Telusuri Sejarah Raja Surabaya, Mapsinu Rutin Ziarah Makam Pangeran Kanigoro

Rudy Hartono - 10 August 2026
Makam Pangeran Kanigoro yang diklaim masyarakat senagai Abu Huroiroh pengasuh sunan ampel di komplek Pesarean Agung Surabaya, Jalan Kapasan Surabaya, Sabtu (8/8/2026). (foto: caca/superradio.id)

SR, Surabaya – Upaya meluruskan sejarah kedaulatan Surabaya terus digelorakan oleh Masyarakat Pergiat Sejarah Islam Nusantara (Mapsinu). Salah satunya lewat kegiatan ziarah rutin di makam Pangeran Kanigoro, kompleks Pesarean Agung Kapasan, Surabaya, Sabtu (8/8/2026).

Ketua Masyarakat Pergiat Sejarah Islam Nusantara (Mapsinu) Nurul Yaqin menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan tiap malam tanggal 24 dalam kalender Hijriah ini bertujuan untuk mensyiarkan temuan sejarah baru sekaligus mengoreksi identitas tokoh yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Nurul Yaqin (Ketua Mapsinu). (foto: caca/superradio.id)

Bukan pertama kali, Yaqin menyebut, kegiatan ini telah berlangsung sejak 3 bulan lalu. Kegiatan pun berlangsung khidmat selama kurang lebih dua jam, diisi dengan pembacaan tahlil dan istighasah yang dilanjutkan dengan diskusi kesejarahan.

Pemilihan tanggal nya pun tak sembarangan. Berdasarkan catatan internal, lanjutnya, tanggal tersebut merupakan waktu wafatnya ibu dari Pangeran Kanigoro, yang merupakan putri dari Sultan Hasanuddin Banten.

“Kita mencoba membuka sejarah yang baru untuk mensyiarkan temuan ini dan mendapatkan informasi tambahan atau perbandingan dari masyarakat. Kita butuh sanggahan data-data yang menyanggah penelitian kita untuk didiskusikan,” ujar Nurul Yaqin saat ditemui di lokasi ziarah.

Masyarakat Pergiat Sejarah Islam Nusantara (Mapsinu) ziarah di makam Pangeran Kanigoro Surabaya, di komplek Pesarean Agung Surabaya, Jalan Kapasan Surabaya, Sabtu (8/8/2026). (foto: caca/superradio.id).

Selama ini, lanjutnya, masyarakat lebih mengenal makam tersebut sebagai makam Syekh Abu Hurairah, yang secara lisan dikaitkan sebagai kerabat Sunan Ampel dari abad ke-15. Namun, hasil riset terhadap tipologi nisan menunjukkan ciri khas dari era 1600-an, yang merujuk pada sosok Pangeran Kanigoro, Raja Surabaya terakhir sebelum wilayah ini menjadi vasal Mataram pada tahun 1625.

Ia pun mengungkapkan, lokasi makam yang berada di dataran tinggi (Siti Inggil) menunjukkan bahwa tokoh yang dimakamkan adalah penguasa wilayah yang memiliki keistimewaan pada masanya. Sedangkan sebutan Abu Huroiroh hanya untuk seseorang yang jabatannya di bawah raja.

“Nisan di sisi timur memiliki tipologi khas Aceh dan Banten yang lazim ditemukan pada tahun 1600 hingga 1700-an, sedangkan sunan ampel hidup di tahun 1401-1481 Masehi,” sebutnya.

Untuk itu, mengingat kompleks makam ini telah berstatus Cagar Budaya, para peneliti berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dapat segera turun tangan untuk menyelaraskan narasi sejarah yang ada.

Pintu gerbang menuju Pesarean Agung Surabaya di dalamnya ada makam makam Pangeran Kanigoro Surabaya di Jalan Kapasan Surabaya, Sabtu (8/8/2026). (foto: cara/superradio.id)

Langkah ini, dinilai penting karena menyangkut identitas tokoh yang berperan besar dalam membangun fondasi politik dan kedaulatan Surabaya di masa lalu.

Pihaknya pun berharap marwah sejarah Pangeran Kanigoro dapat dikembalikan pada tempat yang semestinya sesuai dengan data-data primer yang ditemukan.

“Harus ada perhatian dari pemerintah kota melalui Dinas Kebudayaan untuk menyelaraskan ini melalui diskusi kesejarahan. Ini penting karena beliau adalah salah satu yang membangun Kota Surabaya,” pungkasnya. (hk/red)

 

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.