Hadiah Pohon Pancasila asal Gunung Arjuno di Ruwatan Kota Surabaya

Rudy Hartono - 24 May 2026
Komunitas Among Jitun dari Kabupaten Kediri menyerahkan bibit Pohon Pancasila kepada Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kota Surabaya, Fauzi Mustakim Yos di sela Ruwatan Kota Surabaya di halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026). (foto: anton/superradio.id)

SR, Surabaya – Ruwatan Kota Surabaya atau Ruwat Sukerta Bumi Kota Surabaya dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 tahun di kawasan bersejarah Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026) petang hingga malam berlangsung khidmat dan lancar. Di tengah rangkaian ruwatan, pemerintah kota Surabaya menerima sumbangan bibit 7 pohon Jempinang atau Pohon Pancasila dari  komunitas Among Jitun dari Kabupaten Kediri.

“Pohon Jampinang atau Pohon Pancasila ini merupakan pohon endemik, hanya ada di lereng Gunung Arjuno. Kami berharap Pemerintah Kota Surabaya berkenan untuk menanam dan mengembangkan pohon langka ini di Surabaya,” ungkap Doni, perwakilan dari komunitas Among Jitun usai  menyerahkan  bibit pohon kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Yusuf Masruh.

Keris Pora oleh 20 orang Paguyuban Kepribadian Surabaya menyambut sosok lelaki dan perempuan ‘edan-edanan’ membawa sapu lidi dan kipas di barisan pertama Kirab Tapa Bisu usai mengelilingi Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026). (foto: anton/superradio.id)

Doni menjelaskan, pohon ini dinamakan ‘Pohon Pancasila’ karena sejarah awal penemuannya yang unik, di mana satu buah bibit jampinang jatuh dan tumbuh menjadi tepat lima bibit pohon di bawahnya, tepat di atas sebuah sumber air besar yang menjadi mata air kehidupan di lereng Gunung Arjuno.

Selain itu, pohon ini tergolong sangat unik karena hanya bisa bertunas setiap tujuh tahun sekali dan secara konsisten hanya menghasilkan lima tunas baru. Karena karakteristiknya yang sensitif, tanaman ini membutuhkan perawatan yang sangat intensif dan mudah mati jika terjadi kesalahan penanganan.

Gunungan tumpeng dan buah-buahan memasuki pendopo usai kirab keliling Tugu Pahlawan dalam Ruwatan Kota Surabaya, Sabtu (23/5/2026). (net)

“Nama ‘Pohon Pancasila’ ini juga telah disetujui resmi oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menetapkannya sebagai Pohon Pemersatu Bangsa pada acara Gerakan Ngertakeun Bumi Lamba tahun 2018,” imbuh Doni.

Rangkaian Ritual Adat Ruwatan

Sebelum diserahkan ke Pemkot Surabaya, Pohon Pancasila itu juga mengikuti prosesi kirab sesaji yang dipimpin oleh Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Surabaya.

Ritual sakral ini diawali dengan aksi ‘tapa bisu’ mengelilingi Tugu Pahlawan sejauh kurang lebih 1 kilometer. Seluruh peserta berparade dalam keheningan total untuk memusatkan fokus spiritual, memohon keselamatan bagi warga dan kota.

“Saat kirab dilakukan tapa bisu tidak boleh berbicara, seluruh peserta harus manekung, manembah, berdoa untuk keselamatan warga. Kita berdoa kota Surabaya gemah ripah loh jinawi, warganya tidak bengkerengan (bertengkar), dan selalu rukun,” ujar Ries Handono Prawirodirjo, Kepala Rombongan Kirab.

Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Ki Madiro di sela acara Ruwatan Kota Surabaya di halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026). (foto: tabitha/superradio.id)

Sepanjang jalannya kirab, barisan terdepan dikawal oleh karakter tradisional ‘edan-edanan’ berwajah buruk (lelaki membawa sapu lidi dan perempuan membawa kipas bambu). Gerakan mengibas ke kiri dan kanan di sepanjang rute disimbolkan sebagai upaya menghalau energi negatif dan roh jahat demi kelancaran acara.

Setibanya di lokasi utama, berbagai organisasi di bawah koordinasi MLKI menyerahkan aneka sesaji berupa tumpeng, aneka hasil bumi, serta gunungan buah dan sayur kepada pejabat Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya.

Prosesi dilanjutkan dengan ujub sesaji—yaitu penguraian makna filosofis sesaji oleh para sesepuh—serta pembacaan doa-doa sakral. “Sesaji itu mengacu pada kata sastro (tulis) dan jendro (raja), yang bermakna rangkaian harapan luhur yang dituliskan atau dimintakan oleh para leluhur yang pada intinya memintat kebaikan bagi kota surabaya, untuk pemimpinnya dan masyarakatnya,” urai Madiro, Presidium MLKI Surabaya.

Paguyuban Sukmo Lima pimpinan Ki Arif Wijoyo membacakan doa-doa sakral Kalacakra, Kumbala Geni, dan Caraka Balik di acara Ruwatan Kota Surabaya di halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026). (foto: anton/superradio.id)

Lebih jauh Madiro atau akrab disapa Ki Sudiro, menyebutkan doa-doa yang dilantunkan saat ruwatan meliputi rajah Kalacakra, Kumbala Geni, dan Caraka Balik. Doa itu untuk memohon kepada Tuhan yang Mahaesa agar warga dan kota surabaya terhindar dari hal hal buruk, dijauhkan dari bencana, tidak ada kerusuhan, tidak ada kemiskinan, tidak kekurangan sandang pangan, dijauhkan dari pagebluk atau musibah penyakit dan sebagainya.

“Doa-doa rajah Kalacakra, Kumbala Geni, Caraka Balik yang dibacakan tadi  merupakan doa asli yang kami sakralkan dan kami lestarikan hingga saat ini,” kata Ki Sudiro.

 

Apresiasi Pemerintah Kota Surabaya

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Fauzi Mustakim Yos, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada MLKI, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), komunitas Among Jitun, serta seluruh sanggar seni dan paguyuban dari daerah penyangga (Gresik, Sidoarjo, dan Kediri) yang telah berpartisipasi dengan penuh khidmat dan kegembiraan.

Kabid Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Fauzi Mustakim Yos serahkan tokoh wayang Hanuman kepada bocah dari sanggar Baladewa di acara Ruwatan Kota Surabaya di halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026). (foto: anton/superradio.id)

Pemkot Surabaya memilih Tugu Pahlawan sebagai pusat kegiatan karena dinilai menjadi simbol penting dan titik sentral Kota Pahlawan. Selama ini, kegiatan sedekah bumi maupun ruwatan lebih banyak dilaksanakan di tingkat kampung, RW, dan kelurahan. “Karena itu tahun ini dipusatkan di Tugu Pahlawan agar masyarakat bisa menikmati bersama dan merasakan semangat kebudayaan secara lebih luas,” kata dia.

Sebagai penutup rangkaian Ruwat Surabaya, dilangsungkan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Dewa Ruci”. Menariknya, pertunjukan tersebut juga menghadirkan dalang anak sebagai bagian dari regenerasi seni tradisi.

Ditambahkannya, ruwatan kota dalam rangka peringatan hari jadi kota ini bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, tetapi wujud nyata upaya kita bersama dalam menjaga warisan budaya leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tari Remo kesenian khas Surabaya menyambut tamu dan peserta Ruwatan Kota Surabaya di halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5/2026). (foto: anton/superradio.id)

Dalam acara itu Pemkot Surabaya juga mengundang para pelaku dan pemerhati budaya dari berbagai daerah, seperti Gresik dan Sidoarjo.

Sejumlah komunitas yang turut terlibat di antaranya Komunitas Anom Suroto Fans Club (KAS FC) Jawa Timur, Roemah Bhineka Surabaya, Warga Macapat Jawi Wetan, Padma Seni Budaya Nusantara (PASEBAN), Perhimpunan INTI Surabaya, Paguyuban Penata Acara Nusantara (PAPAN), Komunitas Surya Sumirat, Komunitas Jiwa Nusantara, Paguyuban Ngajeni Sedulur, hingga Waras Surabaya. (ton/red)

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.