Robotika Bawah Air Bisa Jadi Kunci Kemandirian Maritim RI

Rudy Hartono - 4 September 2026
Ali Yusa, Dosen Jurusan Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik

SR, Surabaya – Indonesia didorong untuk bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi pengembang utama teknologi robotika bawah air guna memperkuat kemandirian industri maritim nasional.

Langkah strategis ini dinilai sebagai bentuk nyata penguatan sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan iptek sesuai semangat Asta Cita.

Ali Yusa, pengurus Dewan Pendidikan Jawa Timur sekaligus inisiator Jurusan Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), menegaskan bahwa kebutuhan teknologi seperti Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) di sektor industri sudah tidak terelakkan lagi.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan dibutuhkan. Industri akan menciptakan permintaannya. Pertanyaan strategisnya adalah: apakah Indonesia hanya menjadi pengguna, atau mampu menjadi bagian dari rantai nilai yang merancang, membuat, mengoperasikan, memperbaiki, dan mengembangkan teknologinya sendiri,” ujar Ali Yusa.

Menurut Ali, robotika maritim berfungsi memperluas jangkauan manusia dalam melakukan inspeksi struktur pelabuhan, infrastruktur lepas pantai, hingga pemantauan lingkungan perairan. Teknologi ini mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, di mana teknik perkapalan menyediakan struktur fisik, sementara informatika dan robotika memberikan logika sistemnya.

Robot bawah laut ini akan melakukan pencarian korban dan puing dari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. (net)

Penerapan konsep ini telah dibuktikan oleh mahasiswa Teknik Konstruksi Perkapalan UMG yang berhasil menjadi finalis dalam kompetisi teknologi maritim nasional 2026. Ali menekankan bahwa hilirisasi teknologi yang sesungguhnya terjadi ketika riset kampus bertemu dengan persoalan nyata di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Hilirisasi teknologi tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan ruang kerja bagi kaum terdidik di DUDI,” paparnya. Munculnya kebutuhan inspeksi bawah air secara otomatis menciptakan permintaan turunan (derived demand) bagi profesi baru seperti operator robot, teknisi, programmer, hingga analis data.

Lebih lanjut, koridor industri di Jawa Timur—mulai dari Gresik, Lamongan, Tuban, hingga Bojonegoro—dinilai memiliki ekosistem yang ideal sebagai laboratorium hidup (living laboratory) bagi pengembangan teknologi maritim ini.

Meskipun beberapa komponen masih bergantung pada rantai pasok global, kemampuan rekayasa dan integrasi sistem harus dikuasai di dalam negeri.

Sebagai penutup, Ali menekankan bahwa esensi kemandirian bukan hanya soal kepemilikan fisik. “Kemandirian maritim bukan sekadar tentang memiliki kapal. Kemandirian berarti kita punya orang yang mampu membuat dan mengembangkan teknologinya, industri yang mampu menggunakannya, serta pasar yang mampu menghidupkan ekosistemnya,” pungkasnya. (*/hk/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.