Literasi Rendah Penyebab Ortu Cemas Masa Depan Anak Disabilitas Intelektual
SR, Surabaya — Mengasuh anak dengan disabilitas intelektual bukanlah perjalanan yang mudah bagi orang tua. Di tengah tantangan fisik dan emosional, muncul sebuah beban psikologis yang sering kali tak terelakkan: kecemasan akan masa depan sang buah hati.
Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kunci untuk meredam rasa cemas tersebut bukan hanya terletak pada dukungan sosial, melainkan pada sejauh mana orang tua memahami kondisi disabilitas intelektual itu sendiri.
Hubungan krusial ini dibedah oleh Gini Marta Lestari, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Gunung Jati, bersama timnya dalam jurnal berjudul “Hubungan Pengetahuan tentang Disabilitas Intelektual terhadap Tingkat Kecemasan Orang Tua yang Memiliki Anak dengan Disabilitas Intelektual”. Penelitian ini menyoroti bahwa ketidaktahuan sering kali menjadi bahan bakar utama bagi munculnya rasa takut dan putus asa pada orang tua.
Dalam kajiannya, Gini Marta Lestari menjelaskan bahwa terdapat korelasi positif yang sangat kuat antara tingkat pengetahuan dan kecemasan. Ia mencatat dalam jurnal tersebut, “Semakin berkurang pengetahuan orang tua tentang disabilitas intelektual maka akan semakin berat tingkat kecemasan orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas intelektual,” tulisnya.
Penelitian yang dilakukan di SLB-C Pancaran Kasih dan SLBN Budi Utama Kota Cirebon ini menunjukkan bahwa mayoritas orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang cukup (39,2%), namun masih terjebak dalam kecemasan kategori sedang (37,3%). Ketakutan ini biasanya bersumber dari stigma masyarakat yang masih kuat serta kekhawatiran mengenai kemandirian anak di masa depan, mulai dari kemampuan berinteraksi hingga peluang karier mereka.
Gara Samara Brajadenta, peneliti dari Departemen Genetika Fakultas Kedokteran Universitas Gunung Jati yang juga terlibat dalam studi ini, menekankan bahwa peran ibu sebagai pengasuh utama (caregiver) sangat rentan terhadap tekanan ini. Ibu cenderung menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak, sehingga merekalah yang pertama kali merasakan tekanan ketika menghadapi kondisi disabilitas intelektual anak yang kompleks.
Kurangnya pengetahuan tentang penyebab disabilitas—seperti faktor genetik pada Down syndrome atau Fragile-X syndrome—sering kali membuat orang tua merasa bersalah atau malu. Padahal, pengetahuan yang memadai dapat membantu orang tua memberikan pola asuh yang lebih tepat dan mencegah kondisi anak menjadi lebih buruk. Pengetahuan ini, menurut studi tersebut, tidak harus berasal dari pendidikan formal, melainkan bisa didapatkan melalui konsultasi aktif dengan tenaga medis atau pendidikan nonformal lainnya.
Dampak dari kecemasan yang tidak terkelola dengan baik sangatlah nyata. Orang tua yang terlalu cemas dapat memberikan pola asuh yang kurang tepat, yang justru memicu rasa rendah diri pada anak dan membuat mereka sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Sebagai kesimpulan, Gini Marta Lestari dan tim mendorong agar orang tua lebih proaktif dalam mencari informasi medis dan edukatif mengenai disabilitas intelektual. Dengan memahami kondisi anak secara mendalam, orang tua diharapkan dapat mengubah rasa cemas menjadi dukungan dan advokasi yang kuat, sehingga kualitas hidup anak serta kesejahteraan psikologis keluarga dapat meningkat secara signifikan. (*/dv/red)
Tags: Disabilitas Intelektual, masa depan, Orang Tua, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





