Ony Setiawan Beber Keunggulan Ayam KUB Dibanding Ayam Ras
SR, Surabaya – Sektor peternakan ayam ras di Jawa Timur tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan biaya pakan dan merosotnya harga jual di tingkat peternak. Kondisi pasokan yang berlebih (overload) serta penurunan daya beli masyarakat disinyalir menjadi pemicu utama ambruknya harga komoditas telur di berbagai daerah, seperti Blitar, Magetan, dan Bojonegoro.
Menyikapi krisis ini, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur sekaligus Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Ony Setiawan, menilai bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap industri pabrikan besar menjadi akar masalah utama kerentanan para peternak mandiri.

Menurut Ony, mayoritas peternak di Jawa Timur saat ini masih bergantung penuh pada ayam ras. Padahal, komponen pakan ayam ras seperti bungkil kedelai masih harus diimpor, sehingga biaya operasional peternak otomatis melambung tinggi mengikuti dinamika pasar global.
Di sisi lain, pasokan telur di pasaran justru melimpah menyusul munculnya peternak-peternak baru skala besar mendirikan kandang modern secara instan. Mereka sengaja mengejar kuota kontrak pasokan komoditas untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) nasional.
Ketika program penyerapan dari pemerintah berkurang dan pasar luar daerah seperti Jakarta serta Solo juga mengalami surplus, harga telur di tingkat lokal pun langsung jatuh drastis.
“Bayangkan biaya pakannya naik, tapi harga jual telurnya justru turun. Situasi ini sangat menjepit peternak kecil yang memiliki kapasitas 2.000 hingga 5.000 ekor. Karakteristik ayam ras itu tidak bisa diberi pakan alternatif. Jika pakannya dikurangi atau diganti sembarangan, kualitas produksi dan kulit telurnya langsung rusak,” ujar Ony Setiawan, yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Tuban.
Merespons krisis tersebut, Ony menegaskan bahwa dirinya telah berkoordinasi langsung dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dalam rapat koordinasi baru-baru ini. Ia mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah strategis dengan menghadirkan opsi alternatif bagi masyarakat, salah satunya melalui pengembangan varietas ayam kampung unggulan hasil riset Kementerian Pertanian (Kementan).
“Ayam kampung unggulan seperti Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) jauh lebih adaptif dan cocok untuk peternakan rakyat. Pakannya bisa direkayasa menggunakan bahan-bahan lokal tanpa harus bergantung pada komponen impor, sehingga biaya produksinya rendah,” jelas Ony.
Berbeda dengan ayam ras yang membutuhkan konstruksi kandang mahal hingga ratusan juta rupiah, ayam kampung unggulan dinilai jauh lebih efisien karena memiliki daya tahan tubuh yang tinggi terhadap penyakit dan bisa dibudidayakan secara sederhana dengan memanfaatkan pekarangan rumah milik warga.
Saat ini, bibit ayam kampung unggulan tersebut sudah banyak tersedia di berbagai komunitas peternak lokal dan siap dikembangkan secara massal. Ony berharap Dinas Peternakan Jatim tidak bersikap pasif atau sekadar menunggu pos anggaran berikutnya untuk bertindak. Pemerintah harus segera melakukan intervensi nyata dengan mempermudah akses bibit dan memfasilitasi produksi pakan alternatif secara massal agar peternak rakyat memiliki bantalan ekonomi yang kuat saat pasar ayam pabrikan bergejolak. (ton/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





