Atasi 7.100 Anak Putus Sekolah, Tulungagung Maksimalkan PKBM

Rudy Hartono - 26 June 2026
Kasi Kelembagaan Bidang SD, Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah saat memberikan keterangan terkait Anak Tidak Sekolah. (foto: antara)

SR, Tulungagung – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terus mengintensifkan penanganan anak tidak sekolah (ATS) melalui pendampingan, verifikasi lapangan, hingga mengembalikan mereka ke jalur pendidikan formal maupun nonformal.

Kasi Kelembagaan Bidang SD Disdik Tulungagung Rifka Zuyun Umadah di Tulungagung, Kamis (25/6/2026), mengatakan langkah ini dilakukan menyusul masih tingginya jumlah ATS di daerah ini.

“Rinciannya, sebanyak 5.544 orang masuk kategori drop out (DO), sedangkan 1.556 orang masuk kategori belum pernah bersekolah (BPB),” kata Rifka Zuyun Umadah menanggapi tren sistem penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2207 di wilayah tugasnya.

Meski demikian, tidak seluruh data tersebut merupakan anak usia sekolah. Hasil verifikasi menunjukkan sebagian diantaranya merupakan warga berusia di atas 25 tahun yang masih tercatat dalam sistem pendataan ATS.

Untuk menekan angka tersebut, Disdik Tulungagung menggandeng Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) serta Dinas Sosial (Dinsos). Penanganan dilakukan secara bertahap melalui verifikasi data, konfirmasi kepada keluarga, hingga mendatangi langsung tempat tinggal sasaran.

Apabila masih memungkinkan kembali ke sekolah formal, anak akan difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan sesuai jenjangnya.

Sementara bagi yang tidak lagi memenuhi usia sekolah formal, diarahkan mengikuti pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

“Kalau secara usia masih memungkinkan, kami dorong masuk sekolah formal. Sedangkan yang usianya sudah tidak sesuai akan diarahkan ke PKBM atau pendidikan nonformal,” ujarnya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Disdik mencatat lebih dari 100 ATS berhasil kembali mengakses pendidikan formal pada jenjang SD, SMP, hingga SMA. Selain itu, sejumlah ATS lainnya juga telah mengikuti program pendidikan nonformal.

Menurut Rifka, sebagian besar anak yang didampingi bersedia kembali belajar. Namun, di lapangan masih ditemukan beberapa kendala, terutama pada anak usia setara SMA yang memilih tetap bekerja, karena merasa telah memiliki penghasilan.

“Ada yang menolak kembali bersekolah karena sudah merasa nyaman bekerja, bahkan ada yang merasa tingkat pendidikan yang dimiliki saat ini sudah cukup,” ujarnya. (*/ant/red)

 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.