Potret Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada Kelompok Keberagaman Gender

Yovie Wicaksono - 30 September 2022

Pengajian Transpuan Al-Ikhlas Surabaya

Pengajian yang sudah berjalan selama 19 tahun ini awalnya dibentuk karena adanya transpuan yang meninggal dunia di daerah Tulangan, Sidoarjo dan jenazahnya oleh masyarakat setempat, tidak di salati dan langsung dikebumikan walaupun transpuan tersebut beragama Islam.

Dari kejadian tersebut, seorang transpuan bernama Tamim alias Marini yang akrab disapa Mak Anik merasa sedih dan tidak ingin kejadian tersebut terjadi pada transpuan lainnya saat meninggal dunia.

Ia ingin para transpuan bisa dihormati sebagai layaknya manusia biasa, dan ketika meninggal nantinya dari kelompok transpuan sendiri agar bisa membantu melaksanakan pemakaman yang selayaknya bagi sesama transpuan apabila masyarakat tidak memperdulikan.

Saat awal terbentuk, jumlah mereka hanya delapan orang, kemudian semakin bertambah hingga 70 orang dan kini yang aktif rutin mengikuti pengajian ada sekira 30 orang yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Lamongan, Pasuruan, Mojokerto, hingga Madura.

“Kami sepakat selama satu bulan sekali mengadakan pengajian dari rumah ke rumah anggota secara bergiliran untuk menjalin silaturahmi kita. Bahkan juga ada iuran yang nantinya digunakan untuk meringankan dan membantu konsumsi anggota yang kedapatan untuk tempat pengajian,” ujar Ketua Pengajian Transpuan Al-Ikhlas, Rudy Hartono Kurniawan atau yang akrab disapa Kurnia.

Saat pengajian berlangsung, mereka mengenakan baju koko berwarna abu-abu dan biru yang menjadi seragamnya lengkap dengan peci yang menutupi kepala. Hal itu sejalan dengan visi Pengajian Transpuan Al-Ikhlas yakni menjadikan transpuan kembali menjadi jati diri laki-laki dan berperilaku sesuai dengan syariat Islam, serta misinya untuk mengajak transpuan konsisten berperilaku baik dan saling membantu dalam menghadapi kesulitan.

Hal itulah yang menjadi tantangan bagi mereka. Kurnia mengaku, banyak dari transpuan yang menolak menggenakan baju koko dan peci selama pengajian dan ingin mengenakan gamis lengkap dengan jilbabnya.

“Akhirnya kita pelan-pelan memberi pengertian. Kita juga tidak langsung memaksakan, yang penting mereka ikut dulu. Lama-lama ya mereka mau. Awalnya kalau datang itu pakai make up, gamis sama jilbab, besoknya sudah nggak pakai make up, terus akhirnya sekarang mau pakai seragam,” ujar Kurnia.

Sama seperti nama pengajiannya, Al-Ikhlas, maka yang diharapkan para transpuan ini mau dan bisa beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan dengan hati yang ikhlas.

Sementara itu, pembina Pengajian Al-Ikhlas, Kyai Ali Rohmad mengaku seringkali mendapat kecaman dari para pemuka agama lantaran jalan yang dipilihnya untuk mendampingi kawan-kawan transpuan.

“Saya sering kali kontra dengan para kyai dan ulama terkait ini, tapi saya tidak pedulikan. Bahasa saya sederhana, walaupun saya dikecam oleh orang-orang alim, kyai, tapi saya fokus pada tujuan saya, yakni membina mereka,” ujar pria yang sudah membina sejak 2006 ini.

Selama mendampingi, ia fokus mengajarkan soal nilai – nilai Islam, ibadah hingga akhlaq. “Kalau bagaimana kita bisa mengembalikan ke fitrahnya itu akan sulit, karena sudah terlanjur. Ya meski bisa tapi tidak 100 %. Maka yang penting kita arahkan ke ibadahnya, akhlaq, budi pekerti, karena itu juga penting,” kata kyai yang berdomisili di Driyorejo ini.

Baginya, mendampingi transpuan juga mengajarkan tentang kesabaran dan rasa ikhlas itu sendiri. Tempat pengajian yang jauh, jam pengajian yang molor karena harus menunggu anggota yang rumahnya juga jauh, hingga menyikapi setiap perilaku personal anggota membuatnya harus ekstra sabar.

“Saya di sini tidak pernah memperhitungkan macam-macam, semata-mata untuk mendampingi mereka karena itu sudah kewajiban saya. Mau siapa lagi yang harus mendampingi atau mengarahkan kalau bukan saya saat ini. Dan yang saya suka dari mereka adalah semangatnya, meski rumahnya jauh tetap rutin datang untuk mencari ilmu, terus memperbaiki diri,” tegasnya.

Bahkan, beberapa kali ia juga diminta untuk mendampingi para transpuan yang melaksanakan umrah. Ia tak menampik, meski ada tantangan yang harus dihadapi selama mendampingi, baik dari internal transpuan sendiri maupun dari pihak luar, kini pengajian Al-Ikhlas justru mendapat respon positif dari masyarakat.

“Masyarakat mendukung, tidak pernah menghalangi, malah salut. Kalau ada pengajian malah tetangganya yang membantu. Mereka bangga karena minoritas mau mengadakan pengajian begini. Semuanya memang tergantung niatnya,” pungkasnya.

Selain pengajian rutin satu bulan sekali, pengajian transpuan Al-Ikhlas juga memiliki kegiatan banjari, tur religi, hingga kegiatan sosial untuk sesama (Al-Ikhlas Peduli). (fos/hk/red)

Tampilkan Semua

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.