Peran Penting Ibu Adaptasi Sosial bagi Remaja Disabilitas Fisik
SR, Surabaya — Masa remaja sering kali menjadi periode yang penuh gejolak bagi siapa pun, namun bagi remaja dengan disabilitas fisik, tantangan ini berlipat ganda.
Di tengah perjuangan mencari jati diri dan menghadapi stigma lingkungan, sebuah ikatan emosional yang sering kali tak kasatmata ternyata menjadi kunci utama bagi mereka untuk bertahan dan beradaptasi: kelekatan dengan ibu.
Azza Febria Nuraini, peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, membedah fenomena ini dalam studinya yang bertajuk “Hubungan Kelekatan Terhadap Ibu dan Penyesuaian Diri pada Remaja Disabilitas Fisik”. Ia menemukan bahwa kemampuan seorang remaja difabel untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya sangat bergantung pada seberapa kuat ikatan afeksional yang mereka miliki dengan sosok ibu.
Dalam jurnal penelitian yang diterbitkan di Cognicia tersebut, Azza menjelaskan bahwa keterbatasan fisik sering kali memicu rasa rendah diri, kekecewaan, hingga keinginan untuk menarik diri dari lingkungan. Namun, kelekatan yang aman dapat menjadi benteng psikologis yang kuat. Azza Febria Nuraini menekankan dalam kesimpulan penelitiannya bahwa: semakin tinggi kelekatan remaja terhadap ibu, maka semakin tinggi pula penyesuaian diri pada remaja disabilitas fisik, sebaliknya semakin rendah kelekatan remaja terhadap ibu, maka semakin rendah pula penyesuaian remaja.
Penelitian ini dilakukan terhadap 56 remaja berusia 12-21 tahun di beberapa sekolah luar biasa di Kota Malang, termasuk SMALB Yayasan Putra Pancasila serta SMAK dan SMPK Bhakti Luhur.
Data menunjukkan angka yang sangat signifikan: kelekatan terhadap ibu memberikan sumbangan efektif sebesar 66,5 persen terhadap kemampuan penyesuaian diri remaja. Artinya, faktor ibu memiliki peran dominan dalam membentuk resiliensi anak dibandingkan faktor eksternal lainnya.
Mengapa sosok ibu begitu krusial? Azza memaparkan bahwa ibu biasanya memiliki lebih banyak waktu interaksi dan berperan sebagai figur lekat utama yang memberikan rasa nyaman saat anak menemui kesulitan. Melalui komunikasi yang hangat dan kepercayaan yang dibangun sejak dini, remaja difabel merasa memiliki “ruang aman” untuk mengekspresikan diri. Hal ini kemudian menumbuhkan harga diri yang tinggi, yang menjadi modal utama mereka saat harus berhadapan dengan masyarakat luas.
Namun, riset ini juga mengungkap fakta memprihatinkan di lapangan. Berdasarkan observasi di SMALB Kota Malang, remaja yang memiliki hubungan negatif dengan orang tua —seperti kurangnya dukungan dan komunikasi— cenderung bersikap pasif, gugup, dan sulit berinteraksi dengan teman sebaya.
Hal ini semakin mempertegas bahwa tanpa kelekatan yang kuat, hambatan fisik yang dialami remaja dapat berkembang menjadi hambatan psikologis yang serius.
Secara spesifik, penelitian ini menemukan bahwa tingkat penyesuaian diri terendah ditemukan pada remaja dengan disabilitas fisik jenis tunadaksa, dengan persentase rendah mencapai 83 persen. Hal ini diduga karena kondisi fisik yang tidak sehat secara langsung memengaruhi kepercayaan diri dalam melakukan aktivitas sosial harian.
Sebagai langkah konkret, Azza Febria Nuraini menyarankan agar keluarga, khususnya orang tua, meningkatkan penerimaan terhadap kondisi anak. “Bagi keluarga disabilitas fisik disarankan bagi orang tua untuk meningkatkan penerimaan pada sang anak dan memperlakukannya dengan cara yang baik… meningkatkan kelekatan dalam bentuk komunikasi, kepercayaan, dukungannya, memberikan motivasi yang positif,” tulisnya dalam bagian implikasi penelitian tersebut.
Dengan dukungan emosional yang tepat, disabilitas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi remaja untuk memiliki kehidupan sosial yang berkualitas. Inklusi sejati ternyata bermula dari kehangatan pelukan dan keterbukaan komunikasi di dalam rumah sendiri. (*/dv/red)
Tags: disabilitas fisik, jurnal, peran ibu, superradio
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





