UB Forest Operasikan Drone Termal Cegah Kebakaran Hutan
SR, Malang – Pengelola UB Forest menguatkan teknis mitigasi kebakaran hutan dengan mengoperasionalkan pesawat nirawak atau drone termal matrice 30T yang mampu mendeteksi keberadaan titik panas dari udara di sekitar kawasan tersebut.
Koordinator Bidang Perlindungan dan Pengawasan Kawasan Hutan UB Forest, Muhammad Yusuf melalui keterangan resmi yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (3/9/2026), mengatakan, teknologi yang digunakan akan membantu petugas mendapatkan informasi awal mengenai titik terindikasi kebakaran, sebelum dilakukan penanganan lapangan.
“Kalau ada titik panas, kami langsung mendatangi untuk melakukan pengecekan. Ketika ada titik api segera dimatikan (dipadamkan),” kata Yusuf.
Penggunaan pesawat nirawak ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pengelola UB Forest mencegah kejadian kebakaran seiring musim kemarau yang berlangsung lebih kering.
Dengan kondisi kemarau seperti itu pola pengawasan perlu dilakukan lebih intensif.
Pihaknya pun telah menerapkan teknologi tersebut untuk memantau kawasan, pada periode 25-27 Agustus 2026 dan hasilnya saat itu ditemukan titik api di luar lokasi itu, tepatnya di wilayah perbatasan antara UB Forest dengan area hutan.
Meski demikian, Yusuf menyatakan bahwa temuan dari hasil pemantauan udara tetap menjadi perhatian petugas karena api memiliki potensi menjalar masuk ke UB Forest, apabila tak cepat ditangani.
Ia melanjutkan, api yang muncul berhasil dikendalikan dan dipadamkan. Setelah itu, petugas melaksanakan penyisiran dan memastikan tak mendapati titik api baru, termasuk di dalam area UB Forest. “Alhamdulillah masih aman, teman-teman melakukan pengecekan lagi dengan drone dan tetap tidak ada temuan,” ujarnya.
Dalam upaya menjaga kawasan hutan, pengelola melibatkan peran petani penggarap lahan melalui skema perjanjian kerja sama (PKS).
Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Kawasan Hutan UB Forest, Rifqi Rahmat Hidayatullah, menjelaskan, penggunaan drone termal menjadi salah satu upaya memperluas jangkauan dan menguatkan patroli mendeteksi potensi kebakaran yang dijalankan secara konvensional. “Kalau patroli berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor jangkauannya terbatas,” ucapnya.
Lebih lanjut, kata dia, drone termal matrice 30T dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi suhu permukaan. Ketika ditemukan area dengan suhu lebih tinggi dibandingkan kondisi sekitar petugas dapat mengarahkan drone ke lokasi tersebut untuk melakukan pemeriksaan melalui kamera yang mampu memperbesar objek di perangkat itu.
Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UB Forest, Yulianto Muji Nugroho, menyampaikan, dalam satu kali penerbangan, pesawat nirwak dapat digunakan untuk memantau area sekitar 10 hektare, dengan jarak pemantauan maksimal sekitar 500 meter.
Dengan kemampuan tersebut, penggunaan drone memungkinkan petugas melakukan pemantauan area yang lebih luas dari udara. Dalam satu kali penerbangan, Matrice 30T dapat digunakan untuk memantau area sekitar 10 hektare, dengan jarak pemantauan maksimal sekitar 500 meter dengan area kisaran 60-80 ht. Jangkauan tersebut membantu petugas memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kawasan tanpa harus langsung menyisir seluruh area secara manual.
“Drone termal ini memang membantu dalam proses deteksi tetapi durasi penerbangannya terbatas, sekali terbang paling sekitar 30 menit, kalau ingin patroli dalam waktu lebih lama tentu membutuhkan baterai lebih banyak dan pelaksanaan patroli dua kali dalam seminggu,” ucapnya.
Keterbatasan tersebut membuat pesawat nirawak diposisikan sebagai alat pendukung dalam sistem deteksi dini, bukan sebagai pengganti patroli lapangan.
Meski telah menggunakan teknologi, pengelola UB Forest menyadari bahwa mitigasi kebakaran tetap membutuhkan kesadaran masyarakat. (*/ant/red)
Tags: drone termal, mitigasi kebakaran, superradio.id, ub forest
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





