Pentingnya Puasa Medsos saat Isoman. Ini Alasannya

Yovie Wicaksono - 2 August 2021
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto mengatakan, seseorang yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman) akibat terpapar Covid-19 akan cenderung mengalami kecemasan.

Oleh karena itu, ada baiknya jika mereka yang menjalani isoman dihindarkan dari informasi-informasi di media sosial (medsos) yang justru bisa membuat pikiran tidak tenang dan merugikan proses pemulihan itu sendiri. Terlebih saat ini, media sosial telah mengalami penyimpangan fungsi dari yang semestinya.

“Problem saat ini, media sosial itu kan dipenuhi dengan berita-berita dari oknum-oknum yang memancing di air keruh. Misalkan menyebarkan berita palsu, atau mencari situasi dengan hanya menonjolkan sisi yang jelek, bukan sisi yang positif dari suatu fenomena. Sehingga kalau berita-berita itu yang dikonsumsi memang betul bisa berimbas pada pikiran yang menjadi tidak tenang, menjadi beban pikiran saat isolasi mandiri. Sehingga akan merugikan pemulihan dari isoman itu sendiri,” kata Rahardanto, Senin (2/8/2021).

Selain merugikan proses pemulihan, terlalu sering menggunakan media sosial juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Ia mengatakan, orang yang aktif menggunakan gadget atau media sosial akan cenderung sulit fokus pada satu bidang dalam waktu yang lama.

Untuk itu, menurutnya penting melakukan puasa media sosial selama menjalani isolasi mandiri.

“Apakah perlu puasa medsos, jawaban saya adalah iya. Puasa dari berita-berita yang justru membuat pikiran menjadi takut, seperti informasi yang sifatnya negatif atau pemberitaan tentang Covid-19 yang negatif, seperti jumlah korban jiwa berapa,” ujar pria yang akrab disapa Danto ini.

Namun, ia menegaskan, dalam hal ini bukan berarti menutup diri dari berinteraksi dengan orang-orang untuk mendapatkan dukungan. Melainkan lebih fokus pada menjauhkan diri dari informasi-informasi yang justru memperburuk keadaan. Karena bagaimanapun di era modern ini, tidak memungkinkan untuk lepas dari gadget.

“Tapi jangan puasa dari medsos yang sifatnya menghubungkan dengan orang-orang diluar untuk memberikan dukungan sosial kepada orang yang isoman tersebut, Karena orang isoman itu terkurung dengan sosial, bahkan kadang-kadang karena tidak bisa keluar dia minta tolong ke tetangganya dibelikan vitamin, dan sebagainya,” ujarnya.

Disamping itu, jika pasien sudah mulai menjalani puasa media sosial, maka langkah selanjutnya adalah usaha dari orang terdekat agar membuatnya kembali fokus pada masa pemulihan. Karena bagaimanapun, sentuhan kemanusiaan yang tinggi, pada intinya akan terasa lebih bermakna dari sentuhan teknologi.

“Saya selalu teringat dengan kata-kata dari John McBeth, semakin tinggi sentuhan teknologi itu semakin tinggi pula perlunya sentuhan kemanusiaan. Artinya dalam kasus seseorang melaksanakan puasa medsos itu, akan sangat terbantu kalau dia tidak sendirian disitu, ada orang lain yang bisa diajak ngobrol, diajak curhat, itu akan membantu dia untuk transisi saat puasa medsos. Karena sekali lagi manusia itu pada intinya mahluk sosial dan selalu butuh untuk terkonek dengan orang lain,” imbuhnya.

Dengan menjalani puasa media sosial, maka orang tersebut dapat merasakan beberapa manfaat yakni, lebih fokus pada kegiatan yang sedang dilakukan, lebih peka atau sensitif pada keadaan sekitar, dan lebih stabil dalam menjaga emosi, serta tidak berlarut-larut terganggu dengan masa lalu.

“Ketika orang itu berhasil puasa medsos, menurut beberapa penelitian, dia sendiri akan lebih menghayati apa yang dialaminya saat ini, bisa lebih peka atau sensitif terhadap suhu udara, suara. Karena atensinya kembali ke here and now, disini saat ini, ini kemampuan konsentrasinya, ilmunya akan meningkat. Bahkan dalam beberapa kasus tertentu mereka bisa merasa lebih senang karena mereka benar-benar merasa perasaanya itu disini saat ini,” pungkasnya. (hk/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.