Jejak Megah Kerajaan Wengker di Situs Beji Sirah Keteng Ponorogo

Rudy Hartono - 27 July 2026
Ahmad, pegiat sejarah lokal, memberikan penjelasan mendalam mengenai Arca Kalamakara kepada para pengunjung di Situs Beji Sirah Keteng, Ponorogo. Arca ini diyakini sebagai bagian dari gerbang suci (Paduraksa) petirtaan era Kerajaan Wengker. (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Ponorogo – Kabupaten Ponorogo tidak hanya dikenal dengan kesenian Reognya, tetapi juga menyimpan rekam jejak peradaban kuno yang dahsyat di lereng pegunungan selatan, tepatnya di Situs Beji Sirah Keteng.

Situs yang terletak di Dusun Keteng, Desa Bedingin, Kecamatan Sambit ini, diyakini sebagai potongan teka-teki penting dari eksistensi Kerajaan Wengker yang pernah berjaya sebelum era Majapahit.

Secara administratif, situs seluas kurang lebih satu hektare ini menawarkan suasana tenang dan sejuk di bawah naungan pohon-pohon raksasa berumur ratusan tahun.

Lurah Desa Bedingin, Robi, menjelaskan bahwa penamaan situs ini berakar dari kondisi fisik dan letak geografisnya. “Secara administratif, situs ini berada di Dusun Keteng. Kata ‘Beji’ bagi kami berarti kolam atau petirtaan, ‘Sirah’ berarti kepala, dan ‘Keteng’ adalah nama dusunnya,” ujar Robi saat ditemui Selasa (14/7/2026).

Gapura atau portal bangunan bata merah yang menyambut pengunjung saat memasuki kawasan bersejarah di Desa Bedingin, Sambit. (foto: vico wildan/superradio.id)

Merubah Tempat Angker jadi Objek Wisata Sejarah

Ia menegaskan komitmennya untuk mengubah paradigma masyarakat yang dulunya menganggap tempat ini sekadar lokasi wingit atau angker menjadi destinasi wisata sejarah yang edukatif bagi generasi muda.

Salah satu daya tarik utama situs ini adalah keberadaan arca kepala raksasa yang oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan legenda pemenggalan kepala Ki Ageng Kutu oleh Bathoro Katong. Namun, dari kacamata ilmiah, benda ini diidentifikasi sebagai Kalamakara.

Ahmad dari Media Creative Bedingin kepada Super Radio, Selasa (14/7/2026), memaparkan  artefak ini secara mendalam. Ia menerangkan arca kepala raksasa ini sejatinya adalah bagian atas dari sebuah gapura atau gerbang paduraksa, bangunan suci masa lampau. “Di titik inilah dahulu berdiri sebuah gerbang fisik megah menuju kompleks pemandian suci atau tempat pemujaan era kerajaan,” jelasnya.

Ahmad, pegiat sejarah lokal, dengan antusias menjelaskan fungsi Watu Dakon kepada pengunjung di Situs Beji Sirah Keteng. Batu alam berlubang ini merupakan instrumen astronomi kuno yang digunakan nenek moyang kita untuk menghitung pranata mangsa atau sistem penanggalan pertanian. (foto: vico wildan/superradio.id)

Selain Kalamakara, di lingkungan Situs Beji Sirah Keteng terdapat artefak unik berupa watu dakon atau batu alam berlubang  yang menjadi bukti kecerdasan nenek moyang dalam bidang astronomi. Ahmad menjelaskan bahwa watu dakon di Sirah Keteng berfungsi sebagai instrumen astronomi kuno untuk menghitung penanggalan atau pranata mangsa.

“Nenek moyang kita menggunakan watu dakon untuk menentukan waktu terbaik menanam padi atau mengadakan upacara adat. Ini menunjukkan bahwa peradaban di Bedingin sudah sangat maju dalam membaca fenomena alam,” papar Ahmad.

Jejak  Kejayaan Kerajaan Masa Lalu

Lebih jauh Ahmad mengatakan keterkaitan Situs Sirah Keteng dengan sejarah besar Nusantara semakin kuat dengan ditemukannya Prasasti Sirah Keting yang kini tersimpan di Museum Nasional. Berdasarkan pembacaan epigraf Louis-Charles Damais, prasasti ini berangka tahun 1126 Saka atau 1204 Masehi.

Pada prasasti tersebut menyebutkan tokoh raja bernama Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu yang merupakan cucu dari Dharmmawangsa Tguh, penguasa Mataram Kuno. Hal ini membuktikan bahwa wilayah Madiun dan Ponorogo pada masa itu merupakan daerah otonom yang memiliki kedaulatan sendiri.

Garis Imajiner Ruang Kosmologi Terhubung Gunung Wilis

Penelitian terbaru bahkan mengungkap adanya pola “Garis Imajiner” yang menghubungkan Situs Beji Sirah Keteng dengan situs-situs penting lainnya di Ponorogo.

Garis imajiner utama membentang dari timur ke barat, menghubungkan Punden Ngreco, Sendang Beji Karangpatihan, hingga Sirah Keteng dan Goa Selo Jolo Tundho.

Pola ini menunjukkan adanya keselarasan tata ruang kosmologi yang berorientasi pada gunung suci, terutama Gunung Wilis, yang dianggap sebagai tempat persemayaman para dewa menurut kepercayaan Jawa Kuno.

Tak hanya garis imajiner berdasarkan letak astronomis, terdapat pula “Garis Imajiner Dua” yang didasarkan pada koneksi perairan bawah tanah. Jalur ini menghubungkan Situs Sendang Sirah Keteng, Telaga Mantili Dirja, dan Dong Lesung di Desa Wringinanom.

“Masyarakat meyakini adanya terowongan air purba yang menyatukan ketiga lokasi ini, yang dibuktikan dengan penemuan badan terowongan saat warga melakukan pengeboran sumur di sekitar lokasi,” ungkapnya.

Wilayah Sambit Jalur Strategis Pertahanan

Ahmad menambahkan bahwa sejarah situs ini juga terhubung dengan narasi pertempuran besar di masa lalu, seperti kisah Prabu Boko dan Ki Hajar Wilis. “Dalam realitas sejarah, wilayah Sambit merupakan jalur strategis pertahanan. Struktur batuannya menunjukkan kemiripan dengan masa peralihan akhir Mataram Kuno menuju masa kejayaan Kediri-Majapahit,” tuturnya.

Pola pertahanan ini juga terekam dalam Prasasti Pucangan yang menceritakan serangan Raja Airlangga terhadap Haji Wengker, di mana rute pelariannya diduga melewati kawasan pegunungan selatan Ponorogo ini.

Keberadaan sistem air atau Beji yang airnya keluar dari akar-akar pohon kuno tidak hanya berfungsi secara spiritual, tetapi juga sebagai hulu irigasi pertanian masa lalu. Ahmad menggambarkan kondisi ini sebagai “Danau Purba” yang menyusut.

“Kata Beji merujuk pada mata air besar. Dahulu, area kolam alami di sini jauh lebih luas menyerupai telaga yang menjadi tumpuan hidup masyarakat kuno,” ungkapnya merujuk pada atmosfer magis sekaligus historis situs tersebut.

Sebuah artefak berbentuk wajah raksasa, yang kini diyakini sebagai Kalamakara, diletakkan di atas tumpukan batu bata kuno di Situs Beji Sirah Keteng. Penemuan ini memperkuat bukti keberadaan Kerajaan Wengker yang pernah berkuasa sebelum era Majapahit. (foto: vico wildan/superradio.id)

Siapkan Dokumentasi lewat Proyek Digital Archiving

Untuk menjaga warisan ini tetap relevan di era modern,Ahmad Media Creative Bedingin sedang melakukan langkah digitalisasi, yakni menggarap proyek Digital Archiving. Tujuannya agar anak muda tahu bahwa Desa Bedingin menyimpan rekam jejak peradaban yang dahsyat yang selama ini tertutup oleh mitos semata. “Kami ingin Desa Bedingin bisa dicatatkan sebagai laboratorium sejarah Nusantara dan diketahui masyarakat luas. Dan, semoga anak-cucu kami kelak bangga dan paham akan akar sejarah tanah kelahiran mereka di sini,” harap Ahmad.

Warga Bedingin, kata Ahmad, komitmen akan terus merawat Situs Beji Sirah Keteng sebagai identitas besar warga Bedingin dan Ponorogo. Dengan segala temuan arkeologis dan sejarahnya, Situs Beji Sirah Keteng kini berdiri sebagai saksi bisu kemegahan peradaban Wengker yang menolak untuk dilupakan zaman .(js/red)

 

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.