Deklarasi “Makan Dihabiskan” Atasi Krisis Sampah Makanan

Rudy Hartono - 20 January 2025
Dalam Rangka Zero Waste Month, Nol Sampah Bersama DLH kota Surabaya deklarasi gerakan makan dihabiskan bersama Berbagai Sekolah Adiwiyata di kota Surabaya. (Foto : Tim Nol Sampah.)

SR, Surabaya – Berbagai elemen dan pegiat lingkung mengelar aksi deklarasi bertajuk “Makan Dihabiskan”. Acara ini diadakan dalam rangka Zero Waste Month, dengan tujuan mengatasi krisis sampah makanan yang semakin parah Car Free Day Jalan Darmo.

Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya, Wawan Some, menekankan bahwa 55% dari 1.600 ton sampah harian di kota ini adalah sampah makanan. “Dari total 1.600 ton sampah harian di TPA Benowo, 55% atau sekitar 888 ton adalah sampah makanan. Ini harus segera ditangani,” ujar Wawan, Minggu (19/1/2025).

Salah satu sorotan utama adalah penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan di sekolah-sekolah Surabaya. Melalui survei awal, ditemukan bahwa rata-rata seorang siswa membuang 25-40 gram makanan per hari. Dengan jumlah siswa yang mengikuti program ini mencapai 600.000 orang, sampah makanan yang dihasilkan mencapai 15-24 ton setiap harinya.

“Ini angka yang besar, apalagi jika ditambah dengan limbah dari dapur selama proses memasak,” tambah Wawan. Ia juga menjelaskan bahwa satu ton sampah makanan mampu menghasilkan 2.324,24 kg emisi gas rumah kaca setara CO2, yang berkontribusi signifikan pada pemanasan global.

Melalui deklarasi ini, siswa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen makanan bergizi, tetapi juga pelopor dalam mengurangi limbah makanan. “Kader lingkungan dari sekolah-sekolah Adiwiyata akan menjadi agen perubahan yang mengedukasi teman-temannya untuk menghargai makanan dan mengelola sampah dengan baik,” lanjutnya.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengubah kebiasaan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menghargai makanan dan lingkungan. Dengan kolaborasi yang solid, Surabaya diharapkan mampu menciptakan budaya baru yang berkelanjutan dalam pengelolaan sampah makanan.

Deklarasi ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengurangi dampak buruk sampah makanan. Jika berhasil, gerakan ini bisa menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah makanan secara sistematis dan berkelanjutan. (*/rri/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.