Stigma Gen Z Apolitis Terbantahkan, Ini Bukti Kepedulian Mereka

Rudy Hartono - 26 June 2026
Ilustrasi - Generasi Z antusias jadi pengurus di PDI Perjuangan.

SR, Surabaya — Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDI Perjuangan Surabaya, Eko Wahyono, menilai stigma yang menyebut generasi Z sebagai generasi apolitis, apatis, dan individualistis tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam berbagai gerakan sosial justru menunjukkan semangat perjuangan yang sejalan dengan nilai-nilai Marhaenisme yang diwariskan Bung Karno.

Eko mengatakan, berbagai aksi demonstrasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari Reformasi Dikorupsi, Gejayan Memanggil, demonstrasi Agustus tahun lalu hingga aksi Reformati Indonesia, menjadi bukti bahwa generasi Z memiliki kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.

“Generasi Z tidaklah apolitis, apatis, bahkan individualis, melainkan merupakan generasi yang gerakannya berbasis pada akurasi isu dan data,” ujar pria yang akrab disapa Cak Ek, Jumat (26/6/2026).

Menurut Eko, gerakan yang lahir dari keresahan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah tersebut sebagian besar digerakkan oleh organisasi kemahasiswaan yang didominasi generasi Z. Karakter perjuangan berbasis isu itu dinilai memiliki kesamaan dengan pola perjuangan Soekarno muda yang dikenal sebagai tokoh dengan gerakan politik berorientasi pada persoalan rakyat.

“Karakteristik yang dimiliki oleh kebanyakan generasi Z memiliki kesamaan dengan perilaku Soekarno muda yang memang karier politik dan pergerakannya bersifat issue-driven, atau berfokus pada isu serta kebijakan,” katanya.

Berangkat dari kesamaan karakter tersebut, Eko menilai tantangan saat ini bukan terletak pada relevansi Marhaenisme, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dipahami oleh generasi yang lahir dan tumbuh di era digital.

Ia menilai pembahasan mengenai Marhaenisme selama ini masih sering terjebak pada romantisme sosok Soekarno sehingga menciptakan jarak dengan realitas kehidupan generasi Z.

“Sudah menjadi tugas kita bersama, orang-orang yang berada dalam barisan generasi milenial bahkan baby boomer untuk melakukan redefinisi strategi agar pemikiran bapak pendiri bangsa seperti Soekarno selalu relevan bagi generasi Z dan generasi-generasi berikutnya,” katanya.

Aktivis GMNI tersebut kemudian menawarkan tiga pendekatan untuk membumikan Marhaenisme di kalangan generasi muda. Pertama, menghubungkan nilai-nilai Marhaenisme dengan isu-isu kontemporer yang dekat dengan kehidupan generasi Z, seperti kesejahteraan pekerja ekonomi digital, termasuk pengemudi ojek online.

Menurutnya, kelompok pekerja tersebut merupakan contoh masyarakat yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi tetap menghadapi tekanan sistem, sebagaimana digambarkan Soekarno dalam konsep Marhaenisme.

Pendekatan kedua ialah mengubah metode penyampaian gagasan ideologis agar lebih sesuai dengan karakter generasi digital. Ia menilai penyampaian melalui pidato panjang maupun kuliah satu arah tidak lagi efektif menjangkau generasi Z.

Sebaliknya, penyampaian ideologi perlu memanfaatkan platform digital, bahasa yang lebih dekat dengan keseharian anak muda, serta didukung penyajian visual yang menarik tanpa mengurangi substansi pemikiran Marhaenisme.

Selain itu, Alumni Universitas Airlangga itu juga mendorong metode kaderisasi yang lebih partisipatif melalui diskusi kelompok, lokakarya, kegiatan gotong royong maupun advokasi masyarakat. Menurutnya, pendekatan berbasis pengalaman akan lebih mudah diterima oleh generasi Z dibandingkan metode pembelajaran yang bersifat satu arah.

Pada akhirnya, Eko menegaskan bahwa upaya membumikan Marhaenisme bukan dimaksudkan untuk mengubah nilai-nilai ideologi tersebut, melainkan memastikan pemikiran Bung Karno tetap mampu menjadi alat membaca persoalan masyarakat yang terus berkembang.

“Melalui pembumian gagasan ideologi Marhaenisme terhadap generasi Z, hal tersebut berimplikasi bahwa ideologi haruslah menjadi alat bedah analisis, bukan hanya sekadar menjadi rapalan mantra belaka,” tegasnya (*/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.