Keren! Mlaku Mlayu Timik Timik Surabaya Diikuti Ratusan Lansia .
SR, Surabaya – Pagi belum sepenuhnya benderang sekelompok pria lanjut usia (lansia) tengah berjalan perlahan mengikuti irama atau hitungan tertentu di lapangan KONI Jalan Raya Kertajaya Surabaya. Gerak olah tubuh itu dilakukan secara teratur sekira durasi 20 menit. Belakangan diketahui mereka menamakan diri sebagai komunitas “Mlaku Mlayu Timik Timik” (M2T).
Untuk mengetahui lebih jauh komunitas itu Super Radio mendatangi markas M2T di Semolowaru Tengah Surabaya, Jumat (21/8/2026) pekan lalu. Di sana ditemui Totok Noerdianto sebagai founder M2T dan Didik Norman Co-founder M2T.
“Komunitas M2T ini merupakan wadah berkumpulnya para lansia, khususnya usia 50 tahun ke atas, yang ingin sehat fisik, mental, dan pikiran. Maklum manusia tak bisa menyangkal semakin bertambah usia dimungkinkan terjadi penurunan kualitas hidup,” kata totok mengawali pembicaraan.

Menjaga Persendian Pertahankan Kebugaran
Lebih lanjut Totok menyatakan komunitas M2T secara khusus mempromosikan tren baru olah raga bagi lansia, yakni mlaku mlayu timik timik atau slow jogging atau kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah berjalan berlari secara perlahan. Metode lari ini dipopulerkan dari Jepang dan diyakini ramah sendi dan terbukti secara medis mampu menjaga kebugaran jantung tanpa membebani lutut.
Sesuai dengan namanya mlaku timik timik, maka M2T lebih merekomendasikan anggotanya menjaga kebugaran dengan jalan kaki ketimbang olah raga berlari atau olah raga lainnya. “Jalan timik-timik sangat kami rekomendasikan untuk lansia dikarenakan kondisi persendian lansia kebanyakan mulai rapuh. Sedangkan berlari membutuhkan intensitas tinggi yang rentan melukai persendian,” kata pria usia 67 tahun itu saat ditemui di markas M2T yang juga kediamannya.
Menurut pengakuan Totok, olah raga mlaku mlayu timik-timik sudah ia lakukan secara mandiri ketika ia merasa berat badannya bertambah berlebihan. Dengan berjalannya waktu kebugaran tubuhnya kian membaik. Selanjutnya ia mulai mencari berbagai referensi tentang olah raga bagi lansia hingga ia menemukan jawaban tentang manfaat olah raga mlaku mlayu timik timik.
“Tiga tahun lalu saya merasa kegemukan dengan berat badan 86 kilogram. Lalu saya rutin jalan kaki setiap hari dan hasilnya berangsur-angsur membaik saat ini berat saya 73 kilogram. Kemudian saya sharing ke teman-teman lalu mereka setuju olah raga bareng hingga akhirnya terbentuk komunitas M2T ini pada pertengahan Juli 2026,” ungkap totok mengisahkan mula tercetusnya M2T.
Keanggotaan Gratis dan Sukarela
Terkait M2T, Totok menjelaskan ada teknik berjalan khusus yang membedakan dengan olah raga jalan atau lari jogging yang dikenal selama ini. Teknik slow jogging akan ditunjukkan saat latihan bersama berikut penjelasan ilmiah manfaatnya oleh instruktur dari Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Pada prinsipnya slow jogging itu berjalan dengan langkah pendek, saat melangkah bagian tengah kaki mendarat lebih dulu di tanah lalu diikuti bagian depan telapak kaki. Saat berjalan postur badan tegak tapi relaks, ayunan tangan alami, dan wajah santai. Nanti lebih detail akan dijelaskan instruktur coach Ali Ridho doctoral candidate FIKK Unesa,” terang pria alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu.
Cukup mengejutkan, kendati M2T baru terbentuk satu bulan, namun berkat kekuatan media sosial yang masif, komunitas yang dikoordinir Totok ini dengan cepat mendapat apresiasi masyarakat. Totok mengklaim sudah ada lebih 200 simpatisan yang bergabung dan ingin ikut aktivitas M2T.
“Segala umur bisa ikut M2T tidak hanya lansia, gratis, tidak ada iuran atau pungutan apapun, sifat keanggotaan sukarela dengan mengutamakan kebersamaan, kesehatan, dan kepedulian sosial,” tegas Totok meyakinkan.

Menyiapkan M2T Care sebagai Kepedulian Sosial
Senada dengan Totok, Co-founder M2T Didik menambahkan bahwa aktivitas M2T tidak hanya olahraga. M2T juga konsern dengan kesehatan dan juga kegiatan sosial bagi masyarakat dan khususnya para anggotanya.
Saat pertemuan rutin dua minggu sekali, M2T melakukan pemeriksaan kesehatan ringan oleh anggota yang berprofesi dokter. Di luar pertemuan, M2T sudah menyiapkan aplikasi yang menghimpun data kesehatan para anggotanya agar pengurus bisa ikut memantau atau memberikan info-info penting terkait kesehatan lansia.
“Pertemuan M2T dilaksanakan dua minggu sekali setiap hari Jumat pagi di lapangan KONI Surabaya. Namun tidak menutup kemungkinan olah raga bersama di luar kota jika dirasa perlu mencari pemandangan yang lebih fresh,” kata Didik.
Untuk tujuan sosial, M2T juga menggagas terbentuknya M2T Care. Hal itu dikarenakan belum lama ada anggota M2T yang kesusahan lantaran menjalani perawatan kesehatan yang intensif. Maka kepedulian sesama lansia menjadi sangat berarti bagi yang sakit.
“Kepedulian yang diberikan tidak selalu uang, bisa berupa sapaan, doa, kunjungan bezuk, bantuan fasilitas atau lobi jaringan layanan kesehatan, dan lain-lain. Kepedulian seperti itu bisa memberikan semangat dan penghiburan,” imbuh Didik. Diterangkan bahwa anggota M2T terdapat berbagai latar belakang mulai pensiunan PNS, purnawirawan TNI/Polri, pensiunan swasta, wirausahawan, dokter, dan lain-lain.
Selanjutnya Totok dan Didik mengajak masyarakat, khususnya para lansia untuk saling berinteraksi, bertukar pikiran, olah raga, supaya tetap sehat jasmani-rohani, penyakit berkurang, dan umur panjang.
“Wahai para lansia atau yang memasuki usia pensiun mari berkumpul dan berolahraga bersama dan menjadikan komunitas M2T sebagai wadah beraktivitas, sharing, penghiburan sekaligus membuat kita tetap aktif dan sehat,” pungkas Totok. (davia/red)
Tags: komunitas, lansia, mlaku mlayu timik timik, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





