Kantin Kejujuran Sekolah Merugi, Bangun Karakter Siswa Tak Sia-sia
Kebudayaan Warisan Leluhur Jadi Produk Unggul Bangsa

Tema lain yang juga kerap dipraktekkan sekolah melaksanakan P5 adalah Kearifan Lokal. Bentuk aktivitasnya lebih bersifat seni dan budaya. Seni yang dimaksud bisa berupa seni tari tradisional, seni lukis atau seni musik termasuk tembang tembang kuno. Sedangkan budaya mencakup budaya tutur, tata krama, tata busana dan sebagainya.
SDN Kendangsari IV Surabaya memiliki setidaknya dua variasi aktivitas yang bertemakan Kearifan Lokal. Ada acara spontanitas seni dan tradisi berbahasa Jawa halus.
Seperti ditulis di atas, SDN Kendangsari IV punya sebutan spesial setiap harinya, salah satunya “Rabu Kreasi”.
Pada hari itu, merupakan ajang unjuk aksi kreativitas siswa. “Rabu Kreasi” merupakan hari yang paling dinanti siswa. Hari itu siswa bisa menampilkan kebolehan mereka seperti menyanyi, menari, boleh tampil tunggal maupun dalam kelompok.
“Rabu kreasi selalu dinanti murid karena kami bebaskan mereka untuk tampil berekspresi tapi tidak semua kelas, kami batasi beberapa tampilan saja,” kata Titik.
Masih di SDN Kendangsari IV, Sekolah yang berlokasi di Jalan Rungkut Mejoyo Selatan IX Surabaya itu punya hari “Selasa Budaya”. Bentuk aktivitasnya pembelajaran bahasa Jawa halus.
Titik pun menyebut, munculnya progam itu berawal dari keresahan sekolah yang melihat beberapa siswa bertutur kata kasar dan sikap kurang baik. Pihak sekolah memaklumi kodisi siswa lantaran mereka terpengaruh lingkungan sekitarnya.
“Tantangan sekolah kami, anak-anak kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke bawah dan pendatang yang tinggal di kos-kosan. Otomatis lingkungannya bercampur. Jadi kami berusaha untuk menata itu, supaya tutur kata siswa bisa halus,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya berupaya mengubah pola komunikasi. Anak diajarkan berbahasa jawa halus, bertutur kata baik, dan mengulik makna yang terkandung di tembang-tembang jawa.
“Kalau ada yang berkata kasar, kami tegur dengan kata-kata halus dan meluruskan kalau kata yang digunakan masih kasar, kami arahkan saja,” ucap Titik dan menurutnya program itu terbukti cukup efektif, perilaku anak-anak mulai membaik dan menunjukan perubahan positif.
Sementara itu kreasi seni siswa-siswi SDN Barata Jaya diwujudkan dalam bentuk pentas seni yang dilabeli Gebyar P5. Acara unjuk kreasi seni itu digelar sebelum penerimaan rapor siswa. Bahkan, Kepala SD Baratajaya, Sjam mengatakan gebyar P5 itu sebagai indikator keberhasilan pendidikan karakter.
“Khusus P5 akan kami selenggarakan sebelum penerimaan rapor yang akan kami buat gebyar. Akan ada penampilan hasil karya anak-anak, tari, nyanyi, dan sebagainya. Kami buat istilahnya kayak pentas,” sebut Sjam, Kepala SD Baratajaya.

Satu Projek Cakup Banyak Profil
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ari Khusumadewi SPd MPd, menilai Kurikulum Merdeka dengan Progam P5 memang baik dalam mencetak siswa yang berkarakter dan mempunyai kompetensi tertentu.
P5 merupakan pendekatan proyek yang dirancang dengan cermat untuk memperkuat profil pelajar Pancasila, dengan fokus pada pengembangan karakter dan kreativitas siswa. Implementasinya memberikan keleluasaan kepada siswa untuk belajar dalam lingkungan formal yang lebih fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Manfaatnya bagi siswa meliputi peningkatan percaya diri, penyaluran hobi, pengembangan minat, keterlibatan aktif antar sesama, dan sebagai wadah untuk perkembangan karakter.
“Dalam program P5 outputnya berbentuk proyek. Mengapa berbentuk projek, karena fokus Kurikulum Merdeka ini pada diferensiasi siswa dimana setiap siswa itu punya karakter dasar berbeda-beda serta minat dan bakat berbeda pula,” papar Ari.
Untuk memudahkan guru mengarahkan projek yang boleh atau tidak, maka dibuatkan panduannya yakni P5. Dalam pelaksanannya, sangat dimungkinkan satu projek mencakup lebih dari satu profil P5.
Program kurikulum Merdeka belajar ini ingin menunjukkan bahwa setiap anak itu punya interes, punya kelebihan berbeda satu dengan lain. Perbedaan individu benar benar diperhatikan lalu dikembangkan lebih lanjut oleh sekolah. Jadi sekolah mestinya menghargai setiap perbedaan sifat, karakter, minat, kecerdasan masing masing anak didik. Perbedaan itu dihargai dalam rangka mengembangkan potensi anak itu.
“Menurut saya kurikukum Merdeka ini tidak seketat kurikulum sebelumnya. Itu dikarenakan kondisi anak di setiap sekolah itu berbeda sehingga yang akan dikembangkan berbeda.
Tampilkan SemuaTags: anggota komisi E DPRD Jatim Sri Untari, erminda simanjuntak universitas widya mandala, Indonesia Emas 2045, kantin kejujuran SDN Kendangsari IV, Program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sistem merdeka belajar, Super radio
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





