Satu Abad Yayasan Yohanes Gabriel Siap Transformasi Total 149 Sekolah Katolik
SR, Surabaya – Momentum satu abad Yayasan Yohannes Gabriel menjadi tonggak sejarah baru dalam dunia pendidikan Katolik di Jawa Timur. Pada Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, yayasan secara resmi meluncurkan Pilot Project School bertajuk “A New Light for Tomorrow”. Langkah strategis ini mengawali rencana transformasi besar-besaran terhadap total 149 sekolah di bawah naungan Keuskupan Surabaya yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2030 mendatang.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Yohannes Gabriel, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, menegaskan bahwa usia satu abad ini adalah momen krusial untuk merefleksikan kembali karya misi Gereja melalui pendidikan.
“Satu abad Yayasan Yohannes Gabriel menjadi langkah baru bagi Keuskupan Surabaya untuk melihat lebih dalam karya misi Gereja untuk pendidikan,” ungkap Mgr. Agustinus di hadapan sekitar 300 tamu undangan.
Monsinyur Modik menekankan bahwa kemajuan sekolah Katolik adalah tanggung jawab kolektif seluruh umat.”Tanggung jawab memajukan pendidikan Katolik bukan hanya berada di pundak pengelola sekolah saja, melainkan tugas seluruh umat sebagai bagian dari misi Gereja,” lanjutnya.
Mengembalikan Kejayaan dalam 5 Tahun
Ketua Yayasan Yohannes Gabriel, RD. Hans Koerniawan, menjelaskan bahwa target transformasi 149 sekolah ini memiliki garis waktu yang jelas hingga akhir dekade ini guna mengembalikan kejayaan sekolah-sekolah yang mulai meredup.
“Target keseluruhan 149 ini selesai untuk direhab itu sampai ke 2030. Jadi mulai 2025 sampai 2030 itu diharapkan sudah selesai semua,” ujar Romo Hans.
Fokus utamanya adalah menyelamatkan institusi yang selama ini kurang terawat. “Bapak Uskup memberi misi supaya sekolah-sekolah ini dihidupkan kembali, tidak ditutup tetapi justru malah diaktifkan, dihidupkan kembali,” tambahnya.
Strategi yang diambil yayasan adalah implementasi bertahap untuk memastikan kualitas yang mumpuni sebelum diterapkan secara masif ke seluruh jaringan sekolah. Untuk tahun ajaran 2025-2026, sebanyak 18 sekolah terpilih sebagai pionir perubahan dalam skema pilot project.
“Tahun ini 18 dulu. Baru tahun ini dimulai, jadi 2025 sampai 2026 ini mulai,” jelas Romo Hans mengenai tahap awal transformasi tersebut. Pendekatan ini dilakukan agar setiap perbaikan yang diuji coba dapat menjadi standar baku bagi sekolah-sekolah lain di masa depan.
Tetap Inklusif bagi Semua Agama
Sekretaris Yayasan, RD. Robertus Theo Elno Respati, merinci bahwa sebaran 18 sekolah pionir ini mencakup wilayah geografis yang luas, mulai dari Surabaya hingga Rembang, Jawa Tengah.
“Ada kurang lebih 18 sekolah, tidak semua di Surabaya tetapi tersebar di wilayah Jawa Timur dan sedikit di Jawa Tengah, daerah Rembang ya. Jadi setiap kota itu ada satu sekolah yang akan kami perbaiki,” tutur Romo Theo.
Hal ini memastikan bahwa semangat pembaruan pendidikan Katolik dapat dirasakan secara merata oleh umat di berbagai daerah. Beberapa lokasi kunci yang masuk dalam proyek percontohan tahun ini antara lain kompleks sekolah di wilayah Paroki Kusuma Bangsa, Surabaya, yang mencakup SDK Teresia dan SDK Yohannes Gabriel. Selain itu, perbaikan menyeluruh juga akan menyasar sekolah-sekolah di Sidoarjo (Untung Suropati), Mojokerto, Madiun (Bonaventura), hingga wilayah Cepu, Blora, Ngawi, dan Blitar.
“Mulai penataan jenjang TK sampai nanti SMP dan SMA, semua akan kami tata kembali secara terintegrasi,” tegas Romo Theo mengenai kedalaman proyek ini.
Transformasi yang dimaksud tidak hanya sekadar memoles tampilan luar, melainkan mencakup renovasi fisik, mutu pendidikan, hingga pembaruan identitas visual. Romo Hans memaparkan,”Hal-hal yang mau dikembangkan itu adalah kurikulumnya, mutunya, lalu juga bangunan-bangunan, sarananya diperbaiki semua. Brandingnya juga diperbarui”.lanjut hans
Selain itu, pendidikan karakter menjadi prioritas utama agar lulusan siap menghadapi dunia kerja “Nilai-nilai hidup lebih banyak diajarkan supaya mereka bisa siap nanti kalau ke masyarakat, keluarga, dan ke pekerjaan”.pungkasnya
Dari sisi akademis, Romo Theo menyoroti pengenalan tiga bahasa utama dan nilai hospitalitas sebagai ciri khas sekolah masa depan.
“Kami nanti akan menekankan tiga bahasa untuk sekolah ini. Yang pertama itu bahasa Inggris, lalu juga nanti juga bahasa Mandarin yang akan kami dorong terus,” ungkapnya. Selain itu, sisi spiritualitas diperkuat melalui pengajaran dokumen Gereja sejak dini. “Paling tidak mereka lulus SMA, mereka semakin paham ajaran iman Katolik melalui pendidikan yang ada di sekolah-sekolah kami,” lanjut Romo Theo.
Meski memperkuat identitas Katoliknya, sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Yohannes Gabriel ini dipastikan tetap inklusif dan terbuka bagi semua kalangan.
“Sekolah Katolik adalah sekolah yang sangat terbuka kepada siapapun. Nilai-nilai kehidupan bisa diajarkan kepada siapa saja,” pungkas Romo Theo menanggapi tantangan penurunan jumlah siswa. Untuk mensukseskan misi besar menuju 2030, yayasan secara aktif mengajak keterlibatan umat dalam bentuk dukungan dana maupun pelatihan ahli untuk meningkatkan kualitas para pengajar di lapangan. (js/red)
Tags: satu abad, sekolah katolik, superradio.id, Uskup Surabaya, yayasan yohannes gabriel
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





