Mahasiswa Unair Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan melalui Sistem Pengairan dari Panel Surya

Yovie Wicaksono - 19 October 2021

SR, Surabaya – Organisasi Jamaah Intelektual Mahasiswa Muslim (JIMM) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) mengimplementasikan panel surya sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan warga Desa Ko’ol, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Tim membeberkan bahwa Desa Ko’ol termasuk daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama untuk menghidupi sektor pertanian. Oleh karena itu, tim menginisiasi  membuat sumur bor yang dilengkapi dengan pompa submersible dengan kedalaman sekitar 70-80 meter.  Hal ini mendorong pembangunan berkelanjutan atau SDGs poin ke-6 (air bersih dan sanitasi layak) sekaligus SDGs poin ke-7 (energi bersih dan terjangkau).

Program ini juga mendorong SDGs poin ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi).  Tim juga mengusung konsep edutourism dalam bentuk desa wisata taman bunga dan hidroponik.

“Dari sini UMKM di Desa Ko’ol sedikit demi sedikit ekonominya terangkat sehingga nantinya diharapkan tercipta masyarakat yang sejahtera,” ucap Wahyu Addin Pratama selaku ketua tim.

Sementara untuk meminimalisir emisi karbon, tim mengajak warga memanfaatkan tangkapan panel surya. Hal tersebut senada dengan SDGs poin ke-13 (penanganan perubahan iklim) melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Kondisi alam di Desa Ko’ol memiliki cahaya matahari yang sangat terik, jadi ya penggunaan panel surya skala rumah tangga bisa optimal untuk menghasilkan listrik selama matahari ada. Selain itu bisa mencegah pemanasan global, bencana hidroklimatologi dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Pada proses mematangkan perencanaan, pertama tim mulai memasang panel surya pada bracket (kerangka panel). Kedua menghubungkannya ke controller, aki dan inverter (pengubah arus DC ke AC)  hingga arus listrik siap digunakan untuk menghidupkan pompa air. Ketiga, air yang keluar dari tanah otomatis tertampung dalam tandon sehingga bisa dibuat untuk mengairi sawah maupun menyirami tanaman hidroponik.

Menurut Addin dan tim, Desa Ko’ol bisa sebagai pionir dan rujukan dalam perwujudan desa mandiri energi. Hal tersebut, sambungnya, menggunakan strategi keberlanjutan program. Dengan cara mensosialisasikan tahapan serta mekanisme kerja kepada warga setempat, khususnya anggota karang taruna.

Respon desa sasaran-pun sangat baik. Pihaknya menyediakan lahan yang strategis di depan kawasan tugu untuk bangunan ikonik desa.

Sebagai informasi, gagasan dari tim JIMM yang dilandasi upaya memulai sumber energi terbarukan ramah lingkungan, mengantarkannya lolos funding sebesar Rp 49,5 juta dalam ajang Program Pengembangan Pemberdayaan Desa (P3D) 2021, yang merupakan program lanjutan dari Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) gelaran Kemendikbud Ristek pada Juni lalu hingga November mendatang. (*/red) 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.