Arjuna Kawal Korban Bullying SMP Kapasari hingga Ingin Sekolah Lagi

Rudy Hartono - 20 February 2026
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya, Arjuna Rizky Dwi Krisnayana. (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Perkembangan terbaru mengenai kondisi siswa korban perundungan (bullying) di salah satu SMP di kawasan Kapasari, Surabaya, menunjukkan tren positif. Kabid PPA DP3A Surabaya, Thussy Apriliyandari, mengungkapkan bahwa korban yang akrab disapa Ananda kini mulai bangkit dari trauma berat yang dialaminya.

​Pernyataan tersebut disampaikan Thussy saat ditemui di Gedung DPRD Kota Surabaya pada Rabu (18/2/2026). Ia menjelaskan bahwa pendampingan intensif bersama psikolog telah membuahkan hasil, di mana korban kini sudah mulai ceria dan menyatakan kesiapannya untuk kembali bersekolah.

“Ananda sudah mulai ceria, sudah mau sekolah. Ia ingin diberi kesempatan terakhir untuk membuat orang tua bangga,” ujar Thussy menjelaskan kondisi psikis terkini korban. Selain ingin kembali belajar, korban juga mengungkapkan kerinduannya untuk kembali melakukan hobi olahraganya, seperti bersepeda dan panjat tebing.

Meski kondisi mentalnya berangsur pulih, korban menitipkan pesan mendalam. Ia berharap para pelaku perundungan meminta maaf secara langsung kepada orang tuanya dan diberikan efek jera agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Kasus yang sempat viral ini bermula pada Januari 2026 lalu. Saat itu, perundungan yang diduga dilakukan oleh sekitar delapan orang teman sekolahnya mengakibatkan korban mengalami trauma psikologis yang sangat mendalam. Dampaknya, korban sempat mengalami gangguan tidur dan kondisi mental yang terus menurun.

Karena kondisi yang mengkhawatirkan tersebut, korban akhirnya dirujuk ke psikiater di National Hospital untuk mendapatkan penanganan medis dan trauma healing yang lebih spesifik. Pemkot Surabaya melalui DP3A kemudian memberikan pendampingan klinis secara menyeluruh sejak awal kasus mencuat.

Hingga saat ini, proses hukum terus berjalan di pihak kepolisian untuk mendalami bukti kekerasan fisik maupun verbal yang dialami korban. Di sisi lain, delapan anak yang menjadi terduga pelaku juga mendapatkan pendampingan psikologis dari dinas terkait untuk memahami motif mereka sekaligus mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Di tempat yang sama, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya, Arjuna Rizky Dwi Krisnayana menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan anak di sekolah maupun lingkungan rumah. Arjuna mengusulkan pembentukan Satgas Anti-Bullying untuk memperkuat pengawasan di tingkat pendidikan.

“Pengawasan saat ini semakin sulit karena sudah masuk ke dunia digital. Jadi, pengawasan tidak cuma fisik, tapi dari handphone juga perlu,” tegas Arjuna. Ia mendorong adanya sosialisasi internet ramah anak serta penggunaan aplikasi pembatas gadget bagi orang tua.

Pihak DPRD Kota Surabaya melalui Arjuna Anggota DPRD sebagai Sekretaris Komisi D  menyampaikan DPRD akan berupaya untuk mendesak Pemkot memperkuat perlindungan anak dengan menghidupkan kembali peran “Kampung Pancasila” sebagai ruang sosialisasi perlindungan perempuan dan anak di tingkat akar rumput. (js/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.