Sambut Imlek 2026, Kelenteng Hong San Ko Tee Mandikan Rupang
Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro), Surabaya, Rabu (11/02/2026), mulai menghias dan membersihkan tempat ibadah bagi umat Tionghoa yang akan merayakan Imlek. (foto : bima aditya/superradio.id)
Umat Tionghoa sibuk membersihkan rupang dari debu dan noda menyambut perayaan Imlek di Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro), Surabaya, Rabu (11/02/2026). (foto : bima aditya/superradio.id)
Sejumlah umat Tionghoa gotong royong memandikan patung dewa di Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro), Surabaya, menjelang perayaan Imlek, Rabu (11/02/2026). (foto : bima aditya/superradio.id)
Prosesi pembersihan patung dewa-dewi Menggunakan Teh Panas di Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro) Surabaya, Surabaya, Rabu (11/02/2026). (foto : bima aditya/superradio.id)
Umat Tionghoa mencuci salah satu patung dewa-dewi menggunakan air bunga di Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro), Surabaya, Rabu (11/02/2026). (foto : bima aditya/superradio.id)
Umat Tionghoa sibuk membersihkan rupang dari debu dan noda menyambut perayaan Imlek di Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro), Surabaya, Rabu (11/02/2026). (foto : bima aditya/superradio.id)
Beberapa Rupang yang sudah selesai dibersihkan atau dicuci di Kelenteng Hong San Ko Tee (Cokro), Rabu (11/02/2026). (foto : bima aditya/superradio.id)
SR, Surabaya – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Kelenteng Hong San Ko Tee atau yang dikenal sebagai Kelenteng Cokro menggelar agenda pembersihan rupang (patung dewa-dewi) dan area kelenteng, Rabu (11/02/2026) pagi.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian ritual tahunan yang dilakukan sebagai bentuk persiapan menyambut hari raya Imlek, dengan harapan seluruh area ibadah berada dalam kondisi bersih dan suci saat perayaan berlangsung.
Pengurus Kelenteng, Robertus, menjelaskan bahwa pembersihan rupang dan klenteng memang rutin dilakukan menjelang Imlek. “Agenda hari ini ada pencucian rupang sekaligus pembersihan klenteng. Ini merupakan salah satu rangkaian persiapan untuk merayakan Hari Raya Imlek, supaya saat perayaan nanti semuanya sudah dalam keadaan bersih,” ujarnya.
Menurutnya, kebersihan menjadi simbol kesiapan lahir dan batin dalam menyambut tahun baru. Ia menambahkan, dalam proses pencucian rupang terdapat tradisi khusus yang telah dilakukan secara turun-temurun.
“Untuk pencucian rupang memang secara tradisi menggunakan teh panas, karena banyak rupang terbuat dari kayu. Teh panas dinilai lebih aman dan tidak merusak, berbeda dengan sabun yang berpotensi merusak materialnya,” jelasnya. Penggunaan teh panas dipercaya dapat membersihkan tanpa menghilangkan keaslian bahan rupang.
Selain teh panas, dalam proses pembersihan juga digunakan air bunga. Namun Robertus menyebut hal tersebut merupakan bentuk akulturasi budaya lokal. “Air bunga itu sebenarnya bentuk akulturasi karena kita berada di daerah Jawa. Dalam tradisi awalnya, pencucian hanya menggunakan teh panas,” tambahnya.
Ia menilai perpaduan tradisi tersebut menjadi bagian dari harmoni budaya yang berkembang di masyarakat.
Sementara itu, keterlibatan umat dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan Imlek.
Volunteer umat, Bambang, menyampaikan bahwa proses pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh para umat dan relawan. “Yang terlibat dalam pembersihan rupang ini adalah umat di sekitar sini yang bersukarela. Bahkan ada juga yang bukan umat tetapi ikut menjadi relawan. Kami tidak memanggil orang luar untuk agenda pembersihan ini,” ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud kebersamaan sekaligus bentuk partisipasi aktif umat dalam menjaga kelenteng. Pembersihan rupang dan area ibadah ini pun berlangsung dengan suasana khidmat, sebagai bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Imlek yang penuh makna. (bmz/red)
Tags: cuci patung, imlek, kelenteng hong san ko tee, rupang, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





