Muhammad Ikhwan Tariqo: Menembus Batas Kegelapan Lewat  Digital Marketing

Rudy Hartono - 8 July 2026
Muhammad Ikhwan Tariqo, penyandang disabilitas netra yang juga wirusaha bidang web developer saat membagikan ilmunya kepada siswa tunanetra di Pelatihan Digital Marketing bagi siswa-siswi tunanetra di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya, Senin (6/7/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Di sebuah ruangan yang tenang, jemari Muhammad Ikhwan Tariqo bergerak lincah di atas papan ketik laptopnya. Bagi orang awam, layar komputer yang gelap mungkin tampak sunyi, namun bagi pria yang akrab disapa Rico ini, dunia digital adalah panggung tanpa batas tempat ia merajut kesuksesan.

Senin (6/7/2026), Rico menjadi pembicara utama dalam Pelatihan Digital Marketing bagi siswa-siswi tunanetra di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya di Gedung YPAB, Jl. Gebang Keputih No. 5, Surabaya.

Sebagai seorang tunanetra, Rico telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi mutakhir dan bersaing di industri yang sangat mengandalkan visual seperti pemasaran digital.

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, pada 27 Oktober 1987, Rico membawa semangat pantang menyerah dari tanah kelahirannya. Perjalanan akademisnya membawanya merantau ke Bekasi untuk mendalami Sastra Inggris di STBA Bina Dinamika. Bekal kemampuan bahasa ini kemudian menjadi modal berharga saat ia memasuki dunia kerja profesional, meskipun ia harus beradaptasi dengan cara yang jauh berbeda dari rekan-rekan sejawatnya yang memiliki penglihatan.

Sebelum dikenal sebagai pakar digital marketing, Rico sempat meniti karier di sektor perbankan selama empat tahun, mulai dari 2011 hingga 2015. Namun, panggilan jiwa dan pencarian akan kemandirian yang lebih inklusif membawanya hijrah ke ekosistem bisnis digital pada tahun 2015.

Keputusan tersebut terbukti tepat, sejak saat itu hingga kini, ia sepenuhnya mendedikasikan diri untuk mendalami seluk-beluk kampanye digital, mulai dari pengelolaan data hingga pengembangan web.

Rahasia di balik kemampuannya mengelola strategi digital yang kompleks terletak pada pemanfaatan teknologi asistif. Rico menggunakan aplikasi screen reader atau pembaca layar seperti NVDA pada laptop dan Talkback pada Android yang mengubah teks menjadi suara.

Rico saat mendapat berbagai penghargaan atas kerja-kerja profesionalnya. (foto: istimewa)

Baginya, teknologi ini bukan sekadar alat bantu, melainkan jembatan menuju kesetaraan di dunia profesional yang sering kali kurang berpihak pada penyandang disabilitas. Rico menekankan bahwa era kecerdasan buatan (AI) saat ini memberikan peluang luar biasa bagi komunitas tunanetra.

“Dengan digital marketing dibantu dengan teknologi aksesibilitas dan juga zaman sekarang sudah ada yang namanya artificial intelligence, itu jadi kita punya start yang setara dengan teman-teman yang memiliki penglihatan dalam melakukan kampanye,” tuturnya.

Rico  menjelaskan bagaimana AI kini berfungsi sebagai “copilot” dalam pekerjaannya. Kutipan ini menegaskan keyakinannya bahwa kompetensi teknis adalah kunci utama, bukan kondisi fisik seseorang.

Dalam berbisnis, Rico memiliki prinsip untuk selalu mengedepankan kualitas karya. Banyak kliennya yang awalnya tidak menyadari bahwa pengembang web yang mereka sewa adalah seorang tunanetra, karena hasil pekerjaannya memenuhi standar industri yang tinggi. Ia tidak ingin menjual rasa iba karena ia ingin menjual keahlian. Baginya, kepuasan klien setelah melihat produk yang dihasilkan jauh lebih berharga daripada simpati yang didapat karena keterbatasan fisiknya.

Kesuksesannya di dunia digital tidak hanya berdampak pada kepuasan profesional, tetapi juga kesejahteraan keluarganya. Sebagai ayah dari dua orang anak, Rico telah mencapai kemandirian finansial yang nyata. Ia mengenang masa-masa saat bekerja di bank di mana ia hanya berani bermimpi untuk membayar uang muka (down payment/DP) rumah.

“Kalau waktu saya kerja tuh saya berpikirnya untuk DP rumah. Kalau saat ini waktu saya full time jadi digital marketing saya bisa beli rumah,” ungkapnya, menunjukkan bahwa dunia digital telah memberinya kehidupan yang layak dan mandiri.

Rico pernah diundang khusus oleh mantan Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim. (foto: istimewa)

Kini, Rico juga aktif membagikan ilmunya sebagai pemateri, salah satunya dalam pelatihan yang diadakan oleh Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB). Tantangan terbesarnya saat ini adalah melakukan transfer pengetahuan kepada sesama tunanetra, mengingat materi pembelajaran digital marketing yang ada sering kali tidak dirancang untuk penyandang disabilitas. Ia berupaya menerjemahkan materi visual menjadi konsep-konsep yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh rekan-rekannya agar mereka juga bisa berdaya.

Misi besar Rico adalah melihat teman-teman disabilitas mampu bekerja sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing, baik sebagai komika, kreator konten, maupun pebisnis.

Ia percaya bahwa sehebat apa pun sebuah karya, akan percuma jika tidak bisa dipasarkan dengan baik. Melalui kisah hidupnya, Muhammad Ikhwan Tariqo memberikan pesan kuat bahwa kegelapan hanyalah kondisi fisik, sementara masa depan tetaplah terang bagi siapa saja yang mau beradaptasi dengan kemajuan zaman. (js/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.