Pendaki Disabilitas Deklarasi 7 Puncak di Gunung Kawi

Rudy Hartono - 3 December 2024
Anggota Difabel Pecinta Alam (Difpala) usai rapat persiapan Disability Seven Summits di MCC, Kota Malang, Jumat (1/11/2023). (dok Yayasan linksos)

SR, Malang – Satu hari (H-1) menjelang deklarasi pendakian tujuh puncak gunung oleh penyandang disabilitas (Disability Seven Summits Indonesia), Rabu (4/12/2024), sebanyak  25 pendaki mempersiapkan diri mereka di areal Batu Tulis, Gunung Kawi, tepatnya di  posko Wisata Merkusi Precet, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Selasa (3/12/2024).

Deklarasi akan diikuti para peserta pendakian berasal dari Anggota Difabel Pecinta Alam (Difpala) Tingkat Caraka, perwakilan Komisi Nasional Disabilitas (KND). Terdapat pula peserta dari elemen SAR, media dan peralatan outdoor.

Dalam rilis yang diunggah di website lingkarsosial.org, disebutkan, Disability Seven Summits Indonesia adalah sebuah misi bersejarah yang menggabungkan semangat inklusi dan pemberdayaan penyandang disabilitas untuk mendaki dan menjelajah tujuh puncak gunung di Indonesia. Misi bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hak-hak disabilitas.

Disability Seven Summits Indonesia merupakan bagian dari kerjasama antara Komisi Nasional Disabilitas (KND), Yayasan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) dan TEMPO Media, sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) di bidang advokasi kebijakan dan edukasi masyarakat terkait pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

Difabel Pencinta Alam

Tim Pendakian Disability Seven Summits Indonesia inklusif meliputi pendaki disabilitas dan non disabilitas. Anggota Tim Pendaki berjumlah 25 orang terdiri 11 laki-laki non disabilitas, lima  laki-laki disabilitas, 5 perempuan non disabilitas, dan 4 perempuan disabilitas.

Sedangkan identifikasi berdasarkan ragam disabilitas, Tim Pendaki terdiri dari disabilitas fisik empat orang. Lebih detailnya, disabilitas fisik amputasi dua orang, disabilitas fisik cerebral palsy satu orang, serta disabilitas fisik akibat kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) satu orang.

Ragam disabilitas lainnya adalah disabilitas netra dua orang, tuli satu orang disabilitas mental akibat epilepsi satu orang. Lebih detail lagi, sebenarnya terdapat pula disabilitas ganda. Misalnya penyandang disabilitas fisik cerebral palsy, selain mengalami disabilitas fisik, ia juga mengalami disabilitas wicara.

Meski terbilang kegiatan ekstrim, olahraga mendaki gunung bagi penyandang disabilitas sudah mulai banyak dilakukan. Namun komunitas disabilitas pendaki gunung yang konsisten dan terprogram, saat ini masih ada satu di Indonesia yaitu Difpala atau Difabel Pecinta Alam.

Multi mitigasi

Difpala dalam misi Disabilitas Seven Summits Indonesia bertanggung jawab merencanakan multi mitigasi untuk memastikan keselamatan para pendaki. Multi mitigasi adalah upaya pengurangan risiko berlapis.

Lapisan pertama adalah standar keamanan pendakian pada umumnya. Seluruh pendaki wajib memiliki perlengkapan personal seperti sepatu gunung, trekking pole, jaket, sleeping bag dan lainnya. Selain itu, juga harus memperhatikan kelengkapan tim, seperti tenda, lampu, flysheet dan lainnya.

Lapisan kedua adalah mitigasi jalur pendakian. Jika diperlukan, Difpala atas bantuan pengelola wisata pendakian, memasang tali temali dan alat bantu lainnya untuk kemudahan dan keamanan pendakian.

Kemudian lapisan ketiga adalah kebutuhan personal sesuai kebutuhan ragam disabilitas, seperti alat bantu disabilitas yang layak, asisten akomodasi yang layak (AYL), serta obat-obatan. Lalu lapisan keempat adalah pengetahuan, keterampilan dan ketangguhan pendaki. Untuk membentuknya, setiap pendaki wajib mengikuti kurikulum Difpala.

Selanjutnya lapisan kelima adalah pengetahuan, keterampilan dan ketangguhan pendamping. Untuk membentuknya, setiap pendaki wajib mengikuti kurikulum Difpala.  Terakhir lapisan keenam adalah standar operasional prosedur (SOP) Khusus, misalnya saling menunggu, tidak ada aktivitas pendakian di malam hari, dan sebagainya. (*/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.