Perundungan Terjadi Karena Pembiaran, Bagaimana Cara Memutusnya?
Peran Guru BK di Sekolah

Di tingkat sekolah, keberadaan Bimbingan Konseling (BK) juga perlu dioptimalkan. Seperti yang dilakukan di SMP Negeri 1 Surabaya.
Salah satu sekolah favorit di kota Pahlawan ini bahkan memiliki motto “BK peduli siswa, BK sahabat siswa” untuk membuat BK menjadi salah satu tempat yang nyaman dan aman untuk peserta didik melakukan konseling atau cerita dan diskusi baik tentang pribadi, sosial, belajar, hingga karir.
“Tentu saja dengan tetap mengedepankan asas kerahasiaan yang selalu terjaga,” ujar salah satu guru BK setempat, Ainun Karyawati.
Maka dari itu, kata Ainun, pihaknya menghadirkan program mulai dari bimbingan kelompok, konseling kelompok, konseling individu, hingga home visit.
Bersama dengan tiga guru BK lainnya, yakni Ismiyawati, Heni Herdiningtyas, dan Choiru Rachma, dirinya terus berusaha mendekatkan diri kepada para pelajar di sana, dalam setiap kesempatan, khususnya saat jam kosong, pertama untuk menghilangkan pola pikir bahwa anak yang berhubungan dengan BK adalah ‘anak yang bermasalah’.
“Kita sampaikan ‘kamu boleh main ke ruang BK, kita bisa diskusi, ngobrol, tidak harus yang punya masalah saja, kalau kamu punya cerita menyenangkan juga boleh cerita’. Itu salah satu pendekatan kami dan hal itu ada hasilnya, anak-anak mau berkunjung ke ruang BK, bahkan kami kadang sampai kewalahan dan perlu mengatur jadwal dengan anak-anak,” katanya.
Kedua, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan kampanye anti perundungan kepada anak-anak dengan menanamkan nilai bahwa mereka adalah saudara satu sama lain dan perlakukan teman sebagaimana mereka ingin diperlakukan.
“Kami juga menanamkan bahwa setiap anak adalah juara, jadi tidak ada yang satu lebih unggul dari yang lainnya, karena setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Sistim perankingan itu juga sudah tidak ada,” ujar Ismiyawati.
Selain itu, di SMP Negeri 1 Surabaya juga terdapat anak-anak Pembimbing Teman Terbaik (Pemantik) di setiap kelas yang bertugas sebagai konselor sebaya, mengingat tidak semua anak berani bercerita ke gurunya dan lebih nyaman dengan teman sebayanya.
Lalu ada juga guru piket yang bertugas di setiap lantai untuk berkeliling mengawasi anak-anak setiap pagi, jam istirahat hingga jam pulang sekolah.
Sementara itu, Heni Herdiningtyas menambahkan, sejauh ini kasus perundungan yang pernah terjadi di sekolah adalah sebatas saling memanggil nama orang tua antar siswa. Biasanya, setelah mendapatkan laporan, maka kedua belah pihak baik pelaku maupun korban akan dipanggil dan dilakukan proses konseling agar hal tersebut tidak berulang.
Pihaknya selalu berupaya menjaga komunikasi yang baik dan efektif baik dengan siswa, orang tua siswa, hingga wali kelas dan pengajar untuk menghadirkan lingkungan yang mendukung perkembangan anak, termasuk mencegah dan menangani perundungan.
Sementara itu, berdasarkan hasil penelusuran dan konseling, Choiru Rachma menambahkan, faktor keluarga menjadi poin penting untuk kondisi anak. Menurutnya, apabila secara psikologis ada kebutuhan anak yang tidak terpenuhi di rumah, saat di sekolah anak cenderung bersikap seperti mencari perhatian dan pengakuan.
“Bisa jadi anak tidak mendapatkan role model yang baik di rumah atau mengalami bullying dari anggota keluarganya yang jarang disadari karena kan bullying itu tidak mengenal usia,” ujar Rachma.
“Kemudian ada juga yang setelah kami telusuri kenapa kok anak ini melakukan bullying, ternyata saat SD dia pernah menjadi korban. Jadi saat SMP dia merasa punya power, ia melakukan hal itu kepada temannya seperti membalas atas apa yang pernah ia alami dulu,” sambungnya.
Maka dari itu, pihaknya menegaskan, mata rantai perundungan ini harus diputus, agar korban tidak menjadi pelaku di kemudian hari. Sekali lagi dengan dukungan orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar hal tersebut dapat dilakukan.
Tampilkan SemuaTags: Cegah bullying, Perundungan
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





