Wisma Jerman Gelar Kolaborasi Tari Kontemporer Lintas Media di Surabaya

Rudy Hartono - 3 September 2026
Koreografer asal Belanda yang berbasis di Berlin, Ruben Reniers tampil dengan tari kontemporer, Rabu (2/9/2026) di Balai Budaya Surabaya, Rabu (2/9/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Wisma Jerman menggelar pertunjukan tari kontemporer bertajuk “In (Between) Movement” di Balai Budaya Surabaya, Rabu (2/9/2026). Dihadiri berbagai lapisan masyarakat, kegiatan tampak ramai antusias penonton.

Pertunjukan itu sukses memadukan kolaborasi lintas negara dan media antara koreografer asal Belanda yang berbasis di Berlin, Ruben Reniers, dengan seniman visual serta komposer musik elektronik asal Indonesia, Irene Tanuwidjaja.

Selain karya utama, acara ini juga menampilkan segmen “Body Switch”, sebuah pementasan hasil lokakarya selama beberapa hari yang melibatkan delapan peserta non-profesional. Dalam sesi ini, pengalaman pribadi peserta tentang identitas direkam dan dijadikan narasi suara (voiceover) yang menjadi bagian dari musik pengiring.

Manager Advisor Wisma Jerman, Mike Neuber, menegaskan, kolaborasi ini merupakan upaya untuk memperkuat hubungan budaya antara Jerman dan Indonesia. Menurutnya, pertemuan dua seniman yang sama-sama memiliki latar belakang pendidikan seni di Jerman ini menghasilkan karya yang unik dan jarang ditemukan.

Tari kontemporer body switch oleh peserta wprkshop yang dilatig Ruben Reiners menjadi pembuka pertunjukan In Between di Balai Budaya Surabaya, Rabu (2/9/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Tujuannya, guna menghidupkan skena tari kontemporer di Surabaya yang selama ini didominasi oleh tari tradisional. “Tujuan kami adalah membawa tari kontemporer ke Surabaya sekaligus mendukung kerja sama antarseniman Jerman dan Indonesia di bidang budaya,” tutur Mike.

Keunikan pementasan pun terletak pada metodologi kreatifnya, di mana Ruben Reniers menyusun koreografi dengan merespons langsung komposisi audio dan visual yang diciptakan Irene.

Komposer Musik Elektronik Irene Tanuwidjaja, menjelaskan, performance in between berakar dari pertanyaan personalnya selama menjadi diaspora. Baginya, Karya ini bukan sekadar pementasan gerak, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang rasa memiliki (belonging), perpindahan, dan pencarian jati diri seorang migran.

Keresahan itu kemudian terhubung dengan tugas akhirnya yang kebetulan punyak topik yang sama. Dari sanalah ia mengulik seniman dan menemukan Ruben di instagram untuk diajak kolaborasi.

“Kapan perasaan ‘di antara’ (in-between) ini selesai? Di mana saya benar-benar memiliki tempat tinggal? Dari pertanyaan-pertanyaan itulah saya menuangkan pengalaman pribadi saya ke dalam bunyi, visual, dan pergerakan tari,” ujarnya saat ditemui usai acara.

lulusan University of Music and Dance Cologne, itu pun menjelaskan, tantangan teknis terbesar adalah memastikan sinkronisasi antara proyeksi visual ke bawah dengan pergerakan penari yang harus mengikuti pola tersebut.

Selama pertunjukan berlangsung, ia bertindak layaknya seorang “DJ” yang mengontrol alur musik dan visual secara langsung untuk mengiringi para penari.

“Ini adalah pertama kalinya saya menuangkan pertanyaan pribadi mengenai identitas dan migrasi ke dalam karya. Kami sempat mempertanyakan apakah proyeksi ke bawah ini bisa diikuti oleh penari, dan syukurlah hal tersebut berhasil direalisasikan,” kata Irene.

Manager Advisor Wisma Jerman Mike Neuber (tengah, kemeja batik) disamping kirinya koreografe Ruben, lebih kiri lagi Konsul Kehormatan Jerman di Surabaya, Christopher Tjokrosetio mengabadikan momen Bersama penonton pertunjukan In Between, di Balai Budaya Surabaya, Rabu (2/9/2026), Rabu (2/9/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Hal serupa disampaikan Ruben Reniers. Ia mengakui bahwa ia tak memulai dengan gerakan yang sudah jadi, melainkan berimprovisasi berdasarkan tempo dan “dramaturgi” yang dibangun oleh musik elektronik serta proyeksi visual di lantai panggung.

“Saya sangat terinspirasi oleh musik, visual, dan tempo yang disusun Irene. Saya bergerak di antara visual dan nada-nada yang ia berikan,” kata Ruben.

Ia menambahkan bahwa proses improvisasi ini sangat dinamis, di mana ia bergerak di antara nada-nada dan proyeksi cahaya yang disediakan. “Konsep utama dan ide dasarnya datang dari Irene sebagai komposer dan seniman visual. Saya terinspirasi oleh musik, visual, serta tempo yang ia susun dalam dramaturgi pertunjukan,” ujar Ruben Reniers saat ditemui usai acara.

Adapun, setelah sukses dipentaskan di Jakarta dan Surabaya, rangkaian pertunjukan “In (Between) Movement” dijadwalkan akan berlanjut ke kota Bandung sebagai destinasi berikutnya. (hk/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.