Sejumlah Biksu dan Komunitas Aliran Kepercayaan Kunjungi Situs Bersejarah

Yovie Wicaksono - 9 September 2021
Sejumlah Biksu dan Komunitas Aliran Kepercayaan Kunjungi Situs Bersejarah. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Sejumlah Biksu yang mengatasnamakan dirinya Sangha Mahayana Indonesia bersama komunitas aliran kepercayaan terlihat begitu khusyuk berdoa dan semedi di dalam Goa Selomangleng KedirI, Rabu (8/9/2021).

Mereka bertujuan untuk mendatangi sejumlah situs bersejarah dan berdoa disana. Selain di Kediri rencananya mereka juga singgah di Blitar dan Yogyakarta nantinya.

Didalam ritual tersebut terkandung makna kebajikan yang ditujukan kepada para leluhur serta orang orang yang dianggap telah berjasa baik pada masa kerajaan maupun era Kemerdekaan.

Tempat situs sejarah yang dikunjungi pada umumnya dahulu kala digunakan untuk ritual bertapa. Kebetulan tempat yang didatangi adalah ruang terbuka, sehingga mereka dapat menyatu dengan alam.

“Disini dulunya banyak orang bertapa, melatih diri. Kita juga merasakan alam yang menyatu dengan kita. Kita bisa  mendoakan para leluhur yang telah berjasa, dari zaman kerajaan hingga para pendiri bangsa. Semua untuk kedamaian dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” ujar Biksu Sakya Sugata, Ketua Sangha Mahayana.

Selain itu, tak lupa pihaknya juga berdoa agar pandemi Covid-19 ini  segera diangkat dari bumi. Menurutnya pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang merupakan bagian dari hukum alam, yang kedatangannya tidak bisa diprediksi.

Biksu Sakya Sugata menganggap pandemi Covid-19 adalah bagian dari siklus alam yang selalu datang dalam jangka waktu tahunan, ratusan tahun bahkan ribuan tahun.

“Kita doakan semuanya bisa diatasi dengan baik, yang terpenting kita saling bisa menjaga. Lahir, tua dan mati adalah bagian dari proses kehidupan. Tapi bagaimana caranya kita bisa hidup membawa manfaat bagi orang lain,” paparnya.

Biksu Sakya Sugata mengaku baru pertama kali ini datang ke Goa Selomangleng. Ia terkesima begitu melihat Goa tersebut karena masih terjaga ke asriannya.

Bahkan, ia membandingkan antara Goa Selomangleng dengan Goa yang ada di India yang memiliki banyak kesamaan. Dimana masyarakat yang tinggal disana meski berlatar belakang berbeda agama, antara Islam dan Buddha tetapi mereka bisa hidup secara berdampingan.

Sementara itu Endah Setiyowati selaku Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparpora Kota Kediri menjelaskan kedatangan para biksu ini terkesan mendadak. Ia baru tahu dari teman kominitas yang mengabarkan mereka berkunjung ke Kota Kediri.

Saat datang berkunjung, mereka berjanji menjalankan prokes secara ketat. Karena tujuannya beribadah, pihak Disbudparpora mengizinkan mereka untuk singgah mendatangi Candi Klotok, sumber Petirtaan, Goa Selomangleng dan Museum Airlangga.

“Mereka datang ke tempat yang selama ini dianggap sakral,” ujarnya.

Endah Setiyowati mengaku, sebenarnya kunjungan serupa juga pernah dilakukan oleh rombongan Biksu dari Tibet sebelum masa pandemi melanda.

Ia pun menganggap, era kerajaan Kadiri dulu sangat dikenal oleh  masyarakat luas hingga sampai mancanegara.

Sekadar informasi, Goa Selomangleng berdasarkan cerita rakyat, diyakini sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci (Sanggramawijaya Tunggadewi), Putri Mahkota Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.