Mengenal Abelisme: Bentuk Diskriminasi yang Merugikan Difabel

Rudy Hartono - 25 June 2026
Ilustrasi - momen Hari Disabilitas Internasional. (net)

SR, Surabaya — Di tengah upaya kita membangun lingkungan yang lebih peduli, ada satu istilah yang mungkin jarang terdengar namun sangat sering terjadi di sekitar kita: abelisme.

Sederhananya, abelisme adalah cara berpikir yang keliru karena menganggap orang dengan tubuh atau pikiran “normal” lebih unggul daripada penyandang disabilitas. Pemikiran inilah yang menjadi akar dari segala bentuk ejekan, hambatan fisik, hingga pemisahan difabel dari kehidupan sosial.

ter, Pendiri Yayasan PerDIK, membedah persoalan ini dalam tulisannya yang berjudul “Understanding Ableism: Akar Stigmatisasi dan Diskriminasi Disabilitas”.  Ia menjelaskan bahwa abelisme bekerja melalui prasangka bahwa ada satu cara “benar” bagi tubuh manusia untuk berfungsi. Jika ada seseorang yang berfungsi secara berbeda, mereka sering kali dianggap tidak normal atau lebih rendah.

Menurut Ishak Salim, “Abelisme merupakan perilaku yang menunjukkan pemikiran dan sikap meremehkan atau membedakan difabel dengan orang lain berdasarkan kemampuan hidup dalam standar normalisme—kenormalan [tubuh],” tulisnya. Ia juga menambahkan bahwa diskriminasi ini tidak selalu dilakukan dengan sengaja, tetapi tetap merugikan karena didasari oleh keyakinan yang salah tersebut.

Akar dari pemikiran ini sudah ada sejak lama. Dahulu, keterbatasan fisik sering dikaitkan dengan hal mistis seperti roh jahat. Kemudian, muncul gerakan “eugenika” yang menggunakan ilmu medis untuk membedakan manusia yang dianggap “unggul” dan “cacat”, bahkan pernah digunakan oleh Nazi untuk melakukan pembunuhan massal terhadap orang dengan disabilitas. Hingga saat ini, pemikiran abelis masih bertahan dalam berbagai bentuk di masyarakat.

Ishak Salim menjelaskan ada tiga cara bagaimana abelisme ini muncul dalam keseharian kita agar lebih mudah diidentifikasi:

  1. Tindakan Halus (Mikro Abelisme): Muncul lewat ucapan yang meremehkan atau menggunakan kata-kata kasar seperti “bodoh”, “gila”, atau “tolol” dalam percakapan sehari-hari. Kita sering kali menganggap difabel tidak mampu atau tidak berdaya tanpa bertanya terlebih dahulu.
  2. Tindakan Langsung (Makro Abelisme): Misalnya, seorang pimpinan yang menolak menerima pekerja difabel hanya karena kondisinya, atau seseorang yang mengadakan acara di tempat yang tidak memiliki akses untuk pengguna kursi roda.
  3. Hambatan Sistem (Abelisme Sistemik): Terjadi ketika kita tahu suatu lingkungan tidak ramah difabel, namun kita diam saja dan tidak berusaha mengubahnya. Contohnya adalah membangun gedung tanpa jalur landai (ramp) atau membiarkan trotoar dalam kondisi buruk.

Dampak dari cara berpikir ini sangat nyata. Secara mental, penyandang disabilitas merasa terluka karena label negatif. Secara fisik, infrastruktur yang buruk membuat mereka sering mengalami kecelakaan saat menggunakan transportasi publik atau fasilitas umum. Bahkan di dunia kerja, abelisme membuat mereka sulit mendapatkan karir dan rata-rata mendapatkan upah 37 persen lebih rendah setiap tahunnya.

Sebagai penutup, Ishak Salim menekankan bahwa menyadari kesalahan cara berpikir kita adalah langkah pertama untuk berubah. “Saya meyakini bahwa tidak ada perubahan dapat dilakukan menjadi lebih baik sampai kita tahu apa yang kita lakukan salah,” ungkapnya. Untuk menjadi lebih inklusif, kita diajak untuk selalu memeriksa kembali ucapan kita, menghargai keputusan difabel, dan berani bersuara ketika melihat praktik abelisme di sekitar kita. (*/dv/red)

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.