Prasasti Cungrang Objek Ideal Belajar Aksara Jawa Kuna

Yovie Wicaksono - 20 December 2024
Pegiat Aksara Jawa Kuna dari komunitas AjaKami Sidoarjo studi ekskursi di Prasasti Cungrang di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Minggu (15/12/2024). (lia/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Sebanyak 12 pegiat Aksara Jawa Kuna yang tergabung dalam komunitas “AjaKami” Sidoarjo,   studi ekskursi belajar membaca aksara di batu prasasti Cungrang di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Minggu (15/12/2024).  Prasasti ini berada di tengah pemakaman umum Desa Bulusari, letaknya tidak jauh sekitar 1,5 kilometer dari akses jalan raya Sidoarjo-Malang.

Salah satu pengajar Aksara Jawa Kuna, Rif’atul Hasanah S.S, mengatakan  prasasti Cungrang merupakan tempat cukup ideal untuk belajar Akasara Jawa Kuna. Disamping lokasinya mudah diakses dengan kendaraan bermotor, tulisan yang dipahat pada prasasti sangat kaya aksara dan makna.

“Prasasti Cungrang ini sering dikunjungi kawan-kawan yang berminat dengan  epigraf, khususnya Aksara Jawa Kuna. Karena prasasti Cungrang ini salah satu peninggalan sejarah era zaman Mpu Sindok, yang merupakan prasasti in situ, maksudnya prasasti ini sedari awal ditemukan berada di lokasi ini,” kata alumnus Sastra Jawa Kuna Universitas Udayana itu.

Beberapa pegiat mencoba membaca aksara Jawa Kuna yang terukir di batu Prasasti Cungrang. (dok AjaKami)

Prasasti Cungrang diukir di atas batu berbentuk empat persegi panjang berdimensi: tinggi  126 cm, lebar 96 cm, dan tebal 22 cm. Di kedua sisi batu itu, depan dan belakang, semuanya  terdapat tulisan beraksara dan berbahasa Jawa Kuna.

Sayangnya, tidak semua aksara yang tertulis di prasasti itu bisa terbaca. Pasalnya, beberapa bagian sudah ‘rusak’, aus  atau rumpil oleh udara atau gesekan benda tumpul lainnya. Sehingga pegiat yang baru belajar Aksara Jawa Kuna mengalami kesulitan untuk mengalihaksarakan.

“Ternyata tidak mudah mengenali aksara yang ada di prasasti. Selain penampakkan aksara tidak jelas, motif aksara di prasasti juga berbeda dari tabel aksara yang dipelajari di kelas selama ini,” ungkap  Citra Murni, salah satu peserta studi ekskursi yang mengaku baru tiga bulan belajar Aksara Jawa Kuna.

Kendati hanya sedikit aksara yang bisa dibaca, namun sarjana Bahasa Inggris alumnus Universitas Negeri Surabaya itu tetap akan berusaha mempelajarinya sebagai pengetahuan untuk mengenali peninggalan sejarah bangsa. “Saya bersyukur bisa ketemu komunitas ini karena awalnya penasaran ingin tahu saja. Tapi setelah belajar beberapa lama, saya mulai paham bahwa keberadaan Aksara Jawa Kuna ini merupakan bukti sejarah yang tidak terbantahkan betapa tingginya budaya dan peradaban bangsa kita pada ratusan tahun lalu,” kata Citra yang mengajak serta anak gadisnya ke tempat bersejarah itu.

Tabel Aksara Jawa Kuna ada 32 huruf atau lebih banyak dibandingkan aksara Hanacaraka 20 huruf. (foto:lia/superradio.id)

Rif’a, pengajar Aksara Jawa Kuna, memaklumi jika Citra dan pegiat yang baru belajar,  masih sulit mengenali aksara yang ada di prasasti. Karena saat di kelas, pihak AjaKami memberikan pengenalan aksara berdasarkan tabel dan  juga mempelajari huruf yang disematkan pada logam dimana huruf-hurufnya terukir dengan lekuk dan motif yang lebih tegas. Sedangkan aksara di prasasti kebanyakan tidak terbaca karena faktor usia atau juga ketidaktahuan masyarakat sekitar prasasti.

“Sejatinya  huruf Aksara Jawa Kuna sangat dinamis di zamannya. Aksara yang kami temukan di candi-candi atau situs jika dicermati terdapat perbedaan motif dan bentuk satu dengan yang lain. Tapi  justru kesulitan dalam membaca Aksara Jawa Kuna menjadi hal menarik karena memicu kita untuk terus berdiskusi dan mungkin berdebat juga,” papar Rif’a.

Mengenai apa isi dari Prasasti Cungrang, dari beberapa sumber menyebut bahwa prasasti bertuliskan aksara Jawa Kuna ini dibuat Mpu Sindok sebagai  ucapan terima kasih kepada warga Dusun Cunggrang (sekarang Dusun Sukci) karena telah merawat pertapaan, prasada, dan pancuran air di Pawitra. Prasasti ini bertanda tahun 851 Saka atau 929 Masehi. Peneliti-peneliti arkeologi kerap mengaitkan prasasti ini dengan  dengan Petirtaan Belahan atau Candi Belahan yang lokasinya sekitar 7 kilometer dari Prasasti Cungrang.


Petirtaan atau Candi Belahan ini diduga berkaitan erat dengan isi dari Prasasti Cungrang yang dibuat  Raja Mpu Sindok kepada warga Desa Cunggrang (sekarang Desa Sukci). Petirtaan ini berada di sisi timur lereng Gunung Penanggungan, sekitar 7 kilometer dari Prasasti Cungrang. (foto:lia/superradio.id)

Pegiat Bersifat Volunteer

Lebih jauh dikatakan bahwa komunitas pegiat Aksara Jawa Kuna ini cukup tersebar di berbagai kota. Setidaknya ada di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, Malang, dan beberapa kota atau kabupaten lain. Kendati begitu jumlah pegiat yang paham Aksara Jawa Kuna tidak sebanyak pegiat Aksara Jawa Hanacaraka. Pasalnya, aksara Hanacaraka atau Honocoroko, sudah masuk ke kurikulum sekolah dasar di Jawa Timur sebagai mata pelajaran Bahasa Jawa.

Suasana belajar Aksara Jawa Kuna di Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo. (dok AjaKami)

“Ada banyak perbedaan Aksara Jawa Kuna dengan Hanacaraka, di antaranya jumlah aksara Jawa Kuna ada 32 huruf lebih banyak daripada aksara Hanacaraka sebanyak 20 huruf. Begitu juga lekuk-lekuk aksaranya juga berbeda. Aksara Jawa Kuna berkembang pada abad 8 Masehi hingga abad 15 Masehi sedangkan Hancaraka  berkembang setelah zaman itu,” papar Rif’a.

Pengajar lainnya, Didit menambahkan tentang komunitas “AjaKami” belajar Aksara Jawa Kuna, bahwa komunitas itu sudah terbentuk pada bulan Oktober 2022. Setiap tahun AjaKami membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar huruf Aksara Jawa Kuna. Hingga bulan Desember 2024 sudah ada empat angkatan  yang telah mengikuti program ini. “Setiap angkatan mengikuti kelas selama enam bulan dengan model belajar di kelas dan studi ekskursi ke lapangan ke candi atau situs sejarah lainnya,”kata pria berkacamata ini.

Ditegaskannya, bahwa selama belajar tidak dipungut biaya administrasi ataupun untuk instruktur. “Kami ini sifatnya volunteer.   Target kami ingin mengenalkan aksara jawa kuna kepada sebanyak-banyaknya orang, dan lebih senang jika anak muda juga ikut mempelajarinya. Jika minat belajar bersama, bisa cek ke akun instagram kami: @kelas_ajakami, ” pungkas Didit. (ton/red)

 

 

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.