Seni Melawan Stres di Balik Robot-Robot Logam di Wisma Jerman

Rudy Hartono - 16 February 2026
Robot Terminator  dari bahan rongsokan logam karya Henry Siswanto dipamerkan di Wisma Jerman Surabaya, Kamis (12/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Di buah bengkel mesin las, Henry Siswanto setiap hari bergulat dengan pesanan pagar dan kanopi rumah mewah. Di salah satu sudut bengkel terdapat banyak potongan besi tak terpakai, knalpot bekas, atau sisa plat logam yang bagi kebanyakan orang dianggap barang rongsokan.

Tapi di tangan Henry,  aneka material logam itu seakan menjadi potongan teka-teki dari imajinasi masa kecilnya yang terobsesi pada dunia game dan koleksi mainan. Dengan kepiawaiannya memotong, menyambung dan membentuk logam, Henry merubah material mati itu menjadi sosok-sosok robot yang gagah nan futuristik.

Belasan karya-karya seni etalase dari logam milik Hendri bertajuk “ESCape” dipamerkan di Wisma Jerman, Surabaya,  mulai 11-15 Februari 2026. Hendri tidak sendirian, ada perupa lain Rachmad Priyandoko yang juga sama-sama menekuni proses kreatif di sela aktivitas profesionalnya.

Sang Seniman Mecha robot Henry Siswanto (kanan) dan Rahmat Priandoko atau Cak Mat (kiri) di Wisma Jerman Surabaya, Kamis (12/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

Henry mengatakan untuk membuat satu karya etalase memerlukan ketekunan dan kesabaran.  Untuk satu karya besar bisa memakan waktu produksi hingga satu setengah bulan. Ia tidak bekerja sendirian, melainkan ada empat orang yang membantunya mewujudkan imajinasi tersebut. Dua orang pertama bertugas membangun struktur tubuh yang kokoh, sementara dua orang lainnya dengan teliti mengelas bagian zirah atau “armor” yang memberikan karakter pada sang robot. “Dibutuhkan waktu sebulan penuh untuk membentuk raga dasarnya, sebelum akhirnya menghabiskan minggu-minggu berikutnya untuk revisi dan penyempurnaan detail,” ungkap Henry saat diwawancarai Super Radio, Kamis (12/2/2026).

Ada kalanya, ide membuat suatu karya bisa berubah mendadak karena banyak faktor, salah satunya material yang tersedia sangat terbatas. Pernah suatu ketika, sebuah proyek awalnya dirancang untuk menjadi sosok Terminator, namun karena proporsi yang dirasa kurang pas di tengah jalan, Henry secara spontan mengubah obyek seninya. Ia membiarkan imajinasinya mengalir mengikuti ketersediaan barang bekas yang ada, hingga akhirnya lahir sosok robot lain yang tak kalah mengagumkan. Ketidaksengajaan ini justru memberikan nyawa unik pada setiap karyanya, sebuah keindahan yang lahir dari keterbatasan.

Inspirasi yang terpancar dari logam-logam besar Henry rupanya menular pada Rahmat Priandoko, yang akrab disapa Cak Mat. Berbeda dengan skala besar Henry, Cak Mat menemukan dunianya dalam benda-benda rumah tangga yang lebih bersahaja: tutup botol, plastik bekas, hingga jeroan pemutar kaset (tape) yang sudah usang.

Salah seorang pengunjung tertarik dengan Robot Barga karya Henry Siswanto  di Wisma Jerman Surabaya, Kamis (12/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

Sebagai seorang yang mengaku masih amatir, Cak Mat membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk menyelesaikan satu figur kecil. Setiap sambungan yang ia rakit adalah bukti ketekunan seorang pria yang mencoba menyeberangi jembatan antara hobi dan seni tiga dimensi.

Filosofi di balik gerakan kreatif ini terangkum dalam satu kata yang unik: “Escape”. Secara harfiah berarti melarikan diri, namun Cak Mat memplesetkannya dalam bahasa Jawa menjadi “Es Capek”. Baginya, “Es” melambangkan sebuah kesegaran, sementara “Capek” mewakili kelelahan setelah seharian bergelut dengan rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Merakit robot dari barang bekas menjadi sebuah oase, sebuah cara untuk keluar dari jerat stres dan jenuhnya tuntutan hidup, mengubah sisa-sisa produksi massal menjadi sesuatu yang memiliki jiwa kembali.

Detail tetap menjadi napas utama dalam setiap robot kecil yang ia ciptakan. Cak Mat dengan sabar mempelajari setiap sendi dan artikulasi agar karya-karyanya bisa berpose layaknya petarung yang sedang memegang senjata atau sekadar berdiri tegak. Ia harus memahami betul bagaimana memasang engsel agar bagian-bagian tersebut tidak hanya menempel, tapi juga fungsional. Di dalam tubuh robot mungil itu, roda gigi dari mesin pemutar kaset diselipkan sedemikian rupa sehingga menyerupai mesin internal yang rumit, memberikan kesan mekanis yang autentik meskipun hanya berbahan plastik bekas.

Dalam setiap prosesnya, Cak Mat memilih untuk melepaskan diri dari belenggu blueprint atau rancangan yang kaku. Ia membiarkan jemarinya menari secara spontan di atas tumpukan bahan bekas, mencocokkan satu bagian dengan bagian lainnya seolah sedang menyusun takdir baru bagi benda-benda tersebut. Baginya, jika harus mengikuti rancangan yang terlalu presisi, hobi ini justru akan berubah menjadi beban pekerjaan baru yang memicu stres. Spontanitas inilah yang memberikan kejutan di akhir cerita, di mana hasil jadi seringkali melampaui imajinasi awal yang ia bayangkan.

Sejumlah lukisan Robot Cimot karya Rahmat Priandoko atau akrab disapa Cak Mat di Wisma Jerman Surabaya, Kamis (12/2/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

Pekerjaan ini juga menjadi solusi ekonomi yang kreatif bagi Cak Mat. Daripada terus-menerus membeli mainan produksi massal yang harganya bisa menguras kantong dan mengganggu kebutuhan rumah tangga, ia memilih untuk menciptakan mainannya sendiri dari barang loakan. Dengan memanfaatkan sisa-sisa part mainan yang tidak terpakai atau barang-barang yang sudah dibuang, ia tidak hanya menghemat biaya tetapi juga menyelamatkan lingkungan dari tumpukan sampah plastik. Ini adalah bentuk protes kecil sekaligus perayaan atas kreativitas yang tidak harus selalu mahal.

Karya-karya luar biasa dari tangan-tangan kreatif ini kini menemukan panggungnya melalui kolaborasi dengan Wisma Jerman Surabaya. Wadah ini menjadi saksi bisu bagaimana rongsokan yang dulunya dipandang sebelah mata kini berdiri tegak sebagai karya seni yang memikat mata pengunjung. Kolaborasi ini membuktikan bahwa narasi tentang “pelarian” dari rasa lelah memiliki daya tarik emosional yang kuat, menghubungkan antara pekerja keras yang jenuh dengan dunia seni yang membebaskan.

Kisah Henry dan Cak Mat adalah pengingat lembut bahwa keindahan seringkali tersembunyi di tempat-tempat yang paling tidak terduga, seperti dalam tumpukan knalpot tua atau tutup botol yang terbuang. Di tangan mereka, “Escape” bukan lagi sekadar pelarian yang pasif, melainkan sebuah tindakan aktif untuk menciptakan dunia baru yang lebih segar. Mereka membuktikan bahwa menjadi seniman mungkin memang tidak gampang, namun dengan keberanian untuk mencoba, siapapun bisa mengubah rasa capek menjadi sebuah mahakarya yang abadi. (js/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.