Perundungan Terjadi Karena Pembiaran, Bagaimana Cara Memutusnya?
Pencegahan Bullying

Sepatutnya perundungan dicegah sejak dini. Pelaku, korban, dan lingkungan, seluruhnya saling terkait. Di sekolah misalnya. Agnes menyebut, ketika terjadi bullying, lingkungan sekitar seakan tak peduli karena ada rasa takut akan menjadi korban berikutnya. Ini yang perlu diubah.
Ia mengatakan, sekolah perlu menanamkan sikap asertif pada siswanya. Berani mengutarakan pendapat, berani menolak jika mengalami hal yang tidak menyenangkan, lalu kampanye anti bullying, pemahaman pada nilai-nilai kemanusian untuk melatih pemikiran siswa, serta pengoptimalan bimbingan konseling (BK) juga tak kalah penting.
“Untuk pencegahan harus diberi edukasi bahwa bully tidak baik, jika ikut menyoraki juga tidak baik dan malah membuat pembully makin semangat, sehingga harus dilaporkan. Semua harus disadarkan sehingga yang melihat juga tahu,” jelasnya.
Selanjutnya pada pelaku. Sikap agresif pelaku merupakan akumulasi dari seluruh emosi yang dialami. Bisa jadi, dulunya ia adalah korban.
Untuk itu, alih-alih menciptakan pelaku, selayaknya kita cegah hal tersebut, salah satunya dengan mengenali potensi yang muncul sejak anak usia dini.
Perundung, lanjut Agnes, cenderung sulit mengelola emosi, dan mengandalkan kekerasan. Jika menemukan sikap ini, maka pahami alasan dibaliknya. Bantu anak untuk mengidentifikasi apa yang benar dan salah.
“Jika perilakunya tantrum, suka menentang, dan temperamen maka perlu diwaspadai, harus didekatkan ke orang yang positif agar tidak mengarah ke tindakan negatif,” tuturnya.
Kemudian biasakan komunikasi terbuka dengan anak. Luangkan waktu untuk mengobrol, berbagi cerita kesehariannya untuk memupuk kedekatan sekaligus memahami perasaan anak.
“Calon pembully biasanya butuh ngobrol tapi mereka tidak tahu cara menyalurkannya sehingga yang muncul adalah tindakan impulsif dan kekerasan,” jelasnya.
Kemudian, pada proses penyelesaian masalah. Hal itu bisa dimulai dengan menjadi teladan yang baik. Seperti diketahui, anak merupakan peniru ulung. Dengan memperlakukan orang lain dengan baik, dan bijak saat menghadapi masalah, maka secara tidak langsung sudah mencontohkan kepada anak untuk berbuat serupa.
Namun, jika perilaku anak sudah keterlaluan, orang tua dapat melibatkan profesional untuk melakukan konseling dan mengubah sisi negatif tersebut ke hal positif, bukan malah perundungan.
“Usia berapapun bisa berpotensi apalagi jika lingkungannya juga memicu dan mengandalkan kekerasan. Penyelesaian masalah jangan dengan kekerasan, apalagi di media sosial yang seakan membiasakan kekerasan. Itu perlu diingatkan ke anak,” ungkapnya.
Berbeda dengan pelaku, untuk mencegah seseorang menjadi korban perundungan perlu menguatkan mentalnya. Korban cenderung tidak percaya diri dan mudah cemas. Terlebih jika sudah pernah dibully. Inilah yang menjadi sasaran empuk pelaku.
“Orang yang mudah sekali digertak, ditakuti dan tidak percaya diri, biasanya jika dia sudah pernah sekali dibully maka akan dibully pelaku lain, sehingga tidak berani melawan karena ketakutan dan kecemasannya. Itu mudah sekali untuk ditekan,” terangnya.
Untuk itu penting menumbuhkan sikap asertif pada anak. Bangun kepercayaan dirinya, rangkul dan bangun komunikasi untuk berani menceritakan kesulitan yang dihadapi.
“Anak diajarkan untuk asertif, terbuka, dan harus berani, tidak boleh menunjukan kalau takut, dan kuatkan harga diri anak, sehingga dia bisa lebih percaya diri dan bisa melawan bully,” ucapnya.
Tampilkan SemuaTags: Cegah bullying, Perundungan
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





