PCNU Surabaya Ajak Tokoh Agama Jaga Kerukunan Bukan Sekadar Slogan

Rudy Hartono - 23 May 2026
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, H. Masduki Toha saat menyampaikan orasi kebangsaan saat Refleksi Sewindu Tragedi Bom 13 Mei di Cak Durasim, Surabaya, Jumat (22/5/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya, H. Masduki Toha menegaskan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama tak hanya berhenti pada slogan, melainkan lewat proses tindakan nyata yang konsisten.

Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri refleksi sewindu tragedi bom 13 Mei di Cak Durasim, Surabaya, Jumat (22/5/2026). “Kerukunan itu tidak hadir dengan sendirinya. Harus ada proses,” ujarnya dalam orasi kebangsaan.

Ia mengajak masyarakat untuk berkaca pada  berbagai peristiwa sosial dan tragedi kemanusiaan yang pernah melanda Kota Pahlawan. Dimana persatuan lintas agama terbukti menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas kota.

Ia yang kala itu turut mengantar korban bom ke rumah sakit, menyaksikan langsung bagaimana seluruh tokoh agama jadi garda terdepan menjaga Kota Pahlawan.

Alih-alih memicu dendam, peristiwa tersebut justru menyatukan para kiai, pendeta, ustadz, dan tokoh dari berbagai agama untuk bergerak bersama mencari solusi dan memberikan dukungan moril kepada para korban.

“Ternyata tokoh-tokoh agama dari NU, dari gereja, dari Muhammadiyah, dari semuanya langsung turun bareng, bergerak bareng untuk berdoa bersama, untuk mencari solusi bersama bagaimana Surabaya kita ini tidak sampai kecolongan,” tuturnya.

Tak berhenti disitu. Pihaknya mengajak masyarakat tak lengah pada ancaman radikalisme yang kini kian mengkhawatirkan. Fakta bahwa anak-anak hingga balita terkadang dilibatkan dalam aksi-aksi radikal menunjukkan perlunya kewaspadaan tingkat tinggi dari unit masyarakat yang paling kecil.

Untuk itu, keluarga harus menjadi garda terdepan sebagai proteksi dini dari radikalisme. Menjadi pilar utama untuk menanamkan nilai-nilai hidup berdampingan dan gotong royong kepada generasi mendatang.

“Ternyata radikalisme itu tidak pandang usia. Bagaimana anak kecil yang tidak tahu apa-apa diikut-ikutkan dalam hal itu. Artinya apa? Ternyata keluarga ini menjadi garda depan,” jelasnya.

Selain peran keluarga, penguatan “keberanian sipil” atau civil courage menjadi poin penting yang diangkat. Kekuatan masyarakat sipil yang kompak dan berani dinilai sebagai instrumen vital yang tidak boleh disepelekan oleh pihak manapun dalam menjaga kedamaian kota dari ancaman anarkisme.

PCNU Surabaya pun terbuka, menyatakan kesiapannya untuk merangkul semua pemeluk agama demi menjaga kondusivitas kota. Hal ini terbukti dari langkah-langkah preventif yang dilakukan organisasi tersebut, seperti mengumpulkan tokoh-tokoh agama saat terjadi gejolak sosial di wilayah lain agar dampaknya tidak merembet ke Surabaya.

Menurutnya, keberagaman yang ada harusnya tidak dilihat sebagai bibit perpecahan, melainkan sebagai perekat yang kuat. “Perbedaan inilah yang menyatukan kita. Jangan dibalik. Sekali lagi, perbedaan inilah yang menyatukan kita,” tuturnya mengutip pesan dari tokoh lintas agama lainnya. (hk/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.