Menolak Punah, Uswatun Hasanah Merintis Ulang Kejayaan Batik Gedog Tuban
SR, Tuban – Di tengah gempuran modernisasi, kelestarian budaya adiluhung bangsa sering kali berada di ujung tanduk. Hal inilah yang mendasari perjuangan Uswatin Hasanah, pemilik sekaligus pencetus sanggar batik gedog “Sekar Ayu Wilujeng” di Desa Kedung Rejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban.
Sejak tahun 1993, Uswatun merintis sanggarnya dari nol demi menghidupkan kembali tradisi batik gedog yang saat itu hampir punah dan kehilangan penerus. “Dulu di sini sudah tidak ada yang membatik. Saya mulai merintis dengan belajar dari ibu saya, lalu pelan-pelan mengajarkan anak-anak sekolah secara gratis,” kenang wanita lulusan SD yang kini berhasil membawa batik gedog mendunia hingga ke mancanegara.
Berkat kegigihannya dari tahun 1997 hingga sekarang, keahlian membatik dan menenun telah meluas ke seluruh warga desa, bahkan hingga ke desa-desa tetangga.

Keunikan Autentik dan Sertifikasi Indikasi Geografis (IG)
Batik tulis tenun gedog Tuban memiliki keunikan yang sangat spesifik dan tidak ditemukan di daerah lain seperti Solo atau Yogyakarta. Seluruh proses produksinya dilakukan secara tradisional satu atap (integrated process) dari hulu ke hilir.
“Ciri khas kami ada pada bahan bakunya. Kami menanam kapas sendiri, memintalnya menggunakan alat tradisional bernama jontro menjadi benang, ditenun dengan alat tenun gedog, baru kemudian dibatik menggunakan canting tulis. Karena kainnya tebal dan ditenun manual, goresan malamnya tidak tembus ke sisi sebelah, membuat kain gedog ini sangat spesial,” jelas Uswatun.
Satu lembar kain gedog membutuhkan waktu pembuatan yang sangat lama dan tidak bisa diproduksi instan. Untuk membuat satu ukel benang saja memerlukan waktu satu minggu, sedangkan satu lembar kain membutuhkan setidaknya empat ukel benang. Proses menenun memakan waktu seminggu, membatik seminggu, dan pewarnaan alam menggunakan daun serta kayu-kayuan tradisional bisa memakan waktu hingga 20 hari karena sangat bergantung pada cuaca.

Berkat keaslian proses tersebut, pada 12 November 2025 (bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Tuban), batik tenun gedog resmi menerima sertifikasi “Indikasi Geografis” (IG) dari Kemenkumham dan Dinas Perindustrian Pusat.
Sertifikasi ini menegaskan bahwa kekayaan intelektual tenun gedog secara hukum hanya dimiliki secara eksklusif oleh Kabupaten Tuban, khususnya di Kecamatan Kerek, dan tidak dapat diklaim oleh daerah lain. Kekayaan ini hanya tersisa di tiga desa penenun asli, yaitu Desa Kedung Rejo, Desa Gaji, dan Desa Margorejo.

Motif Kuno Pra-Majapahit dan Sandang Ritual
Lebih dari sekadar pakaian, motif batik gedog menyimpan nilai sejarah dan filosofi mendalam yang mengakar sejak era Kerajaan Singosari hingga sebelum Majapahit. Beberapa motif kuno yang paling diminati antara lain motif Panji (Panji Ori, Panji Serong, Panji Krendel, Panji Kerasa) yang menceritakan tokoh-tokoh kerajaan, serta motif Gringsing.
“Setiap motif di sini memiliki nama, filosofi, dan kegunaan tersendiri yang mengiringi siklus hidup manusia dari kelahiran hingga kematian,” tutur Uswatun.
Ia juga menceritakan sejarah masa lalu di mana batik gedog dulunya bersifat eksklusif dan tidak diperjualbelikan secara bebas karena diselimuti fungsi sandang ritual lokal. Salah satu tradisi adat yang masih bertahan adalah kewajiban seserahan pengantin.
Ketika seorang anak laki-laki di wilayah tersebut menikah, ia wajib membawa seserahan berupa 100 lembar kain gedog dengan motif paling eksklusif dan pewarnaan alam lengkap kepada calon pengantin wanita. Tradisi inilah yang membuat produksi kain gedog tetap terjaga meski sempat terisolasi dari pasar luar.

Tantangan Regenerasi dan Dukungan Pemerintah
Saat ini, tantangan terbesar yang dihadapi industri batik gedog adalah punahnya generasi pemintal benang dan penenun. Penenun yang tersisa rata-rata sudah berusia lanjut, dengan usia termuda berkisar antara 40 hingga 50 tahun. Jika tidak ada regenerasi, budaya menenun ini terancam punah.
Guna mengatasi hal tersebut, Sanggar Sekar Ayu Wilujeng bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Tuban menggelar pelatihan intensif yang kini telah memasuki gelombang ketiga. Sebanyak 10 pemuda dalam 3 kelompok diberikan ilmu, fasilitas alat tenun, konsumsi, hingga uang saku agar mereka mau mempelajari warisan budaya ini. Uswatun juga aktif memanfaatkan media sosial untuk merangkul generasi milenial dan Gen Z agar tertarik membatik.

Dedikasi luar biasa Uswatun Hasanah dalam melestarikan budaya yang hampir punah ini membuahkan apresiasi tinggi dari negara. Di akhir tahun 2025 (Desember), ia dianugerahi “Anugerah Kebudayaan Indonesia” (AKI) oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Penghargaan bergengsi ini melengkapi pencapaian sebelumnya pada tahun 2010, di mana ia menerima penghargaan “Upakarti” di bidang Pelestarian Budaya langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Melalui sanggarnya, Uswatun berharap kisah hidupnya—seorang lulusan SD yang mampu keliling dunia berkat melestarikan budaya local—dapat memotivasi generasi muda di Tuban agar bangga, mau meneruskan, dan menjaga agar identitas bangsa ini tidak hilang ditelan zaman. (anita/red)
Tags: batik gedok, superradio.id, tuban, uswatin hasanah
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





