Surabaya, Sabtu (23/5/2026).
Acara rutin bulanan ini menjadi bukti nyata konsistensi komunitas dalam menjaga api musik grunge agar tetap menyala, terutama di kalangan generasi muda.
Tatok Prianto, vokalis band Avoida sekaligus admin dan tim pengelola media Surabaya Grunge Community, menjelaskan bahwa fokus utama edisi kali ini adalah menjangkau pendengar baru.
“Konsepnya bagaimana skena lokal musik grunge masih bisa diterima di kalangan anak-anak Gen Z. Selain itu, ini menjadi wadah bagi band-band beraliran grunge dan sekitarnya untuk merilis singel, EP, atau album terbaru mereka,” ujarnya.
Menurut Tatok, regenerasi adalah misi utama di balik konsistensi gelaran ini. “Tujuannya agar ada penerus dari musisi-musisi grunge. Jadi musik dan komunitas grunge di Surabaya itu tetap ada,” tambah sosok yang juga ikut memeriahkan panggung malam itu.
Pemilihan Kedai Cak Son sendiri didasari oleh dukungan luar biasa dari pihak pengelola yang menyediakan fasilitas secara cuma-cuma sebagai bentuk apresiasi bagi komunitas musik.
Acara yang dipandu oleh host Om Cahyo Vedder dan Om Aufa Hebola ini menghadirkan deretan penampil seperti Soundrep, D-Mon, hingga penampilan perdana dari Avoida.

Tak ketinggalan, band Anolux turut memberi warna dengan pesan sosial yang kuat melalui lagu bertajuk “Stop Narkoba”. Lagu yang sudah tersedia di Spotify ini lahir dari keprihatinan mereka terhadap lingkungan sekitar, di mana banyak rekan mereka yang terjerat hukum akibat penyalahgunaan narkoba.
“Kami ingin mengedukasi anak-anak muda sekarang untuk menjauhi hal-hal yang tidak benar seperti narkoba, agar tidak merusak generasi,” ungkap perwakilan band Anolux saat menjelaskan misi di balik karya mereka.
Melalui musik alternatif yang dibawakan, mereka berharap generasi muda dapat teredukasi untuk menjauhi barang terlarang tersebut.
Menutup keterangannya, Tatok kembali menekankan pentingnya inovasi dalam menjaga relevansi musik lokal.
“Harapan kami, musik lokal di Surabaya terus beregenerasi untuk menjaga setiap genre tetap relevan, hidup, dan menjadi wadah ekspresi yang mewakili zamannya. Musisi-musisi muda di Surabaya diharapkan dapat membawa inovasi segar sambil tetap menghargai akar musik dari para pendahulunya,” pungkasnya. (dv/red)
Tags: avoida, boiler room chapter #7, surabaya grunge community
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





