Kisah Ruben Reiners: Nyaris Didepak hingga Guncang Balet Dunia

Rudy Hartono - 3 September 2026
(Dari kiri) Irene, Manager Advisor Wisma Jerman Mike Neuber, koreografe Ruben, Konsul Kehormatan Jerman di Surabaya, Christopher Tjokrosetio mengabadikan momen usai pertunjukan In Between, Rabu (2/9/2026). (foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Ruben Reniers, koreografer kelahiran 1979 asal Belanda yang kini menetap di Berlin, membagikan kisah perjalanan kariernya yang penuh tantangan saat mementaskan karya “In (Between) Movement” di Balai Budaya Surabaya, Rabu (2/9/2026).

Meski kini dikenal sebagai penari dan koreografer profesional, perjalanan Ruben dimulai dengan kejujuran pahit mengenai keterbatasan bakatnya di dunia balet klasik.

Perjalanan profesional Ruben dimulai pada tahun 1999 ketika ia memutuskan pindah ke Jerman untuk bergabung dengan sebuah perusahaan balet negara (state company). Padahal, latar belakang pendidikannya adalah universitas tari modern di Rotterdam.

Di awal kariernya, Ruben harus bergelut keras dengan teknik balet neoklasik yang sangat ketat dan menuntut kesempurnaan fisik.

“Sejujurnya, saya merasa kurang berbakat di balet klasik. Saya bahkan hampir dikeluarkan dari akademi karena dianggap tidak cukup bagus,” ungkapnya.

Namun, ia memilih bertahan dan terus mempelajari teknik tersebut karena kecintaannya pada keindahan garis dan emosi dalam balet. Bahkan ia tetap melakukan latihan rutin balet hingga masa pandemi Covid-19.

Titik balik kariernya terjadi saat ia menetap di Cologne antara tahun 2005 hingga 2010. Di sana, Ruben bertemu dengan Amanda Miller, seorang koreografer yang menginspirasinya untuk mulai menciptakan karya sendiri.

Miller memberikan kesempatan pertama bagi Ruben untuk menyusun sebuah pertunjukan utuh malam penuh (full evening piece).

Koreografer asal Belanda yang berbasis di Berlin, Ruben Reniers tampil dengan tari kontemporer, Rabu (2/9/2026).(foto: hamidiah kurnia/superradio.id)

Menariknya, karya pertama yang ia buat 27 tahun lalu itu juga bertajuk “In Between” . Alhasil, pertunjukan yang ia bawa ke Surabaya kali ini seolah menjadi sebuah lingkaran perjalanan karier yang kembali ke titik awal namun dengan kedewasaan artistik yang berbeda.

“Saya merasa kita semua terus-menerus berada ‘di antara’ (in between). Tidak ada yang benar-benar berhenti di satu sisi, kita terus bergerak,” jelasnya soal filosofi hidupnya yang dituangkan ke dalam tari.

Bagi Ruben, tari kontemporer bukan sekadar produk akhir di atas panggung, melainkan sebuah proses pencarian tanpa henti. Ia mengaku lebih tertarik pada dinamika proses kreatif daripada hasil yang kaku.

Lewat pengalamannya, ia ingin mendobrak stigma bahwa tari kontemporer sulit dipahami, sembari terus menjaga dialog terbuka dengan penonton di setiap kota yang ia kunjungi, termasuk rencana pertunjukan berikutnya di Bandung.

“Menurut saya konsep ini merujuk sangate relate dengan kehidupan. Kondisi manusia yang terus-menerus berada di antara, tidak pernah benar-benar berhenti di satu sisi atau titik tertentu,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.