Bahasa Ibu di Ujung Zaman: Antara Gengsi Global dan Jati Diri Lokal

Rudy Hartono - 10 March 2026
Ilustrasi - Acara Festival Tunas Bahasa Nasional 2025.

SR, Surabaya – Globalisasi membawa menuju perkembangan dunia, tetapi selalu diiringi dengan konsekuensi. Kemajuan zaman yang pesat meleburkan manusia ke dalam modernisasi, termasuk dalam cara bertutur. Bahasa asing kerap dipandang sebagai simbol kemajuan, bahkan dianggap lebih tinggi kastanya dibanding bahasa Indonesia, apalagi bahasa ibu atau bahasa daerah.

Sekolah dengan sistem bilingual hingga trilingual pun kian populer. Namun di balik itu, generasi muda perlahan menjauh dari bahasa ibunya sendiri.

Safrina, warga Surabaya sekaligus ibu dari seorang anak usia sekolah dasar, merasakan langsung berada di tengah arena disrupsi. Ia membiasakan putrinya mahir berbahasa Inggris, tetapi tetap berupaya mengenalkan bahasa Jawa sebagai fondasi sopan santun.

“Sering juga anak saya pakai bahasa Inggris, karena sekarang juga banyak yang memakai bahasa itu ya. Jadinya yang dibuat daily (sehari-hari) tuh bahasa Indonesia dan bahasa Inggris,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Namun Safrina tak sepenuhnya melepas bahasa Jawa dari didikannya kepada sang putri. “Kalau bahasa (Jawa) Kromo juga saya ajarkan, seperti kalau dipanggil namanya jawabnya ‘dhalem, inggih, sampun’. Yang basic-basic lah. Supaya dia sopan ke yang lebih tua,” katanya.

Untuk percakapan sehari-hari, Safrina mengaku lebih memilih bahasa Indonesia. Ia merasa penggunaan bahasa Jawa ala Surabaya terdengar agak kasar sehingga tidak dibiasakan dalam percakapan sehari-hari.

Safrina (warga Surabaya) bersama putrinya sehari menggunakan trilingual: bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris (foto: istimewa)

 

Peringatan UNESCO: Bahasa Asli yang Terpinggirkan

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menyatakan bahwa saat ini 40 persen populasi dunia tidak memiliki akses terhadap pendidikan dalam bahasa asli mereka. Bahkan di beberapa negara, angkanya mencapai 90 persen.

Data tersebut menjadi alert (alarm peringatan) bahwa bahasa ibu di berbagai belahan dunia sedang menghadapi ancaman serius. Termasuk eksistensi bahasa Jawa di Jawa Timur.

Budayawan sekaligus Wakil Sekjen Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), Endin Didik Handoko, menilai penggunaan bahasa daerah memang tengah mengalami kemunduran. Ia menyoroti pergeseran kebiasaan dalam keseharian lingkungan keluarga. “Bahasa Jawa jarang digunakan dan jarang dipakai. Untuk keseharian kepada anak-anak pun ibu-ibu dengan gengsinya memakai bahasa Indonesia. Jadinya bahasa Jawa bagi anak-anak sangat tidak diminati,” bebernya.

Ditambahkan Endin, perubahan zaman membawa dinamika tersendiri. Di Jawa ini perubahannya signifikan. Orang sekarang dalam berekomunikasi lebih senang memunculkan istilah-istilah Arab.

Upaya revitalisasi pun mulai didorong oleh Endin dan kawan-kawan. Salah satu upayanya lebih mengenalkan secara intensif penulisan-penulisan aksara Jawa. “Sejatinya bahasa Jawa sudah masuk kurikulum ajar di Surabaya, kami bersama teman-teman Komite Sastra lebih gencar membiasakan penggunaan bahasa Jawa dan penulisan aksara jawa di sekolah,” terangnya.

Wakil Sekjen Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), Endin Didik Handoko. foto: istimewa

Bahasa sebagai Akar Jati Diri

Bagi Endin Didik Handoko, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan ikatan emosional yang fundamental. Ia menilai ada keindahan tersendiri ketika bahasa Jawa digunakan dalam lingkup keluarga.

“Bahasa daerah itu kan akar kebudayaan sebagai jati diri bangsa, juga sebagai alat penguat ikatan keluarga. Meski hari ini penggunaan bahasa Jawa lebih banyak diucapkan ngoko (bahasa terendah dalam bahasa Jawa) tidak pakai kromo inggil (tutur bahasa halus perlambang kesopanan),” ujar pegiat seni dan budaya asal Kabupaten Tulungagung ini.

Di sisi lain, Endin juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan generasi muda setempat agar bahasa ibu tidak tertinggal. Untuk itu diperlukan usaha mempertahankan keunikan budaya di tengah globalisasi ini. “Kalau mau bahasa ibu tidak tertinggal, maka diperlukan keterlibatan aktif generasi muda dalam menggunakan sekaligus mempromosikan bahasa lokalnya untuk mencegah kepunahan bahasa,” lanjutnya tegas.

Kabar baiknya, upaya pelestarian bahasa lokal ini sejalan dengan munculnya geliat positif dari generasi muda yang mulai menggandrungi kesenian tradisional di berbagai daerah. Sebagai contoh nyata, di Tulungagung kini banyak anak muda yang dengan bangga memainkan seni jaranan dan reyog. “Alasan anak muda mau tampil karena mereka menyukai dandanan ala tradisional yang membuat mereka terlihat cantik dan bagus,” sambung pemangku Sanggar Sangtakasta ini.

Kukuh Setyo Wibowo, jurnalis majalah Panjebar Semangat.

Generasi Muda dan Lunturnya Ondo-Usuk

Kukuh Setyo Wibowo, jurnalis majalah berbahasa Jawa di Surabaya, Panjebar Semangat, juga melihat adanya penurunan signifikan dalam penuturan bahasa ibu. “Kalau saya melihatnya sekarang memang ada penurunan yang drastis dibanding era dulu,” ungkap Kukuh. Ia mengenang masa ketika tata krama bahasa masih dijaga. Dulu itu ketemu orang yang lebih tua, terutama guru harus pakai bahasa kromo inggil.

Diterangkannya bahasa Jawa memiliki struktur tingkatan bahasa atau ondo-usuk dahulu sangat dipahami oleh anak-anak dan remaja, terutama di kawasan pinggiran kota dan pedesaan.”Istilahnya ondo-usuk (tingkatan) bahasanya itu ada,” paparnya.

Sayangnya, saat ini kualitas dan penerapan bahasa Jawa semakin memprihatinkan. Indikasinya, sudah jarang anak muda bertutur Jawa menggunakan kromo inggil. “Selain itu dalam hal penerapannya, antara sesama teman dengan orang yang lebih tua itu dianggap sama,”kata Kukuh, “Terus juga kadang-kadang orang sekarang bahasa Jawanya campur-campur bahasa Indonesia. Jadi memang kondisinya sekarang seperti itu,” sambungnya.

Kukuh bahkan menjumpai penggunaan sapaan yang dinilai tidak pantas. Hal itu ia temukan di daerah selatan Jawa Timur, ia menjumpai anak muda memanggil orang tuanya dengan sapaan “kowe” (kamu). Atau ia juga menjumpai di Surabaya penggunaan kata “koen” (kamu) yang diucapkan seorang anak kepada orang tuanya. “Ucapan itu ‘kowe’ atau ‘koen’ kepada orang tua sesungguhnya tidak sopan atau tidak boleh, seharusnya memakai kata ‘sampean’ atau ‘panjenengan’,” ujarnya.

 

Sekolah dan Media: Kunci Revitalisasi

Dalam usaha revitaliasi Menurut Kukuh Wibowo, faktor kunci ada pada pendidikan formal. Ia membandingkan kualitas pengajaran dulu dan kini. Menurutnya guru-guru bahasa Jawa di sekolah sangat mumpuni dalam

“Dulu bahasa Jawa itu diajarkan di sekolah dengan guru-guru yang mumpuni. Guru-guru yang memang paham bahasa Jawa,” papar wartawan yang bekerja untuk Panjebar Semangat sejak tahun 1996 ini.

“Sekarang ini saya melihat di sekolah, guru pelajaran muatan lokal kurang mumpuni. Akibatnya anak-anaknya kurang menguasai ilmu yang diberikan,” jelasnya.

Sebagai jurnalis media berbahasa Jawa, Kukuh merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus nguri-uri (melestarikan) bahasa ibu. Demi menjangkau generasi milenial dan Gen Z, Panjebar Semangat melakukan adaptasi digital.

“Rubrik terutama untuk generasi muda, kita mencoba membuka rubrik-rubrik baru yang kekinian,” bebernya. “Memang kalau rubrik untuk kasepuhan atau orang-orang tua, bahasa Jawanya asli pakem lama gitu ya. Tapi untuk anak-anak muda kita mengakomodasi bahasa-bahasa yang lagi tren, bahasa-bahasa prokem yang lagi jadi pembicaraan sehari-hari, meskipun dalam penulisan di hurufnya kita miringkan,” paparnya.

Transformasi media juga terus dilakukan oleh tim redaksi majalah yang didirikan sedari tahun 1930 oleh keluarga besar Dr. Soetomo, sang pahlawan kebangkitan nasional. “Sekarang ini juga kita lagi mengembangkan website, kanal Youtube, dan majalah digital atau e-magazine. Sudah mulai jalan sebenarnya sejak sebelum Covid, tapi mulai diseriusi sekitar 2 tahun terakhir ini,” ujar Kukuh mengakhiri perjumpaan dengan Super Radio di kantornya di kawasan Bubutan, Surabaya. (giy/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.