Kantin Kejujuran Sekolah Merugi, Bangun Karakter Siswa Tak Sia-sia
Dinas Pendidikan Siapkan Model Rapor P5

Bagaimana menilai perkembangan karakter siswa SD berdasarkan P5 Kurikulum Merdeka? Ari menerangkan bahwa penilaian profile Pancasila p5 seharusnya tertuang dalam rapor tersendiri yang terpisah dari rapor akademik. “Setahu saya, setiap satu tema itu satu profil ada rapor sendiri-sendiri berdasarkan projek yang dikerjakan siswa. Soal pelaksanannya sangat tergantung pada kreativitas masing masing guru,” kata Ari.
Adapun cara penilaian dengan memasukkan parameter kemampuan dan kompetensi saat mengerjakan projek. “Jadi yang dimasukkan nilai misalnya bagaimana jiwa sosial, kerja sama, spiritual, dan seterusnya,” imbuhnya.
Merujuk sejumlah sumber, laman Rapor P5 berbeda dengan rapot kurikulum biasa karena dalam rapor P5 bukan berupa angka tetapi nilai BB (Belum Berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan), SB (Sudah Berkembang).
Penilaian tersebut juga disesuaikan dengan dimensi pada saat P5 seperti beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotongroyong, dan kreatif. Mengenai penilaian P5, SDN Kendangsari V dan SD Dumas, belum dilakukan sebagaimana idealnya.
Waka SDN Kendangsari IV Titik Supriati mengaku bahwa Kurikulum Merdeka baru diberlakukan kepada kelas 1 dan kelas 4. Sedangkan siswa kelas 2, 3, 5,dan 6 nilai karakter siswa masih menggunakan Kurikulum 2013.
“Ini tahun pertama kami terdaftar kurikulum merdeka, jadi kelas lainnya masih memakai Kurikulum 2013. Tapi tetap kami sisipi pembelajaran tentang Kurikulum Merdeka, baik berupa karakter, disiplin positif, pembelajaran berdiferensiasi, juga karya anak-anak,” kata Titik.
Dijelaskan lebih lanjut, bahwa penilaian karakter siswa ada penilaian sikap oleh para guru ke murid-murid mulai dari sikap sosial ke teman lain, cara berteman dengan siswa lain, sikap terhadap guru. “Kalau dirasa murid masih kurang dalam karakter maka akan ada bimbingan hingga komunikasi dengan wali murid via whatsapp atau juga datang ke rumah siswa,” sebutnya.
Hingga kini, pihaknya juga terus melakukan evaluasi guna perbaikan dalam penerapan sistem dan juga monitoring perkembangan karakter siswa. “Kami masih perlu bertukar pikiran dengan rekan sejawat, hingga mebangun sinergi dengan pihak luar, baik untuk siswa maupun program parenting wali murid,” tegasnya.
Berbeda dengan SDN Kendangsari 4, penerapan Kurikulum Merdeka lebih merata diberlakukan di SDN Baratajaya Surabaya. Sabagai salah satu sekolah terbaik di Surabaya menurut penilaian Kementerian pendidikan, membuat pihaknya menyiapkan berbagai program pengembangan karakter.
Kepala Sekolah SDN Baratajaya Sjam Lahardo menyebutkan, pengembangan karakter dimulai dari jenjang kelas 1 SD. Di fase itu murid akan diberi pengarahan terkait karakter dasar. Selanjutnya di pertengahan semester dilakukan evaluasi terkait akademis dan karakter siswa.
“Kami ada Penilaian di rapor, dan penilaian P5. Ada penilaiannya di semester dua. Kegiatan khusus untuk P5 itu saya serahkan ke guru-gurunya. Pengarahan ke murid soal penilaian P5 itu sudah disosialisasikan mulai kelas satu,” ujarnya.
Khusus pendidikan karakter juga terdapat poin khusus lewat perkembangan sikap siswa. Poin-poin itu nantinya diakumulasikan dan di evaluasi bersama wali murid saat pengambilan rapor. “Indikator pendidikan karakter itu berhasil, kami lihat dari kesehariannya, kalau ada anak jatuh lalu ditolong, itu saya kira sudah berhasil pembelajaran karakternya,” tuturnya.
SDN Baratajaya mengaku penerapan pendidikan karakter belum sepenuhnya berhasil. Salah satunya karena faktor kesiapan guru. Karena itu pihaknya akan terus meningkatkan kapasitas lewat kerjasama dengan pihak luar, menggelar pelatihan-pelatihan tenaga pendidik, hingga tukar pendapat dengan rekan sejawat.
“Kendala pasti ada karena guru-guru juga baru mendapatkan pelatihan karena kurikulum merdeka itu juga baru, jadi kami masih tahap belajar. Kalau pelatihan guru kami dapat dari Dinas tentang kurikulum merdeka dan ini sudah tahun kedua, untuk guru kelas 1,2,4,5, masih belum 100 persen tapi kami mengarah ke yang lebih baik,” jelasnya.

Orang Tua Puas P5
Merespons pelaksanaan Kurikulum Merdeka, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo mengatakan sesungguhnya pendidikan karakter siswa SD di lingkup pendidikan di Surabaya sudah berjalan baik.
Memang belum semua sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka secara menyeluruh. Namun, sekolah di Surabaya sudah menerapkan pendidikan karekter mengikuti Kurikulum 2013.
“Kurikulum Merdeka ini sejatinya lanjutan dari Kurikulum 2013 dengan penambahan penyampaian yang lebih menyenangkan berupa projek yang di dalamnya akan diisi atau diselipi dengan nilai-nilai Pancasila seperti kerjasama, gotongroyong, menghargai teman dan sebagainya,” kata Juli.
Menurut Juli, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyadari bahwa lembaga pendidikan adalah salah satu lembaga yang akan membekali dan penanaman karakter kepada siswa didik seperti bagaimana menghargai orang tua, sopan santun, dan tingkah laku baik.
Pendapat Juli terkait penerapan karakter Pancasila dalam Kurikulum 2013 terkonfirmasi oleh observasi yang dilakukan Tim Super Radio yang mewawancarai orang tua siswa yang anaknya sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Menggunakan daftar pertanyaan yang disebar, didapatkan hasil bahwa 70-90 persen orang tua yang ditemui menyatakan anaknya telah mendapatkan materi penguatan karakter di sekolah.
Adapun karakter yang diberikan sekolah berupa: penguatan keimanan kepada Tuhan Yang Mahaesa, penanaman nasionalisme kebangsaan, dan jiwa kemandirian tak bergantung teman. Selain itu, sekolah juga telah menanamkan sikap suka gotong royong, kerjasama dalam menjalankan tugas kelompok, serta penanaman integritas berupa kejujuran dan menjunjung tinggi etika dan moral.
Tampilkan SemuaTags: anggota komisi E DPRD Jatim Sri Untari, erminda simanjuntak universitas widya mandala, Indonesia Emas 2045, kantin kejujuran SDN Kendangsari IV, Program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sistem merdeka belajar, Super radio
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





