Perundungan Terjadi Karena Pembiaran, Bagaimana Cara Memutusnya?
Perundungan Lukai Korban dan Orang Tuanya

Perasaan kecewa, sedih, dan terluka tidak hanya dirasakan korban bullying, melainkan juga dirasakan oleh orang tua korban. Salah satunya Nita (nama disamarkan, red) asal Sidoarjo.
Sebagai ibu, ia merasa ‘gagal menjadi orang tua’ saat mengetahui anak pertamanya, Ian (nama disamarkan, red) menjadi korban perundungan di sekolahnya.
Hal itu pertama kali diketahuinya saat sang anak pulang sekolah dengan kondisi menangis. Saat ditanya, anak sulungnya ini tidak mau memberi tahu apa yang dialaminya sehingga Nita berinisiatif untuk mencari tahu sendiri penyebabnya dengan bertanya ke wali kelas anaknya.
“Ternyata anak saya habis berkelahi dengan temannya karena tidak terima setelah diejek kondisi fisiknya. Bahkan anak saya bilang ‘aku gak minta orang tua ku melahirkan aku dengan kondisi seperti ini, siapa yang mau diberi kondisi seperti ini, tapi mau gimana lagi?’ mendengar itu ya hati saya hancur, karena sebagai ibu saya juga tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi, tapi itu sudah kehendak Tuhan,” kata Nita.
Pasca kejadian itu, Ian tidak mau masuk sekolah. Berbagai cara pun Nita lakukan, termasuk mendatangkan guru ke rumah untuk membantu membujuk anaknya agar mau kembali bersekolah sekaligus mendatangkan pelaku yang telah mengejek anaknya agar meminta maaf secara langsung kepada anaknya.
Setelahnya, Ian barulah mau kembali masuk sekolah, namun beberapa hari kemudian Ian mengalami kejadian yang sama dengan pelaku yang berbeda. Lagi-lagi ia tidak mau kembali ke sekolah dan mengurung diri cukup lama.
Setelah dicari tau, Nita mengetahui bahwa sebenarnya Ian telah mengalami bullying sejak SD, namun saat itu Ian tidak berani berbuat apapun dan menyimpannya seorang diri. Hal itu berlanjut sampai Ian menginjak SMP. Bahkan ia terpaksa berpindah sekolah hingga tiga kali.
Menjadi korban bullying akhirnya membuat Ian menjadi pelaku kekerasan. Ia membalas perlakuan pelaku bullying dengan kekerasan fisik.
“Apa yang dilakukan anak saya juga tidak bisa dibenarkan dan saya pun sudah meminta maaf kepada pelaku dan orang tuanya atas tindakan anak saya, mungkin itu puncak emosinya, karena dia di bully sama teman-temannya soal kondisi fisiknya itu sejak SD, dan pas yang di sekolah ketiga nya ini akhirnya dia membalas pelaku,” kata Nita.
Meski Ian dan pelaku sudah berdamai, namun rupanya perlu waktu bagi Ian untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Ia pun masih memilih mengurung diri dan tetap tidak mau kembali ke sekolah.
“Jadi hampir setengah tahun itu dia masuk enggak masuk enggak, saya juga berusaha terus berkomunikasi dengan guru di sekolah untuk meminta dispensasi mengingat kondisi anak saya. Akhirnya saya coba konsultasi dengan psikiater dan alhamdulillah anak saya mulai berubah perlahan,” katanya.
Bagi Nita, proses pemulihan Ian tidaklah mudah, lantaran memerlukan bantuan dari semua pihak untuk bisa terus mendukung dan mengembalikan rasa kepercayaan diri anaknya, mulai dari keluarganya, teman sebayanya di sekolah, hingga guru.
Nita selalu memberikan contoh bahwa kondisi fisik seseorang bukanlah sebuah hambatan untuk berprestasi, teman-teman Ian pun tak lagi merundungnya bahkan teman yang dulu mengejeknya kini menjadi teman baiknya, dan pihak sekolah memberikan Ian peluang dalam berbagai kesempatan untuk turut serta berpartisipasi dan memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukannya.
“Jadi semua itu berperan. Saya berharap cukup anak saya saja yang mengalami hal tersebut, dan jangan sampai perundungan ini terjadi pada anak-anak lainnya,” tegas Nita.
Tampilkan SemuaTags: Cegah bullying, Perundungan
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





