Klinik Granostik Kenalkan Solusi Inovatif Terapi Sarat Terjepit Tanpa Operasi
SR, Surabaya – Klinik Granostik resmi meluncurkan komunitas “Granostik Pain Clinic” sebagai wadah bagi masyarakat yang menderita nyeri kronis di Fave Hotel Rungkut, Surabaya, Sabtu (7/3/2026).
Peresmian ini ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng dan diikuti dengan aksi simbolis para tamu undangan yang memindai kode batang (barcode) untuk bergabung dalam grup WhatsApp resmi Granostik Pain Clinic.
Peresmian ini menandai hadirnya layanan manajemen nyeri mandiri pertama di Surabaya yang menawarkan solusi medis inovatif melalui metode Interventional Pain Management (IPM) tanpa harus melalui prosedur operasi besar.
Dokter spesialis anestesi Granostik, dr. Ratri Dwi Indriani Sp.An-TI, FIP, FIPP menyebutkan langkah ini adalah upaya membangun sistem pendukung (support system) yang kuat bagi pasien. “Kami ingin menciptakan wadah bagi para ‘pejuang nyeri’ agar mereka tidak merasa sendirian. Di sini mereka bisa berbagi pengalaman dan mendapatkan informasi medis yang akurat langsung dari ahlinya,” ungkap dr. Ratri dalam sambutannya.

Lebih lanjut dr Ratri mengklaim Granostik Pain Clinic sebagai klinik utama mandiri pertama di Surabaya yang fokus pada manajemen nyeri di luar lingkungan rumah sakit konvensional. Kelebihan konsep ini bertujuan untuk memotong jalur birokrasi medis yang seringkali melelahkan bagi pasien nyeri, misalnya karena alami syaraf terjepit atau nyeri lutut.
“Selama ini manajemen nyeri biasanya berada di dalam rumah sakit besar. Granostik hadir secara mandiri agar pasien bisa mendapatkan akses penanganan yang lebih cepat, nyaman, dan tidak perlu mengantre lama layaknya di rumah sakit umum,” jelasnya.
Dalam sesi edukasi, dr. Dedi Susila, Sp.An., KMN., FIPP menekankan bahwa nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan harus dianggap sebagai penyakit, bukan sekadar gejala sakit biasa. “Nyeri kronis itu bukan lagi sekadar alarm atau peringatan tubuh, tetapi sudah menjadi penyakit itu sendiri. Jika dibiarkan, kualitas hidup pasien akan menurun drastis karena mobilitasnya terganggu,” tegas dr. Dedi.
Data medis menunjukkan bahwa kurang dari 20% kasus saraf terjepit yang sebenarnya memerlukan operasi besar. Sisanya dapat diatasi melalui terapi regeneratif seperti Platelet-Rich Plasma (PRP) atau radiofrekuensi yang tersedia di klinik tersebut.

Dalam banyak kasus, rasa nyeri luar biasa menjadi momok bagi pasien syaraf terjepit (HNP) atau nyeri lutut akibat penuaan. Data menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai saraf terjepit masih didominasi oleh ketakutan akan meja bedah
Untuk mengatasi hal maka metode Interventional Pain Management (IPM) sebagai solusi jalan tengah bagi pasien. Dr. Dedi menekankan bahwa IPM hadir untuk mengisi celah bagi mereka yang takut dioperasi namun sudah tidak mempan hanya dengan mengonsumsi obat-obatan oral. “IPM adalah jembatan. Banyak pasien yang terjebak di antara rasa takut operasi besar dan ketergantungan obat yang bisa merusak ginjal. Melalui tindakan minimal invasif, kita bisa mengatasi sumber nyeri secara langsung,” tambahnya.
Selain tindakan medis, komunitas ini juga menekankan pentingnya perubahan gaya hidup dan ergonomi agar pasien dapat mencapai kondisi aging gracefully atau menua dengan tetap bugar dan produktif.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan peresmian grup WhatsApp resmi komunitas. Granostik Pain Clinic kini telah beroperasi penuh setiap hari untuk melayani warga Surabaya dan sekitarnya yang ingin mengembalikan kualitas hidup tanpa belenggu rasa nyeri. (js/red)
Tags: klinik granostik, komunitas, superradio.id, syaraf terjepit, tanpa operasi
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





