Mengenal Tunalaras: Hambatan Emosi yang Sering Dicap Nakal 

Rudy Hartono - 20 June 2026
Ilustrasi

SR, Surabaya — Di sekolah atau lingkungan rumah, kita mungkin pernah menemui anak-anak yang sering dicap sebagai “anak nakal” karena sulit diatur, mudah marah, atau suka membangkang. Namun, dalam dunia pendidikan dan psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah tunalaras—sebuah kondisi di mana seorang anak sebenarnya sedang berjuang menghadapi hambatan besar dalam mengontrol emosi dan perilaku sosialnya,.

Lailatul Badriyah, peneliti dari IAIN Bengkulu, membedah kondisi ini dalam kajiannya yang berjudul “Gambaran Psikologis Anak Penyandang Tunalaras” yang diterbitkan dalam Jurnal Hawa. Ia menjelaskan bahwa tunalaras bukanlah sekadar kenakalan biasa, melainkan manifestasi dari terganggunya perkembangan emosi anak yang membuatnya sulit menyesuaikan diri dengan norma hukum, sosial, maupun agama yang berlaku,.

Dalam jurnal tersebut, Lailatul Badriyah mengutip pandangan Tamsik Udin dan Tejaningsih yang menyatakan bahwa anak tunalaras adalah, “anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan sosial dan emosinya sehingga dimanifestasikan lewat tingkah laku norma hukum, sosial, agama yang berlaku di lingkungannya dengan frekuensi yang cukup tinggi,”.

Penelitian ini menemukan bahwa ciri utama anak tunalaras adalah ketidakstabilan emosi yang sangat tinggi. Hal ini sering kali berujung pada perilaku agresif, baik secara fisik seperti memukul, menendang, dan merusak barang, maupun secara verbal seperti berbicara kasar, berteriak, atau berbohong,,. Akibatnya, mereka sering kali merasa terasing, sulit mendapatkan teman, dan lebih suka bermain sendiri karena tidak mampu menyesuaikan diri dalam kelompok yang lebih luas,,.

Menariknya, kajian ini mengungkap bahwa perilaku agresif tersebut sering kali merupakan “jeritan” dari tekanan batin yang mereka rasakan. Lailatul Badriyah menemukan bahwa faktor lingkungan keluarga inti menjadi penyebab terbesar munculnya kondisi tunalaras ini. Keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang sering bertengkar di depan anak, hingga pola asuh ayah yang terlalu keras dan temperamental menjadi pemicu utama anak meniru perilaku kasar tersebut,,.

Sosok ayah yang temperamental dan kasar mengakibatkan anak mencontoh perilaku tersebut dan dilakukan pula kepada orang lain. Sering melihat pertengkaran orang tua juga mengakibatkan anak berbicara kasar dan kotor terhadap teman-temannya,” tulis Lailatul dalam kesimpulan jurnalnya,.

Dampaknya tidak hanya pada perilaku, tetapi juga merambat ke aspek akademik. Anak tunalaras sering kali sulit menerima pelajaran dan malas mengerjakan tugas karena motivasi belajar yang rendah serta perasaan minder terhadap teman sebaya,. Jika terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, mereka akan semakin dikucilkan oleh masyarakat, yang justru bisa memicu tindakan yang lebih ekstrem untuk mencari perhatian,,.

Sebagai solusi, Lailatul Badriyah menekankan pentingnya pendekatan bimbingan yang penuh kesabaran dan kasih sayang, bukan hukuman atau celaan,,. Orang tua didorong untuk memperbaiki keharmonisan di rumah dan memberikan contoh perilaku yang baik tanpa kekerasan,. Dengan dukungan emosional yang tepat dan lingkungan yang sabar, anak tunalaras diharapkan dapat belajar mengelola emosinya dan kembali diterima dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat,. (*/dv/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.