Potret Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada Kelompok Keberagaman Gender

Yovie Wicaksono - 30 September 2022

Berbeda dengan Ajeng dan Krisna yang memilih untuk berpindah agama, salah satu transpuan asal Surabaya, Jihan (48) mengaku butuh perjuangan panjang untuk bisa diterima oleh lingkungan sekitar saat beribadah dengan ekspresi gendernya.

Sejak usia 13 tahun, ia menyadari bahwa dirinya berbeda. Ia pun mengaku sudah lama tak memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, hingga lima tahun yang lalu, di usianya yang tak lagi muda ia memutuskan untuk bergabung ke pengajian transpuan Al-Ikhlas Surabaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Setelah lanjut usia saya memutuskan diri untuk hijrah memperbaiki diri, tiap satu bulan sekali kita rutin mengadakan pengajian bersama,” ujarnya yang memiliki nama asli Suwaji ini.

“Alasan tidak ikut pengajian umum ya karena status gender, itu kendalanya. Kalau Al-Ikhlas ini kan transpuan semua, jadi ya lebih nyaman. Kyai nya juga baik, terbuka, dan menerima kita,” sambung Jihan.

Ia mengaku sempat mengalami pergulatan batin yang panjang, khususnya soal “pakaian” dalam beribadah. Sebagai transpuan, ia ingin beribadah mengenakan mukenah seperti ekspresi gendernya. Namun setelah mengikuti pengajian, ia diberi pemahaman bahwa saat bertemu dengan Tuhan, maka hadirlah sesuai dengan kodrat yang telah diberikan oleh Tuhan sejak lahir.

“Ya kalau bertemu Tuhan kita sudah tidak bisa main-main, harus meninggalkan sejenak duniawi kita dan menghadap sesuai kodrat yang diberikan. Saya juga percaya bahwa Gusti Allah tidak menilai pakaian saya dan saya hanya niat untuk bertemu Tuhan,” tegasnya.

Meski harus menunggu salat berjamaah selesai terlebih dahulu baru kemudian dia salat di masjid saat sedang berada di luar rumah, ia mengaku terus berusaha memenuhi kewajibannya untuk salat lima waktu bagaimanapun keadaannya.

Adanya pandemi Covid-19 yang akhirnya mengharuskan masyarakat mengenakan masker saat beribadah di masjid juga membawa dampak positif bagi Jihan. Karena situasi itulah yang membuat Jihan akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti salat Jumat di masjid.

Lantaran masyarakat sekitar tempatnya tinggal sudah mengetahui keberagaman gendernya, dan takut mendapatkan cemoohan hingga diusir dari masjid, akhirnya ia memilih untuk beribadah di masjid yang jauh dari rumahnya, bahkan harus menggunakan ojek online terlebih dahulu.

“Awalnya saya ragu dan takut untuk salat Jumat di masjid, tapi akhirnya saya memberanikan diri, apalagi kan pakai masker dan masjidnya jauh dari rumah, jadi saya merasa aman karena tidak ada yang mengenali saya,” ujarnya.

Meski mengenakan pakaian pria yang longgar dan sopan untuk salat beserta masker, satu dua orang Jemaah masjid ada yang menatapnya sekilas dengan tatapan bertanya melihat tato alisnya dan rambut panjang yang dikuncirnya sedikit memperlihatkan tampilan feminimnya.

Tak sampai disitu, takmir masjid pun sempat bertanya mengapa ada perempuan yang ikut salat Jumat di shaf laki-laki. Namun lantaran selama 3 bulan Jihan rutin salat Jumat di masjid tersebut akhirnya para takmir mulai mengerti dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.

“Lambat laun mereka paham, meski saat ke masjid saya pakai baju laki-laki, takmir dan beberapa jamaah yang sudah hafal ya tetap memanggil saya mbak. Dari sana akhirnya saya memberanikan diri untuk salat Jumat di masjid dekat rumah saya biar tidak terlalu jauh, dan tidak masalah,” kata Jihan.

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi adalah justru dari diri sendiri. Ia meyakini, saat dirinya terbuka, selalu berbuat baik, dan bisa menempatkan diri maka orang sekitar juga akan menerimanya dengan latar belakang agama maupun keberagaman gendernya.

Keluarganya pun saat ini tidak mempermasalahkan orientasi seksualnya, selama dirinya tidak merugikan orang lain. Terlebih, dari 8 bersaudara, dua diantaranya, yakni Jihan (anak ke-5) dan kakaknya (anak ke-4) merupakan transpuan. Sama dengan dirinya, kakaknya pun mengikuti pengajian rutin di Al-Ikhlas.

Tampilkan Semua

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.