Pagar Remote hingga Robot Sederhana jadi Karya SD Santa Maria di Era Digital

Rudy Hartono - 22 May 2026
Siswa kelas 6 SD Santa Maria mendemonstrasikan karya robot dari barang bekas saat “Gelar Karya SD Santa Maria”

SR, Surabaya – Aula SD Santa Maria, Kamis (21/6/2026) tidak sekadar riuh suara anak-anak, melainkan semarak unjuk kreativitas dalam penerapan teknologi. “Gelar Karya SD Santa Maria” ada siswa yang mampu mengubah barang bekas menjadi robot, menguasi kode-kode digital menjadi perintah, dan inovasi berbasis teknologi lainnya.

Di atas meja-meja pajangan, bukan sekadar kerajinan tangan biasa yang terlihat, melainkan perangkat keras Arduino, kabel yang berkelindan, hingga sensor-sensor otomatis.

Adalah Asta, siswa kelas 6C, yang dengan cekatan mendemonstrasikan prototipe smart home miliknya. Dengan cekatan menjalakan papan Arduino Uno, lantas mengatur otomatisasi pagar dan lampu rumah hanya melalui kendali jarak jauh.

“Jadi kalau tombol dari remote ini dipencet, semisal minus ini untuk membuka pagar, kalau plus untuk menutup pagar. Ada juga sensor ultrasonic yang mendeteksi pergerakan dalam 20 cm untuk menyalakan lampu,” jelas Asta sambil memeragakan prototipe yang dibuatnya.

Miniatur rumah dengan remote controle pagar dan pintu yang bisa di buka lewat coding, karya siswa 6C SD Santa Maria saat “Gelar Karya SD Santa Maria” Surabaya, Kamis (21/5/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Asta mengaku kemampuannya mengulik kode tidak datang dari kursus mahal, melainkan dari kedekatan dengan sang ayah.  “Papa saya juga belajar dari situs-situs forum Arduino Unonya sendiri, jadi dilihat-lihat juga karena banyak forumnya. Papa saya coba-coba dulu terus saya diajarin,” ungkap Asta menceritakan peran ayahnya yang bekerja di bidang keuangan namun tekun belajar coding secara otodidak.

Siswa lainnya, Viel dan kelompoknya di kelas 6B, melakukan riset mandiri melalui platform yang sangat dekat dengan keseharian mereka, seperti TikTok dan YouTube. Mereka menghabiskan waktu satu setengah bulan untuk menyempurnakan proyek lampu lalu lintas dan mobil magnet mereka.

“Idenya kita cari-cari di TikTok karena kita sudah nemu yang sesuai kita baru bikin. Belajarnya dari YouTube dan juga materi yang sudah dipelajari dari kelas 5,” kata Viel yang menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi ruang laboratorium ide yang efektif.

Asta siswa kelas 6 SD Santa Maria Surabaya dengan keahlian coding pada pintu rumah. (foto: vico wildan/superradio.id)

Tidak menyangkanya, siswa-siswi SD Santa Maria cukup banyak yang menguasai aplikasi Assembler 3D. Beberapa di antaranya menunjukkan imajinasi mereka dalam menjangkau luar angkasa dengan menciptakan simulasi luar angkasa yang interaktif.

“Dibikinnya pakai website Assembler. Objek seperti Venus dan Jupiter memang sudah ada, tapi kita bisa mengatur posisinya agar bisa diputar-putar dan goyang seperti roket,” ujar salah satu siswa menjelaskan bagaimana ia mengonstruksi ruang angkasa dalam layar digital.

Beberapa karya yang dipamerkan itu membuktikan bahwa generasi Alpha di sekolah ini telah melompat jauh, mereka bukan lagi sekadar pengguna teknologi yang pasif, melainkan pencipta yang solutif.

Kepala Sekolah SD Santa Maria, Yunita Ike Christyowati MPd

Kepala Sekolah SD Santa Maria, Yunita Ike Christyowati MPd menegaskan bahwa seluruh karya ini adalah bagian dari Project-Based Learning (PJBL) yang berorientasi pada masalah nyata di masyarakat. Melalui gelar karya ini, siswa diajak untuk tidak hanya berteori, tapi memberikan solusi nyata.

“Ini bagian dari ujian mereka. Mereka mencari sendiri hal-hal apa yang ada di masyarakat, apa yang mereka temui, sehingga mereka menciptakan teknologi itu dari daur ulang,” ungkap Ike sapaan akrabnya,  dengan bangga.(21/5/2026)

Dikatakannya pendekatan pendidikan di SD Santa Maria memang dirancang untuk membawa siswa mendaki tangga kompetensi teknologi secara bertahap.

Theressa Septia Dana, guru IPAS kelas 6, menjelaskan bahwa kurikulum mereka membawa siswa dari pemahaman magnet sederhana hingga komponen elektrik yang kompleks. “Kami mengenalkan teknologinya dari tingkat rendah sampai tinggi. Level satu yang sederhana seperti magnet, level dua rangkaian elektrik, dan level lebih tinggi menggunakan komponen Arduino karena sudah menggerakkan sensor,” tutur guru yang akrab disapa Tere itu.

Dispenser digerakkan oleh sensor terbuat dari barang bekas hasil karya siswa SD Santa Maria Surabaya, Kamis (21/5/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Selain kematangan teknis dan  aspek karakter, keberanian berbicara di depan publik menjadi poin penting dalam pameran ini. Guru Bahasa, Leo Agung Bayu Wijanarka menilai pameran ini sebagai panggung pengasahan soft skill yang luar biasa bagi anak-anak kelas 6. “Public speaking mereka sangat penting untuk masa depan agar mereka dapat menyampaikan ide dengan jelas, konsepnya dapat, dan mereka tidak malu-malu lagi saat menjelaskan di depan umum,” pujinya.

Bagi guru yang akrab disapa Leo, kemampuan memahami konsep teknologi yang rumit lalu menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana adalah pencapaian literasi yang tertinggi. Di zaman di mana informasi seringkali hanya dibaca sekilas, kemampuan menjelaskan ulang adalah poin plus bagi siswa SD.

Di luar kemampuan teknis, orang tua siswa   juga senang dalam projek itu, lantaran kemandirian anak-anaknya semakin meningkat. Di antaranya soal pengelolaan manajemen anggaran, siswa diminta menyusun proposal anggaran mulai dari awal projek, keperluan teknis hingga saat pembuatan laporan.

“Menurut saya, projek ini keren. Siswa dituntut membuat proposal itu harus disebutkan dengan detail jelas, berapa angggaran yang dibutuhkan sampai nanti mereka membuat laporannya secara terdokumentasi. Ini sudah sudah seperti simulasi anak kuliah,” kata Ima, orang tua siswa yang mengamati proses kreatif anak kembarnya di kelas 6A dan 6C.

Sistem air mengalir dengan bantuan dinamo hasil karya siswa SD Santa Maria, Kamis (21/5/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Atas projek dan karya-karya yang dihasilkan, Kepala Sekolah SD Santa Maria, Ike  memastikan inovator cilik dapat meningkatkan kemampuannya di jenjang yang lebih tinggi. Sekolah memberi dukungan lintas jenjang agar siswa merasa memiliki ekosistem belajar yang mendukung inovasi mereka tanpa putus. Untuk itu, Ike juga menghadirkan guru-guru dari jenjang yang lebih tinggi untuk memberikan apresiasi langsung kepada para inovator cilik ini.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan di Santa Maria adalah jenjang yang berkelanjutan. Harapannya setelah melewati jenjang SD, siswa-siswi ini bisa meneruskan  ke SMP Santa Maria hingga lanjut  ke SMA,” pungkasnya. (js/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.